HUKUM SOLAT MENGHADAP KIBLAT SECARA TIDAK TEPAT

Standar

HUKUM SOLAT MENGHADAP KIBLAT

SECARA TIDAK TEPAT

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Masail al-Fiqhiyah al-Haditsah

Dosen Pengampu: Amin Farih, M. Ag

 

 

 

Disusun oleh:

 

Amri Khan                             (103111109)

Anis Maulida Fitriyana        (103111012)

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

HUKUM SOLAT MENGHADAP KIBLAT

SECARA TIDAK TEPAT

     I.          PENDAHULUAN

Umat manusia diciptakan oleh Allah  SWT tidak lain hanyalah untuk berbakti dan menyembah-Nya. Sebagai wujud pengabdian terhadap Allah SWT yang telah menciptakan manusia salah satunya dengan menunaikan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-Nya. Diantaranya adalah solat yang merupakan ibadah pokok yang harus dijalankan.

Solat mempunyai beberapa kaidah-kaidah yang harus dipahami terlebih dulu sebelum kita menunaikannya. Syarat sah solat merupakan salah satunya dan diantara syarat sah solat yang masih menjadi perbincangan bahkan seringkali diperdebatkan adalah menghadap kiblat.

Kiblat sebagai tumpuan umat Islam dalam mengerjakan ibadah solat yang kini menjadi kontrofersi dari berbagai kalangan yang menyebabkan kebingungan pada masyarakat awam dan bertanya-tanya mengenai hukum solat menghadap kiblat secara tidak tepat.

Pada makalah ini akan sedikit dibahas mengenai masalah fiqhiyah yaitu: hukum solat menghadap kiblat secara tidak tepat.

  II.          RUMUSAN MASALAH

  1. A.  Bagaimana Sejarah dan Pengertian Kiblat ?
  2. B.  Bagaimana Hukum Solat yang Menghadap Kiblat Secara Tidak Tepat ?

 

  1. III.          PEMBAHASAN MASALAH
    1. A.  Sejarah dan Pengertian Kiblat

Kiblat berarti arah. Arah kiblat orang muslim sedunia adalah Ka’bah.[1] Ka’bah berasal dari bahasa arab, yang artinya rumah yang bersegi empat, sedangkan menurut istilah agama, ka’bah  ialah Rumah Tuhan yang berada di kota Mekah, tempat orang Islam melakukan ibadah tawaf, sa’i, umroh, haji, solat, dan ibadah- ibadah lainnya. Karena itu ka’bah juga sering disebut Baitullah (rumah Allah) atau Baitul Haram (rumah suci) dan juga disebut Baitul ‘Atiq (rumah kemerdekaan), karena dapat memerdekakan atau membebaskan manusia dari api neraka, kalau ia benar-benar bertaubat di tempat yang suci itu. Di dalam Al-Qur’an, ka’bah juga disebut Masjidil Haram, karena ka’bah yang menjadi kiblat solat bagi umat Islam di seluruh dunia berada di kompleks Masjidil Haram.

Ka’bah atau Baitul Haram yang menjadi kiblat solat umat Islam seluruh dunia adalah rumah ibadah yang pertama-tama didirikan oleh manusia di muka bumi ini, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ali Imron: 96,

¨bÎ)tA¨rr&;MøŠt/yìÅÊãrĨ$¨Y=Ï9“Ï%©#s9sp©3t6Î/%Z.u‘$t7ãB“Y‰èdurtûüÏJn=»yèù=Ïj9ÇÒÏÈ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.[2]

Orang yang pertama-tama mendirikan Ka’bah itu adalah Nabi Ibrohim dan putranya, Ismail. Dan setelah beberapa abad kemudian, barulah Baitul Maqdis yang berada di Yerussalem, Palestina didirikan oleh Nabi Sulaiman sekitar 800 tahun sebelum Masehi menurut Muhammad Abduh, sedangkan menurut sumber-sumber lain, bahwa pembangunan Baitul Maqdis selesai sekitar tahun 1005 SM.[3]

Seperti pada Hadis berikut: Malik telah menceritakan kepada kami dari Abdullah Ibnu Dinar yang menceritakan:

