IBNU MISKAWAIH

Standar

IBNU MISKAWAIH

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Filsafat Islam

Dosen Pengampu : H. Darmu’in, MAg

 

 

Disusun oleh :

Dewi Sulastri             ( 103 111 020 )

Haris Dwi Aryo         ( 103 111 035 )

Johan Karyadi           ( 103 111 045 )

Kartika Puspitasar    ( 103 111 046 )

M. Yunus Mustofa    ( 103 111 058 )

Amri Khan                 ( 103111109 )

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

 

 

IBNU MISKAWAIH

  1. I.                   PENDAHULUAN

Filsafat merupakan ilmunya ilmu pengetahuan, atau induk dari  ilmu pengetahuan (mother of science). Dengan berfilsafat maka lahirlah sebuah ilmu pengetahuan, karena berfilsafat merupakan mengoptimalkan daya nalar dan kritis akal manusia. Filsafat merupakan ilmu untuk mencari kebenaran yang penuh dengan tanda tanya sehingga tak heran jika terdapat perbedaan pendapat dikalangan filosof tentang esensi sesuatu hal ini tidaklah menjadi hal yang tabuh karena setiap Filosof harus menerima hasil pemikiran orang lain. Semakin banyak orang yang mau berfilsafat maka semakin berkembanglah ilmu pengetahuan.

Filsafat mulai dikenal didunia Islam pada abad IX di zaman pemerintahan daulah Abbasiyah. Pada masa itu lahirlah ilmu kedokteran, geometri, astronomi, kimia dan lainnya dengan tokoh-tokohnya yang Mashur. Dengan munculnya filsafat ditengah-tengah kehidupan umat islam, yang memberikan kebebasan seluas mungkin untuk berkembengnya pikiran secara bebas, meskipun harus menentang kebiasaan lama, membuka tabir baru  terhadap perkembangan sejarah dan peradaban dunia islam.

Islam telah melahirkan tokoh-tookoh filsafat yang terkenal di dunia islam dan dunia barat karena pemikiranya yang tidak akan lekang oleh waktu. Dalam perkembangannya filsafat memiliki sejarah yang menarik, Al-Ghazali yang dulu seorang filosof bermetafosis menjadi seorang Sufi dan ia menggap filsafat itu keji dan jahat. Setelah itu pendapat Al-Ghazali ditentang oleh Ibnu Rushd (Avveroes) dalam karyanya “Tahafud-el-Tahafut” (Destruction of the Destructor”. Menurutnya Al-Ghazali salah dalam memahami filsafat dan pokok ajaran filsafat. Pada akhirnya dalam peperangan alam pikiran ini, Al-Ghazali muncul sebagai pemenang. Akan tetapi pada akhir abad 19 seorang guru yang terkenal dari Al-Azhar Syech Muhammad Abduh mulai mengajarkan filsafat kembali walaupun mendapat rintngan.[1] Betapa menariknya perkembangan filsafat islam untuk kita pelajari tanpa mengesampingkan tokoh dan pemikirannya.

Ibnu Miskawaih adalah salah satu tokoh filsafat islam yang memiliki pemikiran-pemikiran khususnya di bidang akhlaq. Beliau adalah cendikiawan muslim yang tetap berdasarkan Al-Qur’an dan hadits dalam berfikir. Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan di bahas lebih lanjut tentang Ibnu Miskawaih.

  1. II.                RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Riwayat Hidup Ibnu Miskawaih?
    2. Apa Saja Karya Ibnu Miskawaih?
    3. Bagaimana Pemikiran-Pemikiran Ibnu Miskawaih?
  1. III.             PEMBAHASAN
    1. A.    Riwayat Hidup Ibnu Miskawaih

Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibn Miskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H/932 M. Di Rayy, dan meninggal di Isfahan pada tanggal 9 Shafar tahun 412H/16 Februari 1030 M. Ibnu Miskawaih hidup pada masa dinasti Buwaihi (320-450 H./932-1062 M.) yang sebagian besar pemukanya bermazhab Syi’ah. Namanya diambil dari nama kakeknya yang semula beragama majusi (persi) kemudian masuk islam. Gelarnya ialah Abu Ali, dan al-Knazain yang artinya bendahara. Dari segi latar belakang pendidikannya tidak ditemukan data sejarah yang rinci. Namun ada keterangan, bahwa ia mempelajari sejarah dari Abu Bakar ahmad Ibnu Kamil al-Qadi,  mempelajari filsafat dari Ibnu al-Akhmar, dan mempelajari kimia dari Abu Thayyib.[2]

