AR- RAZI

Standar

AR- RAZI

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Filsafat Islam

Dosen Pengampu : H.Darmuin, M.Ag

 

Disusun Oleh:

 

M.Riziq Mubarok                 (103111055)

Maftuh Ahnan                      (103111056)

Magfiroh                                (103111057)

Miftakhul Jannah                 (103111059)

Amri Khan                             (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

 

 

ARRAZI

    I.          PENDAHULUAN

Pembicaraan tentang filsafat Islam tidak bisa terlepas dari pembicaraan filsafat secara umum. Berfikir filsafat merupakan hasil usaha menusia yang berkesinambungan di seluruh jagad raya ini. Akan tetapi, berfikir filsafat dalam arti berpikir bebas dan mendalam atau radikal yang tidak dipengaruhi oleh dogmatis dan tradisi disponsori oleh filosof-filosof Yunani.

Dalam filsafat Islam para filosof muslim memadukan antara agama dan filsafat. Para ilmuan muslim terdahulu sesungguhnya memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan kajian tentang filsafat. Dalam makalah ini akan dibahas tentang salah satu filosof muslim yang sangat berjasa pada masa itu yaitu Ar-Razi. Baik mengenai sejarah lahir dan karya-karyanya, ajaran lima yang kekal, serta tentang filsafat-filsafatnya

 

  1. II.          RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Sejarah Lahir Ar Razi dan Karya-Karyanya?
    2. Bagaimana Filsafat Ar Razi?
    3. Bagaimana Akal, Kenabian dan Wahyu Menurut Ar Razi?

 

  1. III.          PEMBAHASAN
    1. A.  Sejarah Lahir dan Karya-Karya Ar Razi

Ar Razi adalah seorang filosof muslim yang mempunyai nama lengkap Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ibnu Yahya Ar Razi. Dalam wacana keilmuan barat ia dikenal dengan sebutan Rhazes. Ia dilahirkan di Rayy, sebuah kota tua yang pada masa lalu bernama Rhogee, dekat Teheran, Republik Islam Iran pada tanggal 1 Sya’ban 251 H/ 865 M.[1]

Pada masa mudanya ia pernah menjadi tukang intan, penukar uang, dan pemain kecapi. Kemudian, ia menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu kimia dan pada usia tiga puluh tahun ia meninggalkan ilmu kimia setelah matanya terserang penyakit akibat eksperimen-eksperimen yang dilakukanya. Setelah itu, ia beralih dan mendalami ilmu kedokteran dan filsafat.[2] Konon pada masa tuanya ia pun buta dan menolak untuk dilakukan operasi sewaktu dia mengetahui bahwa ahli bedah ( Surgeon) yang akan melakukan operasi itu tidak mampu menjelaskan tentang jumlah selaput pada biji mata. Sewaktu didesak untuk melakukan operasi, karena mungkin akan berhasil, ia pun tetap menolak sambil berkata bahwa dia telah banyak menyaksikan dunia dan telah muak terhadapnya.[3]

Ar-Razi terkenal sebagai seorang dokter yang dermawan, penyayang kepada pasien-pasienya, karena itu ia sering memberikan pengobatan cuma-cuma kepada orang-orang miskin.[4]

Ia belajar ilmu kedokteran kepada ibn Rabban al-Thabari, dan kemungkinan juga ilmu filsafat. Di kota kelahirannya, Al-Razi terkenal sebagai dokter. Karena itu, ia memimpin rumah sakit di Rayy ketika Mansur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn Asad menjadi gubernur Rayy, dari

Tahun 290-296H/ 902-908M, atas nama kemenakannya Ahmad ibn Ismail ibn Ahmad, sebagai pemerintah Samaniah kedua. Razi menulis kitab Al-Tibb Al-Mansur untuk dipersembahkan kepada Mansur ibn Ishaq ibn Ahmad. Ia menjadi Direktur Rumah Sakit Baghdad pada pemerintahan Khalifah Al Muktafi. Setelah Al Muktafi meninggal, ia kembali ke kota kelahiranya, kemudian ia berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain dan meninggal dunia pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/ 27Oktober 925 M dalam usia 60 tahun.[5]