بَيْنَمَا النَّاسِ بِقُباَءِ فِي صَلَاةِ الصُبْحِ اِذْ اَتَاهُمْ اَتٍ, فَقَالَ اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص . م. قَدْ اَنْزَلَ عَلَيْهِ الَّليْلَةُ قُرْاَنٌ وَقَدْ اُمِرَ اَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبَلُوْاهَا وَكاَنَتْ وُجُوْهُ النَّاسِ اِلَى الشَّامِ, فَاسْتَدَارُوْا اِلَى الْكَعْبَةِ

Ketika orang-orang berada di masjid Quba sedang mengerjakan solat subuh, tiba-tiba ada seseorang yang datang, lalu mengatakan: sesungguhnya Rasulullah SAW. Telah menerima wahyu tadi malam, wahyu itu memerintahkan agar beliau menghadap ke arah Kiblat, maka mereka menghadap ke arah kiblat, sebelum itu orang-orang menghadapkan diri ke arah negeri Syam (Baitul Maqdis), lalu mereka berputar menghadap  ke arah ka’bah.[4]  

 

  1. B.  Hukum Solat yang Menghadap Kiblat Secara Tidak Tepat
  2. 1.    Ijtihad Para Ulama’

Merupakan kewajiban bagi setiap orang yang mengerjakan solat baik solat fardhu, sunah, salat jenazah, atau sujud syukur dan sujud tilawah untuk menghadap kiblat kecuali dalam dua keadaanyang merupakan rukhshoh dari Allah SWT. [5] yaitu seperti pada dalil berikut: Q. S An Nisa’ 101-102

#sŒÎ)ur÷Läêö/uŽŸÑ’ÎûÇÚö‘F{$#}§øŠn=sùö/ä3ø‹n=tæîy$uZã_br&(#rçŽÝÇø)s?z`ÏBÍo4qn=¢Á9$#÷bÎ)÷LäêøÿÅzbr&ãNä3uZÏFøÿtƒtûïÏ%©!$#(#ÿrãxÿx.4¨bÎ)tûï͍Ïÿ»s3ø9$#(#qçR%x.ö/ä3s9#xr߉tãÇÊÉÊÈ$YZÎ7•B#sŒÎ)ur|MZä.öNÍkŽÏù|MôJs%rsùãNßgs9no4qn=¢Á9$#öNà)tFù=sù×pxÿͬ!$sÛNåk÷]ÏiBy7tè¨B(#ÿrä‹äzùu‹ø9uröNåktJysÎ=ó™r&#sŒÎ*sù(#r߉yÚy™(#qçRqä3uŠù=sù`ÏBöNà6ͬ!#u‘urÏNùtGø9urîpxÿͬ!$sÛ2”t÷zé&óOs9(#q=|Áãƒ(#q=|Áã‹ù=sùy7yètB

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

 Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu [6]

Ulama’ telah sepakat bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sahnya Solat. Sebagaimana Firman Allah SWT: ô

‰s%3“ttR|==s)s?y7Îgô_ur’ÎûÏä!$yJ¡¡9$#(y7¨YuŠÏj9uqãYn=sù\s#ö7Ï%$yg9|Êös?4ÉeAuqsùy7ygô_urtôÜx©Ï‰Éfó¡yJø9$#ÏQ#tysø9$#4ß]øŠymur$tBóOçFZä.(#q—9uqsùöNä3ydqã_ãr¼çntôÜx©3¨bÎ)urtûïÏ%©!$#(#qè?ré&|=»tGÅ3ø9$#tbqßJn=÷èu‹s9çm¯Rr&‘,ysø9$#`ÏBöNÎgÎn/§‘3$tBurª!$#@@Ïÿ»tóÎ/$£Jtãtbqè=yJ÷ètƒÇÊÍÍÈ

Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.[7]

Ayat tersebut secara mutlak memerintahkan untuk menghadap kiblat setiap solat. Lebih lanjut madzhab Maliki dan Hanafi memberikan batasan bahwa syarat menghadap kiblat ketika kondisi aman dari musuh, binatang buas dan ada kemampuan untuk melakukannya. [8]