Ibnu Miskawaih adalah seorang ahli sejarah yang pemikirannya sangat cemerlang. Dialah ilmuan Islam yang paling terkenal dan yang pertama kali menulis filsafat akhlak. Ia mampu memperoleh informasi dari sumber aslinya. Dia juga sangat memahami model administrasi dan setrategi peperangan sehingga dengan mudah menuliskan berbagai peristiwa secara jelas. Dia juga menguasai berbagai manuver politik dengan baik.[3]

Ibnu Miskawaih pernah menjabat sebagai sekretaris Amirul-Umarak Adhud-Daulah (949-982 M) dari daulat Buwaihi di Baghdad, merangkap kepala perpustakaan negara Bait al-Hikmah. Sebelumnya Ibnu Miskawaih mendampingi Abu Muhammad Alhasan Al-Muhallabi yang menjabat wazir pada tahun 339 H/950  M.[4] Oleh karena itu ada yang mengatakan Ibnu Miskawaih penganut Syi’ah karena wazir-wazir bani Buwaihi menganut paham Syi’ah. Adapula yang mengatakan bahwa Ibnu Miskawaih mula-mula beragama majusi, kemudian masuk islam seperti yang dikemukakan Yaqut dalam buku terjemahan M.M Syarif  M.A, tetapi hal ini mungkin benar bagi ayahnya karena seperti yang tercermin pada namanya Muhammad adalah putra seorang muslim.

Dari paparan diatas jelaslah bahwa Ibnu Miskawaih adalah ilmuwan yang luas pengetahuannya dan banyak pengalamannya. Ia dikenal sebagai sejarawan, sastrawan, tabib, ahli bahasa, dan seorang filosof yang pertama kali menciptakan ilmu al-Akhlak.

  1. B.     Karya-Karya Ibnu Miskawaih

Sebagai seorang intelektual, Ibnu Maskawaih telah menulis beberapa buku sebagai karyanya yang telah memberi sumbangsih pada khasanah ilmu pengetahuan di dunia islam. Dalam buku para filosof islam, M.M. Syarif, M.A. terjemahan indonesia dicantumkan 18 buah karya Ibnu Miskawaih.Diantara karya-karyanya ialah:

  1. 1.    Al-Fauz al-Akbar (permasalahan metafisika)
  2. Al-Fauz al-Asghar (uraian singkat dalam metafisika)
  3. Tajarib al-Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulis pada tahun 369 H/979 M)
  4. Uns al-Farid (kumpulan anekdot, syair, peribahasa dan kata-kata mutiara)
  5. Tartib al-Sa’adah (tentang aakhlak dan politik)
  6. Al-Musthafa (syair-syair pilihan)
  7. Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak)
  8. 8.    Al-Jami’
  9. Al-Siyar (tentang aturan hidup)

10. Tentang Pengobatan Sederhana (mengenai kedokteran)

11. Tentang Komposisi Bajat (mengenai seni memasak)

  1. 12.  Kitab al-Asyribah (mengenai jenis minuman dan pembuatannya)

13. Tahdzib al-Akhlaq (mengenai akhlaq)

14. Risalah fi al-Ladzdzat wal-Alam fi Jauhar al-Nafs

15. Ajwibah wa As’ilah fi al-Nafs wal-Aql

16. Al-jawab fi al-Masa’il al-Tsalats

17. Risalah fi Jawab fi Su’al Ali bin Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqat al-Aql

18. Tharat al-Nafs

Dalam buku terjemahan ini, ada keterangan dari Muhammad Baqir ibn Zain al-Abidin al-Hawanshari mengatakan bahwa Ibnu Miskawaih juga menulis beberapa risalah pendek dalam bahasa parsi. Karya-karyanya tidak sedikit dipengaruhi oleh filsafat yunani,  misal dalam buku al-Fauz al-Asghar dan al-Tahdzib al-Akhlak yang bertumpu pada ajaran spiritualistis tradisional Plato dan Aristoteles dengan kecenderungan Platonis. Bisa kita pahami bahwa Ibnu Miskawaih adalah intelektual muslim yang produktif. Terlepas dari  pengaruh filsafat yunani Ibnu Miskawaih telah memberikan sumbangan kemajuan Islam melalui karya-karyanya sebagai bentuk hasil pemikirannya.

