IBNU SINA

Standar

IBNU SINA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Filsafat Islam

Dosen Pengampu: H. Darmuin, M.Ag

Disusun oleh:

Asep Saepul Amri                 (103111109)

Durotun Nasikhah                (103111110)

Ely Lutfiyah                          (103111111)

Himmatul Aliyah                   (103111112)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

IBNU SINA

 

  1. I.            PENDAHULUAN

Dalam pemikiran klasik, Falsafah merupakan induk segala Ilmu pengetahuan. Darinya segala jenis Ilmu berasal. Konsep ini berasal dari pemikiran Yunani, terutama dari Aristoseles dan kemudian mempengaruhi para pemikir Islam, termasuk Ibnu Sina.

Dalam sejarah pemikiran filsafat Abad Pertengahan, sosok Ibnu Sina  diantara para filosof Muslim Ia mendapat tempat istimewa hingga abad-abad modern ini.

  1. II.            RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Biografi Ibnu Sina?
    2. Apa Saja Hasil Karya Ibnu Sina?
    3. Bagaimana Pemikiran Filsafat Ibnu Sina?
  1. III.            PEMBAHASAN
    1. A.    Biografi Ibnu Sina

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husein ibn Abdillah ibn Hasan ibn Sina. Ia dikenal sebagai seorang filosof Islam terbesar dengan gelar Syaikh ar-Ra’is.  Dilahirkan dalam keluarga bermazhab Syi’ah tahun 370 H/ 980 M, di desa Efyanah (Kawasan Bukhara). Di Bukhara, ia dibesarkan dan belajar falsafah, kedokteran, dan ilmu-ilmu agama Islam. Dalam usia sepuluh tahun, Ia banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal al-Qur’an seluruhnya.

Tidak hanya itu, ia juga mempelajari ilmu astronomi, matematika, fisika, metafisika, logika, dan kedokteran. Dalam usia enam belas tahun, ia dikenal sebagai seorang dokter yang ahli dalam pelbagai penyakit. Dalam usia delapan belas tahun, ia telah menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti falsafah, matematika, logika, astronmi, musik, mistik, bahasa dan ilmu hukum Islam. Ia juga mampu meyembuhkan penyakit yang diderita penguasa Bhukara, Nuh ibn Mansur (387 H/997 M), dan diberi imbalan untuk memanfaatkan perpustakaannya. Dalam usia dua puluh tahun, ayahnya meninggal dunia ia pindah ke Jurjan dan berjumpa dengan Abu ‘Ubaid al-Juzajani kemudian menjadi muridnya yang menulis sejarah hidupnya, pernah menjadi menteri di Hamazan. Ia meninggal dunia pada hari Jum’at bulan Ramadhan dalam usia 58 tahun, dan dikuburkan di Hamazan.[1]

  1. B.     Hasil Karya Ibnu Sina

Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal diantaranya ialah:

  1. Asy-Syifa,buku filsafat yang terpenting dan terbesar. Buku ini terdiri atas empat bagian, yaitu logika, fisika, matematika, dan metefisika (ketuhanan). Beberapa naskah buku ini tersebar di berbagai perpustakaan Barat dan Timur. Bagian ketuhanan dan fisika pernah dicetak dengan cetak batu di Teheran. Pada tahun 1956 lembaga keilmuwan Cekoslowakia di Praha menerbitkan pasal keenam dari bagian fisika yang khusus mengenai ilmu jiwa. Bagian logika diterbitkan di Kairo pada tahun 1954 dengan judul Al-Burhan.
  2. An-Najat yang merupakan ringkaran buku Asy-Syifa. Buku ini pernah diterbitkan bersama-sama dengan buku Al-Qanun, mengenai ilmu kedokteran, pada tahun 1593 M di Roma dan pada tahun 1331 M di Mesir.
  3. Al-Isyarat wat-Tanbikat, buku terakhir dan yang paling baik. Pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892, dan sebagian diterjemahkan ke dalam bahasa prancis. Kemudian diterbitkan lagi di Kairo pada tahun 1947.
  4. Al-Qanun (Canon of medicine) yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan pernah menjadi buku untuk universitas-universitas di Eropa sampai akhir abad ke-17 M. Buku ini pernah diterbitkan di Roma pada tahun 1593 M dan di India pada tahun 1323 H.

Risalah-risalah lainnya kebanyakan dalam lapangan filsafat, etika, logika dan psikologi.[2]

  1. C.    Pemkikiran Filsafat Ibnu Sina
    1. Al-Tawfiq (Rekonsiliasi) antara Agama dan Filsafat

Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga mengusahakan pemaduan (rekonsiliasi) antara agama dan filsafat. Menurutnya Nabi dan Filosof menerima kebenaran dari sumberyang sama, yakni Malaikat Jibril yang juga disebut Akal kesepuluh atau Akal Aktif. Perbedaannya hanya terletak pada cara memperolehnya, bagi Nabi terjadinya hubungan dengan Malaikat Jibril melalui akal materiil yang disebut hads (kekuatan suci), sedangkan Filosof melalui akal mustafad. Pengetahuan  yang diperoleh Nabi disebut wahyu, berlainan dengan pengetahuan yang diperoleh Filosof hanya dalam bentuk ilham, tetapi antara keduanya tidaklah bertentangan.