Imam Syafi’i berkata: pertama, setiap orang yang sanggup menyaksikan dan melihat rumah suci itu: yaitu penduduk Mekkah, orang yang berada di dalam masjidnya, atau bertempat tinggal di lokasi itu, baik di perbukitan maupun tempat yang rata, maka bagi mereka harus menghadap rumah suci dengan arah yang benar, karena ia dapat melihat rumah suci dengan kasat mata. [9]

Kedua, orang buta, namun ia diarahkan oleh orang lain menghadap ke rumah suci, maka solatnya sah. Tidak boleh baginya solat, sementara ia tidak melihat tanpa diarahkan ke kiblat oleh orang lain. Namun apabila ia tidak menemukan seseorang yang mengarahkannya, maka ia boleh melakukan solat, tetapi ia harus mengulangi kembali solatnya karena ia tidak yakin benar bahwa ia telah menghadap kiblat.

Apabila ia dapat melihat dan hendak melaksanakan solat pada tempat yang gelap, lantas ia berijtihad untuk menentukan kiblat lalu ia mengetahui bahwa ijtihadnya keliru, maka ia harus mengulangi solatnya kembali, karena ia harus meninggalkan prasangkaan kepada pengetahuan yang sempurna.

Setiap orang yang berada di mekkah namun tidak dapat melihat langsung ke arah rumah suci, atau setiap orang yang bertempat tinggal di luar Makkah, jika ia hendak mengerjakan solat, maka ia harus berusaha dengan sungguh-sungguh mencari arah kiblat dengan menggunakan petunjuk-petunjuk.[10]   

Di dalam kitab Al Wasit fil Fiqhil Ibadah, menghadap kiblat ketika mampu dan dalam keadaan aman adalah hal yang harus dilakukan dan dijadikan sebagai sandaran sahnya salat. Hal ini berlaku jika posisinya dekat dengan ka’bah dimana fisik ka’bah dapat dilihat. Sedangkan jika jauh dari ka’bah maka pendapat yang rajih (unggul) adalah pendapat yang dikatakan oleh mayoritas ulama’ bahwa yang di tuntut adalah menghadap ke arah ka’bah bukan menghadap ke arah bentuk fisik ka’bah, merujuk pada Hadis Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

Antara bumi belahan Timur dan Barat adalah Kiblat[11]

Penjelasan dalam Hadis ini berlaku untuk penduduk Madinah dan Negeri-negeri yang berhadapan dengannya. Negeri-negeri lainpun mempunyai hukum seperti itu, sehingga negeri-negeri yang berada di Timur kiblatnya adalah antara arah Selatan dan Utara, begitu juga negeri yang berada di arah Barat .[12]

Jika seseorang yakin bahwa ijtihadnya salah, maka menurut madzhab Hanafi dan madzhab Hambali, jika itu terjadi dalam solat, hendaknya ia memutar arah dan tetap menyempurnakan prosesi solatnya, meskipun antara rokaat yang satu dengan yang lainnya berbeda arah. Namun, jika dia tahu akan kesalahan itu setelah menunaikan solat, maka solatnya dianggap sempurna dan tidak ada kewajiban untuk mengulanginya.

Menurut madzhab Maliki, jika hasil ijtihad dari mujtahid jelas-jelas salah, baik yakin atau sekedar prasangka, ketika tengah-tengah solat, hendaknya ia segera menghentikan solatnya, dan mengulangnya dengan diawali iqomah. Tidak cukup hanya sekedar memutar arah kiblat.