Disiplin ilmu Ar Razi meliputi ilmu falak, matematika, kimia, kedokteran dan filsafat. Ia lebih dikenal sebagai ahli kimia dan ahli kedokteran dibanding sebagai seorang filosof.[6]

KARYA-KARYANYA

Ar Razi termasuk filosof yang rajin belajar dan menulis sehingga tidak mengherankan ia banyak menghasilkan karya tulis. Dalam autobiografinya pernah ia katakan, bahwa ia telah menulis tidak kurang dari 200 buah karya tulis dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Karya tulisnya dalam bidang kimia yang terkenal ialah Kitab al Asrar yang diterjemahkan kedalam bahasa latin oleh Geard fo Cremon.

Dalam bidang medis, karyanya yang terkenal adalah Al Hawi yang merupakan ensiklopedia ilmu kedokteran, diterjemahkan kedalam bahasa latin dengan judul Continens yang tersebar luas dan menjadi buku pegangan utama di kalangan kedokteran Eropa sampai abad ke-17 M. Bukunya di bidang kedokteran juga ialah al Mansuri liber al-Mansoris 10 jilid disalin kedalam bahasa barat sampai akhir abad XV M. Kitab Al Judar wa al Hasbah tulisanya yang berisikan analisis tentag penyakit cacar dan campak beserta pencegahanya, diterjemahkan oleh orang kedalam bahasa barat dan terakhir diterjemahan kedalam bahasa Inggris tahun 1847, dan dianggap buku bacaaan wajib ilmu kedokteran barat. Kemudian, bukunya yang lain ialah at Thibb ar Ruhani , as Sirah al falsafah, dan lainya. Sebagian karya tulisnya telah dibukukan menjadi satu kitab yang bernama Ar Rasa’il Falsafiyyat.[7]

Ibnu Abi Ushaibiah menyebutkan beberapa buku yang berkaitan dengan psikologi, yaitu, Kitab Kaabir fi an Nafs, Kitab Saghir fi an Nafs, Kitab fi an Nafs Laisat bi Jism, Kitab fi an Nafs al Mughtarrah, Kitab fi an Nafs al Kabirah, Kitab fi al Farq Baina ar Ru’ya al Mundzirah wa Baina Sa’iri Dhurub ar Ru’ya, dll.[8]

  1. B.  Filsafat Ar-Razi

Filsafat Al-Razi terutama diwarnai oleh doktrinnya tentang lima kekekalan. Al-biruni ,mengatakan bahwa muhammad ibn zakaria al-razi telah melaporkan kekekalan lima hal dari yunani kuno, yaitu: Tuhan, Jiwa Universal, Materi Pertama, Ruang Absolut, dan Zaman Absolut, lima hal ini menjadi landasannya. Tetapi ia membedakan antara Zaman dan keberlangsungan dengan mengatakan bahwa angka berlaku bagi satu dan bukan yang lain, karena keterbatasan berkaitan dengan keangkaan; karena itu para filosof mendefinisikan Zaman sebagai keberlangsungan yang terawal dan berakhir, sedang keberlangsungan (dahr) tidak berawal dan berakhir.[9]

Bagi benda (being) kelima ajaran yang kekal hal ini ada: (1) Materi, merupakan apa yang ditangkap dengan pancaindera tentang benda itu. (2) Ruang, karena materi mengambil tempat. (3) Zaman, karena materi berobah-obah keadaannya. (4) Diantara benda-benda ada yang hidup dan oleh karena itu perlu ada roh. Dan diantara yang hidup ada pula yang berakal yang dapat mewujudkan ciptaan-ciptaan yang teratur. (5) Semua ini perlu ada pencipta Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.

Dua dari yang lima kekal itu hidup dan aktif, Tuhan dan Roh. Satu dari padanya tidak hidup dan pasif yaitu materi, dua lainnya tidak hidup dan tidak aktif, dan tidak pula pasif, ruang dan masa. [10]

Materi atau benda pertama terdiri dari atom-atom.masing-masing atom tadi memiliki volume. Tanpa adanya penggabungan dari atom-atom tadi tak akan ada sesuatu yang terwujud. Atom-atom mempunyai sifat sendiri bila padat ia akan menjadi tanah, kalau kurang padat akan menjadi air, bila lebih jarang ia akan menjadi udara dan akhirnya kalau paling jarang akan menjadi api. Oleh karena materi pertama itu kekal maka membutuhkan ruang yang sifatnya kekal juga, sebab tidak mungkin yang kekal itu berada di dalam yang nisbi. Menurut ar-razi ruang ada dua macam yaitu ruang absolut dan ruang relatif. Waktu pun menurutnya dibagi menjadi dua macam, yaitu waktu absolut dan waktu yang terbatas.