  1. C.    Pemikiran-Pemikiran Ibnu Miskawaih

Pemekiran Ibnu Maskawih mencakup beberapa hal, diantaranya ialah:

  1. Ketuhanan

Mmenurut Ibnu Miskawaih membuktikan adanya tuhan adalah muda, karena kebenarannnya tentangg adanya  tuhan telah terbukti pada dirinya sendiri dengan jelas. Namun kesukarannya adalah karena keterbatasan akal manusia untuk  menjangkaunya. Tetapai orang yang berusaha keras untuk memperoleh bukti adanya, sabar menghadapi berbagai macam kesukaran, pasti akhirnya akan sampai juga, dan akan memperoleh bukti yang meyakinkan tentang kebenaran adanya.

Miskawaih mengatakan bahwa sebenarnya tentang adanya tuhan pencipta itu telah menjadi kesepakatan filosof sejak dahulu kala. Tuhan pencipta itu Esa, Azali (tanpa awal) dan bukan materi (jisim).Tuhan ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung pada kepada yang lain. Tampaknya pemikiran ini sejalan dengan pemikiran Al-Farabi.  Argumen yang digunakan Ibnu Miskawaih untuk membuktikan adanya tuhan yang paling ditonjolkan adalah adanya gerak atau perubahan yang terjadi pada alam. Argumen gerak ini diambil dari Aristoteles. Tuhan adalah sebagai pencipta segala sesuatu. Menciptakan dari awal segala sesuatu dari tiada menjadi ada, sebab tidak ada artinya mencipta.

Alam diciptakan oleh Tuhan dari tiada, alam melami gerakan yang bersifat natur bagi alam yang menimbulkan perubahan. Tiap-tiap bentuk yang berubah digantikan oleh bentuk yang baru, bentuk yang lama menjadi tiada,  dengan demikian terjadilah ciptaan yang terus-menerus. Pendapat ini sepaham dengan pendapat  Aristoteles bahwa segala sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk semula.[5]

Nampak pemikiran Ibnu Miskawaih sepaham dengan pemikiran Aristoteles yang mengatakan bahwa alam semesta sebagai suatu proses penjadian. Walaupun demikian ia menganut teori emanasi yang berbeda dengan Al-Farabi. Bagi Miskawaih Allah menjadikan alam ini secara emanasi dari tiada menjadi ada, sedangkan menurut Al-Farabi alam dijadikan secara pancaran dari sesuatu akal, bahan yang sudah ada menjadi ada.  Akan tetapi menurut Ibnu Rushd creatio ex nihilo hanyalah interpretasi kaum teolog saja.

  1. Ruh

Dalam buku terjemahan Para Filosoof Muslim, M.M. Syarif dijelaskan pemikiran Ibnu Miskawaih tentang ruh. Menurutnya ruh mencerap hal-hal sederhana dan kompleks, yang ada dan tidak ada, yang terasakan dan yang terpikirkan. Ruh tidak mempunyai unsur; unsur-unsur hanya terdapat pada materi. Ruh bersifat abadi dalam hal ini Miskawaih mengadopsi pemikiran Plato yang menyatakan bahwa esensi ruh adalah gerak, sedang gerak adalah kehidupan ruh. Miskawaih menerangkan bahwagerak ini terdiri atas dua macam: pertama, gerak kearah intelegensi, dan kedua gerak kearah materi; yang pertama diterangi, sedang yang kedua menerangi. Tetapi gerak ini kekal dan tidak di dalam ruang sehingga ia tidak berubah.

Melalui gerak pertama ruh mendekati intelegensi, yang merupakan ciptaan pertama, sedang lewat gerak kedua, ia keluar dari dirinya. Karena itu ruhlebih mendekati Tuhan melalui gerak pertama dan menjauh lewat gerak kedua. Yang pertama membawa keselamatan dirinya, sedang yang kedua kebinasaan.