Menurut madzhab Syafi’i, jika seseorang meyakini kesalahan ijtihad, baik ketika solat atau setelahnya, maka ia harus mengulangnya mulai dari awal. Karena ia yakin betul akan kesalahan yang terjadi.[13]

  1. 2.    Metode-metode Penentuan Arah Kiblat

Dalam persoalan penentuan arah kiblat, juga tidak tampak adanya dikotomi madzhab hisab dengan madzhab ru’yah. Walaupun ditilik dari lintasan sejarah, cara penentuan arah kiblat di Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Islam Indonesia itu sendiri. Secara konkret, hal ini tampak seperti ketika terjadi perubahan arah kiblat Masjid Agung Kauman Kota Yogyakarta pada masa KH. Ahmad Dahlan dan dapat kita lihat pula dari alat-alat yang dipergunakan untuk mengukurnya, seperti: bencet atau miqyas atau tongkat Istiwa’, kompas, dan lain-lain. Selain itu perhitungan yang dipergunakan juga mengalami perkembangan, baik mengenai data koordinat maupun sistem ilmu ukurnya. Maka dapat disimpulkan bahwa metode atau cara penentuan arah kiblat dapat dipilah dalam dikotomi metode klasik dan metode modern yang akhirnya mengarah pada pengkristalan dalam simbolisasi madzhab hisab dan madzhab rukyah.[14]

  1. a.    Konsep Ijtihad dalam menentukan Arah Qiblat

Kesemua empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali telah bersepakat bahwa menghadap kiblat salah satu merupakan syarat sahnya shalat. Bagi Mazhab Syafi’i telah menambah dan menetapkan tiga kaidah yang bisa digunakan untuk memenuhi syarat menghadap kiblat yaitu:

1)   Menghadap Kiblat Yakin (Kiblat Yakin)

Seseorang yang berada di dalam Masjidil Haram dan melihat langsung Ka’bah, wajib menghadapkan dirinya ke Kiblat dengan penuh yakin. Ini yang juga disebut sebagai “Ainul Ka’bah”. Kewajiban tersebut bisa dipastikan terlebih dahulu dengan melihat atau menyentuhnya bagi orang yang buta atau dengan cara lain yang bisa digunakan misalnya pendengaran. Sedangkan bagi seseorang yang berada dalam bangunan Ka’bah itu sendiri maka kiblatnya adalah dinding Ka’bah.

2)   Menghadap Kiblat Perkiraan (Kiblat Dzan)

Seseorang yang berada jauh dari Ka’bah yaitu berada diluar Masjidil Haram atau di sekitar tanah suci Mekkah sehingga tidak dapat melihat bangunan Ka’bah, mereka wajib menghadap ke arah Masjidil Haram sebagai maksud menghadap ke arah Kiblat secara dzan atau kiraan atau disebut sebagai “Jihadul Ka’bah”. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan bertanya kepada mereka yang mengetahui  seperti penduduk Makkah atau melihat tanda-tanda kiblat atau “shaff” yang sudah dibuat di tempat–tempat tersebut. [15]

3)   Menghadap Kiblat Ijtihad (Kiblat Ijtihad)

Ijtihad arah kiblat digunakan seseorang yang berada di luar tanah suci Makkah atau bahkan di luar negara Arab Saudi. Bagi yang tidak tahu arah dan ia tidak dapat mengira Kiblat sebagai Arah Kiblat.  Namun bagi yang dapat mengira maka ia wajib ijtihad terhadap arah kiblatnya. Ijtihad  dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dari suatu tempat yang terletak jauh dari Masjidil Haram. Diantaranya adalah ijtihad menggunakan posisi rasi bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam dan perhitungan segitiga bola maupun pengukuran menggunakan peralatan modern.

Bagi lokasi atau tempat yang jauh seperti Indonesia, ijtihad arah kiblat dapat ditentukan melalui perhitungan falak atau astronomi serta dibantu pengukurannya menggunakan peralatan modern seperti kompas, GPS, theodolit dan sebagainya. Penggunaan alat-alat  modern ini akan menjadikan arah kiblat yang kita tuju semakin tepat dan akurat. Dengan bantuan alat dan keyakinan yang lebih tinggi maka hukum Kiblat Dzan akan semakin mendekati Kiblat Yakin. Dan sekarang kaidah-kaidah pengukuran arah kiblat menggunakan perhitungan astronomis dan pengukuran menggunakan alat-alat modern semakin banyak digunakan secara nasional di Indonesia dan juga di negara-negara lain. Bagi orang awam atau kalangan yang tidak tahu menggunakan kaidah tersebut, ia perlu taqlid atau percaya kepada orang yang berijtihad.