Materi adalah kekal, karena creatio ex nihilo (penciptaan dari tiada) merupakan suatu hal yang tak mungkin. Kalau materi kekal, ruang mesti kekal; karena materi tak boleh tidak mesti bertempat dalam ruang. Karena materi mengalami perubahan, dan perubahan menandakan zaman, maka zaman mesti kekal pula kalau materi kekal. Alam ini di ciptakan tuhan dengan suatu tujuan. Semula ia tidak berkehendak untuk menciptakannya, namun kemudian kehendak itu ada. Kalau demikian tentu ada yang mendorongnya. Sudah barang tentu pendorong itu harus abadi bisa merupakan sebab dari yang hidup tetapi dungu. Karena menyadari kebodohannya jiwa tertarik pada benda agar dapat memperoleh kesenangan material. Melihat nasib jiwa yang demikian ini. Menurut Ar-Razi Tuhan itu maha bijaksana. Hidup ini keluar dari-nya sebagai sinar terpancar dari sang surya. Tuhan tahu tentang sifat jiwa yang cenderung bersatu dengan benda dan mencari kelezatan material. Setelah jiwa bergabung dengan tuhan kemudian mengatur hubungan tersebut dengan harmonis. Yaitu dengan jalan melimpahkan akal kedalam jiwa.[11]

  1. C.  Akal, Kenabian, dan Wahyu

Al-Razi adalah sorang rasionalis murni. Ia mempercayai hanya akal, dibidang kedokteran, studi klinis yang dilakukannya. Pemujaan Al- Razi terhadap akal tampak sangat jelas pada halaman pertama dari bukunya Al-Tibb Al-Ruhani. Ia mengatakan “ Tuhan, segala puji bagi-Nya, yang telah memberikan akal agar dengannya kita dapat  memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat; inilah karunia terbaik Tuhan kepada kita. Dengan akal kita dapat melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik. Dengan akal kita dapat mengetahui yang gelap, yang jauh, dan yang tersembunyi dari kita, dengan akal pula, kita dapat memperoleh pengetahuan tertinggi yang dapat kita peroleh. Jika akal sedemikian mulia dan penting, maka kita tidak boleh melecehkannya; kita tidak boleh menentukannya, sebab ia adalah penentu, atau mengendalikannya, sebab ia adalah pengendali, atau memerintahnya, sebab ia adalah pemerintah; tetapi kita harus merujuk kepadanya dalam segala hal dan menentukan segala masalah dengannya; kita harus sesuai dengan perintahnya’’. Bahkan pikiran paling rasional pun tak akan memuji sejelas dan setinggi itu. Tiada tempat bagi wahyu atau intuisi mistis. Hanya akal logislah yang merupakan kriteria tunggal pengetahuan dan perilaku. Tak ada kekuatan irasional dapat dikerahkan. Al-Razi menentang kenabian, wahyu, kecenderungan berpikir irasional.[12]

Nabi-nabi, menurut pendapatnya, membawa kehancuran bagi manusia, dengan ajaran-ajaran mereka yang saling bertentangan. Bahkan ajaran-ajaran itu menimbulkan perasaan benci-membenci di antara umat manusia yang terkadang meningkat menjadi peperangan agama. Semua agama ia kritik. Orang tunduk pada agama, menurut pendapatnya, karena tradisi, kekuasaan yang ada pada pemuka-pemuka agama, dan karena tertarik pada acara-acara yang mempengaruhi jiwa rakyat yang sederhana dalam pemikiran. Qur’an baik dalam bahasa dan gaya maupun dalam isi tidak merupakan mu’jizat. Al-Razi lebih mementingkan buku falsafah dan ilmu pengetahuan dari pada buku-buku agama. Tetapi sungguhpun ia menentang agama pada umumnya, ia bukanlah seorang ateis, malahan seorang monoteis yang percaya pada adanya Tuhan, sebagai penyusun dan mengatur alam ini.