Terhadap kaum materialis, Ibnu Miskawaih membuktikan adnya ruh dengan dasar bahwa pada diri manusia terdapat sesuatu yang memberi tempat bagi perbedaan dan bahkan pertentangan bentuk dalam waktu yang bersamaan. Tetapi sesuatu itu tidak dapat berupa materi, karena materi hanya menerima satu bentuk dalam waktu tertentu. Mwnurutnya ruh mempunyai tiga pembawaan: rasional, keberanian, hasrat, dan tiga kebajikan yang saling berkaitan: bijaksana, berani dan sederhana. Dengan keterkaitan ketiga hal itu akan diperoleh yang keempat yaitu kadilan. Pemikiran ini juga agaknya tidak lepas dari pemikiran Plato, sehingga ia dikenal sebagai Platonis.

  1. Kenabian

Dalam pemikiran Ibnu Miskawaih, nabi adalah seorang seorang muslim yang memperoleh hakikat-hakikat atau kebenaran karena pengaruh akal aktif atas daya imajinasinya. Hakikat-hakikat ini dapat diperoleh pula oleh para filosof. Tetapi ada perbedaan pada cara untuk memperolehnya. Dikatakan kekuatan imajinasi seseorang mampu meningkat lagi hingga melewati batas yang biasa pada kebanyakan  manusia. Seseorang setelah mencapai tingkat tersebut dapat berhubungan dan menangkap hakikat-hakikat atau kebenaran.[6]

Bilamana seseorang melanjutkan pemikiran terus menerus setelah tiba pada tingkatan tersebut maka tilikan rohaninyan akan makin kuat dan tilikan pengamatannya makin tajam, dan terpancarlah baginya hal ihwal illahiat sejelas-jelasnya. Sehingga perbedaan mengenai cara memperoleh hakikat atau kebenaran antara nabi dan filosofialah nabi memperoleh kebenaran diturunkan langsung dari akal aktif langsung kepada kepada nabi sebagai rahmat Allah, sedangkan filosof memperoleh kebenaran dengan cara berusaha dan berfikir secara terus menerus.

Menurut pemikiran Ibnu Miskawaih manusia mengalami evolusi, berkembang bukan hanya secara fisik, tetapi berkembang pula tingkat ecerdasannya, cara berfikirnya bertambah maju sehingga menjadi bijaksana bahkan mendekati derajat malaikat. Manusia menurut fitrahnya mempunyai kemampuan dan kemauaan untuk mencapai kesempurnaan. Hal ini bisa dicapai melalui mawas diri, perenungan, beribadah dengan baik, menjaga dan membersihkan jiwa dari perbuatan jahat dan tercela.

  1. Akhlak

Ibnu Miskawaih dikenal sebagai tokoh muslim pertama kali yang menulis filsafat akhlak sehingga ia dikenal sebagai moralis dan sejarawan. Ibnu Miskawaih menolaj ajaran yang mengatakan bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh setelah mati, dan menekankan hal itu dapat pula dicapai di dunia. Kebahagiaan dapat dicapai dengan mengupayakan kebaikan di dunia dan akhirat.

Mengikuti Aristoteles, Miskawaih mengatakan bahwa kebaikan terletak pada segala yang menjadi tujuan. Apa yang berguna untuk mencapai tujuan ini adalah baik, misalnya sarana-sarana dan tujuan ini adalah baik. Tetapi kebahagiaan atau kebaikan merupakan sesuatu yang relatif bagi pribadi. Kebajikan /kebaikan ada kalanya bersifat umum dan bersifat khusus, ada kebajikan mutlakda ada ilmu peengetahuan luhur dimana orang yang baik akan berusaha mencapainya. Kebaikan umum adalah menjadi tujuan semua manusia, sedangkan kebaiak khusus ialah kebaikan relatif bergantung pada setiaporang.

Di dalam bukunya Tahdzib al-Akhlak wa Tath-hir al-A’raqi, Ibnu Miskawaih menguraikan bahwa manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat-tingkat sebagai berikut:

  • An-Nafs al-bahimiyah (nafsu kebinatangan) yang buruk.
  • An-Nafs as-sabu’iyah (nafsu binatang buas) yang sedang
  • An-Nafs an-nathiqah (jiwa yang cerdas) yang baik.