  1. b.   Tehniq penentuan arah kiblat

1)   Perhitungan / Hisab Arah Kiblat

Koordinat Posisi Geografis

Setiap lokasi di permukaan bumi ditentukan oleh dua bilangan yang menunjukkan kooordinat atau posisinya. Koordinat posisi ini masing-masing disebut Latitude (Lintang) dan Longitude (Bujur). Sesungguhya angka koordinat ini merupakan angka sudut yang diukur dari pusat bumi sampai permukaannya. Acuan pengukuran dari suatu tempat yang merupakan perpotongan antara garis Ekuator dengan Garis Prime Meridian yang melewati kota Greenwich Inggris. Titik ini  berada di Laut Atlantik kira-kira 500 km di Selatan kota Accra Rep. Ghana Afrika. .[16]

Ilmu Ukur Segitiga Bola

Ilmu ukur segitiga bola atau disebut juga dengan istilah trigonometri bola (spherical trigonometri) adalah ilmu ukur sudut bidang datar yang diaplikasikan pada permukaan berbentuk bola yaitu bumi yang kita tempati. Ilmu ini pertama kali dikembangkan para ilmuwan muslim dari Jazirah Arab seperti Al Battani dan Al Khawarizmi dan terus berkembang hingga kini menjadi sebuah ilmu yang mendapat julukan Geodesi. Segitiga bola menjadi ilmu andalan tidak hanya untuk menghitung arah kiblat bahkan termasuk jarak lurus dua buah tempat di permukaan bumi.

2)   Pengukuran arah Kiblat

Kaidah Arah Kiblat Tradisional

 Istiwa A’zam – Matahari Istiwa di Atas Ka’bah

Kejadian saat posisi matahari istiwa (kulminasi) tepat di atas Ka’bah terjadi dua kali setahun yaitu pada setiap tanggal 28 Mei sekitar pukul 16.18 WIB dan pada 16 Juli sekitar jam 16.28 WIB. Ketika matahari istiwa di atas Ka’bah, bayang-bayang objek tegak di seluruh dunia akan lurus ke arah kiblat.

Kedudukan matahari di atas Ka’bah yang menyebabkan bayangan tegak diseluruh dunia searah  kiblat.
Panduan untuk menentukan arah kiblat dari sesuatu tempat pada tanggal dan jam yang telah ditentukan diatas:

a)    Dirikan sebuah tiang di sekitar lokasi yang hendak diukur arah kiblatnya.

b)   Pastikan tiang tersebut tegak dan lurus. Untuk meyakinkan posisi tegakknya dapat diukur menggunakan bandul yang  tergantung pada seutas tali.

c)    Tempat yang dipilih untuk  pengukuran ini tidak boleh terlindung dari cahaya matahari. Oleh karena matahari berada di Barat, maka bayangan akan ke arah Timur, maka arah kiblat ialah bayang yang menghadap ke Barat. [17]

Menggunakan Rasi Bintang (Konstelasi)

Rasi Bintang ialah sekumpulan bintang yang berada di suatu kawasan langit serta mempunyai bentuk yang hampir sama dan kelihatan berdekatan antara satu sama lain. Menurut International Astronomical Union ( IAU ), kubah langit dibagi menjadi delapan puluh delapan (88) kawasan rasi bintang. Bintang-bintang yang berada disuatu kawasan yang sama adalah dalam satu rasi. Masyarakat dahulu telah menetapkan sesuatu rasi bintang mengikuti bentuk yang mudah mereka kenal pasti seperti bentuk-bentuk binatang dan benda-benda. Dengan mengetahui bentuk rasi tertentu, arah mata angin dan  arah Kiblat dari suatu tempat dapat ditentukan.