Al-Razi adalah filolosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya sungguhpun itu bertentangan dengan faham yang dianut umat Islam yaitu:

  1. Tidak percaya pada wahyu
  2. Qur’an tidak mu’jizat
  3. Tidak percaya pada Nabi-nabi
  4. Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan.[13]

Untuk melihat pendiriannya mengenai hubungan jiwa dengan ketertiban dunia. Al-Razi mengibaratkan tata tertib dunia sebagai sebuah cermin bagi jiwa. Dari cermin inilah pengetahuan dipancarkan. Nafs bersifat keduniawian yang meninggalkan rohani dan memiliki akal melakukan aktifitas filsafat. Dengan aktivitas ini tata tertib dunia ditemukan. Setelah tatatertib dunia ditemukan, ia enjadi cermin bagi nafs untuk menemukan realita. Sayang Al-Razi tidak mengakui sumber-sumber pengetahuan lain seperti Al-Qur’an; dengan demikian karyanya lebih banyak mendapat kecaman dari pada dipelajari oleh filsuf-filsuf Islam yang lain, kita pun menerima sedikit sekali warisan dari padanya.[14]

  1. IV.          KESIMPULAN

Al-Razi tidak memiliki sistem filsafat yang teratur, tetapi melihat masa hidupnya, ia mesti dipandang sebagai pemikir yang tegar dan liberal di dalam Islam, dan mungkin di sepanjang sejarah pemikiran manusia.

Bagi benda (being) kelima ajaran yang kekal hal ini ada: (1) Mater,i (2) Ruang, (3) Zaman, (4) Diantara benda-benda ada yang hidup dan oleh karena itu perlu ada roh, (5) Semua ini perlu ada pencipta Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.

Al-Razi adalah filolosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya sungguhpun itu bertentangan dengan faham yang dianut umat islam yaitu:

  1. Tidak percayaya pada wahyu
  2. Qur’an tidak mu’jizat
  3. Tidak percaya pada nabi-nabi
  4. Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak  berakhr selain tuhan.

Ia adalah seorang rasionalis murni, sangat mempercayai kekuatan akal, bebas dari segala prasangka, dan sangat berani dalam mengemukakan gagasan-gagasannya tanpa tedeng aling-aling. Ia mempercayai manusia, kemajuan, tuhan mahabijak, tetapi ia tidak mempercayai agama manapun.

  1. V.          PENUTUP

Demikianlah makalah ini kami buat. Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami dimasa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amien, Miska Muhammad, Epistemologi Islam Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam, (Penerbit UI press, 1983), Cet. I

Horrasowitz, Otto, Para filosof muslim, terj. M.M. Syarif (Bandung:  Penerbit Mizan, 1985 )

Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973)

Najati, Muhammad Usman, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, terj.GaziSaloom, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002)

Sou’yb, Yoesoef, Pemikiran Islam Merobah Dunia, ( Bandung: Firma Madju, 1984)

Sudarsono, Filsafat Islam,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), cet.I

Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2009)

 


[1] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm.113

[2] Ibid., hlm.113-114

[3] Yoesoef Sou’yb, Pemikiran Islam Merobah Dunia, ( Bandung: Firma Madju, 1984), hlm. 72

[4] Ibid., hlm.114-115

[5] Op.Cit., hlm. 115

[6] Ibid.

[7] Ibid., hlm.116

[8] Muhammad Usman Najati, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, terj.GaziSaloom, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hlm.41

[9]Otto Horrasowitz, Para filosof muslim, terj. M.M. Syarif (Bandung:  Penerbit Mizan, 1985 )

, hlm.41

[10] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm.22

[11] Sudarsono, Filsafat Islam,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), cet.I, hlm.59-60

[12] Otto Horrasowitz, Op.Cit., hlm.37-38

[13] Harun nasution, Op.Cit., hlm.24-25

[14] Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam,

(Penerbit UI press, 1983), Cet. I. Hlm.47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s