Sifat buruk dari jiwa telah mempunyai kelakuan pengecut, ujub, sombong, penipu. Sedang sebagai khususiyat dari jiwa yang cerdas ialah mempunyai sifat adil, harga diri, berani, pemurah, benar dan cinta. Diantara manusia ada yang baik dari asalnya. Golongan ini tidak akan cenderung berbuat kejahatan. Namun golongan ini minoritas. Sedangkan golongan yang mayoritas adalah golongan yang dari asalnya sudah cenderung kepada kejahatan sehingga sulit untuk ditarik cenderung kepada kebaikan. Sedangkan diantara kedua golongan tersebut ada golongan yang dapat beralih kepada kejahatan. Hal ini tergantung pada pendidikan dan lingkungan ia hidup.[7]

Dari pemikirannya ini kita pahami bahwa sifat baik dan buruk sebagai fitrah dapat dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan. Olek karena itu pendidikan dan lingkingan yang islami akan menciptakan manusia dengan  akhlak yang baik  dan sebaliknya.

  1. IV.             KESIMPULAN

Nama lenkap Ibnu Miskawaih ialah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibn Miskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H/932 M. Di rayy (sekarang Teheran), dan meninggal di isfahan pada tanggal 9 Shafar tahun 412 H/ 16 Februari 1030 M. Ibnu Miskawaih hidup pada masa dinasti Buwaihi (320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermazhab Syi’ah dan beliau pernah menjadi bendahara sehingga mendapat gelar al-Knazain dan gelar Abu Ali, indikasi inilah yang membuat ia dianggap penganut Syi’ah.

Dalam dunia islam beliau dikenal sebagai seorang sejarawan, sastrawan, filosof, dan moralis karena luasnya ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Menurut pemikirannya Tuhan adalah pencipta tidak berjisim dan azali. Tuhan Esa, Ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak ada yang setara denganNya. Ia ada tanpa diadakan, adanya tidak bergantung pada yang lain sementara yang lain membutuhkanNya.

Banyak dari pemikirannya yang dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan Aristoteles tetapi lebih platonis. Dalam hal penciptaan alam semesta misalnya yang diciptakan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Pada masalah esensi ruh yang kekal  dan bergerak. Terlepas dari pengaruh pemikiran yunani tersebut pemikiran Ibnu Maskawai berpengaruh pada perkembangan islam yang telah memberika kemajuan dalam masalah akhlak terutama. Beliau adalah orang yang pertama kali menulis tentang akhlak melalui karya-karya beliau yang mazhur seperti namanya. Manusia ada yang memiliki sifat baik dari asalnya yang jumlahnya sedikit dan cenderung untuk berbuat baik, ada yang memiliki  sifat buruk dari aslnya yang jumlahnya banyak dan cenderung berbuat jahat, dan diantara keduanya ada golongan  yang dapat beralih pada kejahatan hal ini tergantung pada pendidikan dan lingkungandimana ia tinggal.

 

  1. V.                PENUTUP

Demikianlah makalah yang kami susun, kami sadar makalah kami banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan untuk memperbaiki makalah kami kedepan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad Amin,Husayn, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995.

E. Tamburaka, Rustam, Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan IPTEK, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Nata,Abuddin, pemikiran para tokoh pendidikan islam, Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 2003.

Sou’yb, Yoesoef, Pemikiran Islam Merobah Dunia, Jakarta: Madju, 1984.

Suharsono, Filsafat Islam, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997.

 


[1] Prof. Drs. H. Rustam E. Tamburaka, M.A, Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah Filsafat dan IPTEK, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002). Hlm. 188

[2] Dr. H. Abuddin Nata, MA, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 2003), hlm.5

[3] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (bandung: PT Remaja Rosdakarya,  1995), hlm. 154

[4] Yoesoef Sou’yb, Pemikiran Islam Merobah Dunia, (Jakarta: Madju, 1984), hlm. 120

[5]Drs. Suharsono, S.H, Filsafat Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), hlm. 91-92

[6] Yoesuf  Sou’yb, Op. Cit, hlm.123

[7] Drs. Sudarsono, Op. Cit, hlm. 89

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s