Kaidah Matahari Terbenam

Secara umum jika kita merujuk kepada kedudukan matahari terbenam untuk tujuan penentuan arah kiblat adalah tidak tepat. Ini disebabkan arah matahari terbenam di Indonesia akan berubah-ubah dari azimut 246 hingga 293. Walau bagaimanapun sebagai salah satu daripada langkah berijtihad, arah matahari terbenam dapat digunakan sekiranya diketahui perbedaan sudut di antara arah matahari dengan arah kiblat. Ada posisi istimewa terbenamnya matahari terlihat dari Indonesia yaitu saat matahari berada di Katulistiwa (Ekuator) yang disebut dengan peristiwa ekuinox dan saat matahari berada di Titik balik Utara/Selatan yang disebut Solstice. [18]

Kaidah Penentuan Arah Kiblat Modern

Menggunakan Kompas

Penandaan arah kiblat dengan kompas banyak diamalkan di kalangan masyarakat Islam masa kini. Arah yang ditunjukkan oleh kompas adalah arah yang merujuk kepada arah Utara magnet. Arah Utara magnet ternyata tidak mesti sama dengan arah Utara sebenarnya. Perbedaan arah Utara ini disebut sebagai sudut serong magnet atau deklinasi yang juga berbeda disetiap tempat dan selalu berubah sepanjang tahun. Satu lagi masalah yang bisa timbul dari menggunakan kompas ialah tarikan gravitasi setempat dimana ia terpengaruh oleh bahan-bahan logam atau arus listrik di sekeliling kompas yang digunakan. Namun ia dapat digunakan sebagai alat alternatif sekiranya alat yang lebih teliti  tidak ada.

Menggunakan Theodolit

Teodolit merupakan antara alat termoden yang dapat digunakan oleh kebanyakaan pihak yang melakukan kerja menentukan arah kiblat. Theodolit dapat digunakan untuk mengukur sudut secara mendatar dan tegak, dan juga memberi memiliki akurasi atau ketelitian yang cukup tinggi dan tepat. Untuk mengendalikan alat ini diperlukan operator yang terlatih dan menguasai teknik penggunaan theodolith secara benar.

Kaidah Posisi Matahari pada Azimuth Kiblat

Dalam peredarannya, matahari mengalami gerak yang disebut gerak harian matahari atau gerak musim. Pada hari-hari tertentu terlihat dari sebuah wilayah maka posisi matahari akan bertepatan dengan azimuth arah kiblat dari wilayah tersebut.  Dengan menggunakan perhitungan rumus segitiga bola dan rumus mencari posisi azimuth matahari akan diketahui kapan matahari akan memiliki azimuth yang sama dengan arah kiblat.[19]

  1. IV.          KESIMPULAN
    1. Ka’bah berasal dari bahasa arab, yang artinya rumah yang bersegi empat, sedangkan menurut istilah agama, ka’bah  ialah Rumah Tuhan yang berada di kota Mekah, tempat orang Islam melakukan ibadah tawaf, sa’i, umroh, haji, solat, dan ibadah- ibadah lainnya.
    2. Ulama’ telah sepakat bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sahnya Solat. Dalam madzhab Hanafi dan Hambali, mereka menetapkan bahwa ketika seseorang menyadari kesalahan dalam arah kiblat sebagai hasil ijtihad, maka solatnya tetap sah dan tidak ada kewajiban untuk mengulangnya. Menurut madzhab Syafi’i dan Hambali, mereka menetapkan bahwa solatnya tidak sah dan harus segera dibatalkan ketika mengetahui bahwa hasil ijtihadnya salah. Ia berkewajiban mengulang solat ketika kesalahannya diketahui setelah solat selesai ditunaikan. Namun menurut madzhab Maliki, kewajiban untuk mengulang itu hanya berlaku di waktu dloruri. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i, kewajiban mengulang itu bersifat mutlak, baik pada waktu dloruri  atau setelahnya karena kesalahan yang terjadi sangat nyata.
    3. Menghadap kiblat bagi yang dekat dengan kiblat dan melihatnya, maka ia harus menghadap kiblat dengan seluruh badannya sedangkan orang yang berada di dekat kiblat tapi tidak mampu melihatnya karena adanya penghalang, maka ia harus berusaha berijtihad untuk menghadap kiblat sebisa mungkin. Bagi yang berada jauh dari ka’bah maka ia harus menghadap ke arah di mana ka’bah terletak.
    4. Dalam menentukan arah kiblat biasanya digunakan alat dan metode tertentu, di antaranya menggunakan: Koordinat Posisi Geografis, Ilmu Ukur Segitiga Bola, Istiwa A’zam – Matahari Istiwa di Atas Ka’bah, Menggunakan Rasi Bintang (Konstelasi), Kaidah Matahari Terbenam, Menggunakan Kompas, Menggunakan Theodolit, Kaidah Posisi Matahari pada Azimuth Kiblat. Dan lain-lain.

 

  V.          PENUTUP

Makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin….

DAFTAR PUSTAKA

Aziz Muhammad Azam, Abdul, dan Abdul Wahab Sayyid Hawas, Fiqih Ibadah, Terj. Kamran As’at Irssyadi, dkk., Jakarta: Amzah, 2009, Cet. 1

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah,Jakarta: Depag RI, 1980

Fauzan, Saleh Al-, Al-Mulakhasul Fiqhi, Terj. Abdul Hayyi al-Kattani, dkk., Jakarta: Gema Insani Press, 2005, Cet. 1

Izzuddin, Ahmad, Fiqih Hisab Rukyah, Jakarta: Erlangga, 2007

Mu’thi, Fadholan Musyaffa’, Solat di Pesawat dan Angkasa Studi Komparatif antar Madzhab Fiqih, Semarang: Syauqi Press, 2007, Cet. 1

Sindi, Syaikh Muhammad Abid As-, Terjemah Musnady-Syafi’i, Terj. Bahrun Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Algersindo, 1996

Syafi’i, Imam  Abu Abdullah Muhammad bin Idris, Ringkasan Kitab Al- Um, Terj. Muhammad Yasir Abd Mutholib, Jakarta: Pustaka Azam, 2004

Zuhdi, Masjfu’, Masail Diniyah Ijtima’iyah,(Jakarta: Haji Masagung, 1994, Cet. 1

http://Admin/metode menentukan arah kiblat/23/09/2011/Jumat/pukul: 13.30 wib//

 


[1] Fadholan Musyaffa’ Mu’thi, Solat di Pesawat dan Angkasa Studi Komparatif antar Madzhab Fiqih, (Semarang:Syauqi Press, 2007), Cet. 1, hlm. 119

[2] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta: Depag RI, 1980), hlm. 91

[3] Masjfu’ Zuhdi, Masail Diniyah Ijtima’iyah, (Jakarta: Haji Masagung, 1994), Cet. 1, hlm. 170-171

[4] Syaikh Muhammad Abid AS-Sindi, Terjemah Musnady-Syafi’i, Terj. Bahrun Abu Bakar, (Bandung: Sinar Baru Algersindo, 1996), hlm. 132

[5] Imam Syafi’i Abu Abdullah Muhammad bin Idris, Ringkasan Kitab Al- Um, Terj. Muhammad Yasir Abd Mutholib, (Jakarta: Pustaka Azam, 2004), hlm. 147

[6] Departemen Agama RI, Op. Cit., hlm. 137-138

[7] Ibid., hlm. 37

[8] Fadholan Musyaffa’ Mu’thi, Op. Cit., hlm. 50

[9] Imam Syafi’i Abu Abdullah Muhammad bin Idris, Op. Cit., hlm. 147

[10] Ibid,

[11] Abdul Aziz Muhammad Azam dan Abdul Wahab Sayyid Hawas, fiqih Ibadah, Terj. Kamran As’at Irssyadi, dkk., (Jakarta: Amzah, 2009), Cet. 1, hlm. 173-174

[12] Saleh Al-Fauzan, Al-Mulakhasul Fiqhi, Terj. Abdul Hayyi al-Kattani, dkk., (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), Cet. 1, hlm. 78

[13] Fadholan Musyaffa’ Mu’thi, Op. Cit., hlm. 53-54

[14] Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm.40-41

[15] http://Admin/metode menentukan arah kiblat/23/09/2011/Jumat/pukul: 13.30 wib//

[16] Ibid.,

[17] Ibid.,

[18] Ibid.,

[19] Ibid.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s