Ibnu Sina membedakan antara para Nabi dan para Filosof, para Nabi menurutnya ialah manusia pilihan Allah dan tidak ada peluang bagi manusia lain untuk mengusahakan dirinya jadi Nabi. Sementara Para Filosof adalah manusia yang mempunyai intelektual yang tinggi dan tidak bisa menjadi Nabi.[3]

  1. Filsafat Wujud

Ibnu Sina dalam filsafat wujudnya, bahwa segala yang ada ia bagi pada tiga tingkatan, yaitu:

  1. Wajib Al-Wujud, essensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Di sini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Essensi ini tidak dimulai dari tidak ada, kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti berwujud selama-lamanya.
  2. Mumkin Al-Wujud, essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan istilah lain, jika ia diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka ia tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada.
  3. Mumtani’ Al-Wujud, essensi yang tidak dapat mempunyai wujud.[4]
  4. Filsafat Emanansi atau pancaran

Proses terjadinya pancaran ialah ketika Allah wujud sebagai Akal langsung memikirkan terhadap zat-Nya yang menjadi objek pemikiran-Nya, maka memancarkan Akal Pertama. Dari Akal Pertama ini memancar Akal Kedua, Jiwa Pertama, dan Langit Pertama. Demikianlah seterusnya sampai Akal Kesepuluh yang sudah lemah dayanya dan tidak dapat menghasilkan akal sejenisnya, dan hanya menghasilkan Jiwa kesepuluh, bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar bagi keempat unsur pokok: air, udara, api, dan tanah.[5]

Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat, yaitu sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mumkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya. Dengan demikian ia mempunyai tiga objek pemikiran: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mumkin wujudnya. Dari pemikiran tentang Tuhan timbul akal-akal, dari pemikiran tentang dirinya seabagi wajib wujudnya timbul jiwa-jiwa dan dari pemikiran tentang dirinya sebagai mumkin wujudnya timbul langit-langit.[6]

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel emanasi Ibnu Sina di bawah ini:

Akal yang ke Sifat Allah sebagai Wajib al-Wujud menghasilkan Dirinya sebagai Wajib Wujud li Ghoirihi menghasilkan Dirinya sebagai Mungkin Wujud li Dzatihi Keterangan
I Wajib al-Wujud Akal II Jiwa I yang menggerakkan Langit pertama Masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet karena (immateri) tidak bisa langsung menggerakkan jisim (materi),
II Mumkin al-Wujud Akal III Jiwa II yang menggerakkan Bintang-bintang
III Sda Akal IV Jiwa III yang menggerakkan Saturnus
IV Sda Akal V Jiwa IV yang menggerakkan Yupiter
V Sda Akal VI Jiwa V yang menggerakkan Mars
VI Sda Akal VII Jiwa VI yang menggerakkan Matahari
VII Sda Akal VIII Jiwa VII yang menggerakkan Venus
VIII Sda Akal IX Jiwa VIII yang menggerakkan Merkurius
IX Sda Akal X Jiwa IX yang menggerakkan Bulan
X Sda           _ Jiwa X yang menggerakkan Bumi, Roh, Matahari pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur (udara, air, api, dan tanah) Akal

Emanasi Ibnu Sina menghasilkan sepuluh akal dan sembilan  planet. Sembilan akal mengurusi sembilan planet dan akal kesepuluh mengurusi bumi. Berbeda dengan pendahulunya, al-Farabi, bagi Ibnu Sina masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal (immateri) tidak bisa langsung menggerakkan planet yang bersifat materi. Akal-akal adalah para malaikat, akal pertama adalah Malaikat Tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah Malaikat Jibril yang bertugas mengatur bumi dan isinya.[7]

  1. Filsafat Jiwa

Jiwa manusia, sebagai jiwa-jiwa lain dan segala apa yang terdapat di bawah bulan, memancar dari Akal kesepuluh. Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian:

  1. Jiwa Tumbuh-tumbuhan dengan daya-daya:

1)       Makan

2)       Tumbuh

3)       Berkembang biak

  1. Jiwa Binatang dengan daya-daya:

1)       Gerak

2)       Menangkap

Dengan dua bagian:

a)     Menangkap dari luar dengan panca indera

b)    Menangkap dari dalam dengan indera-indera dalam:

1)      Indera bersama yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera.

2)      Representasi yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama.

3)      Imaginasi yang menyusun apa yang disimpan dalam representasi.

4)      Estimasi yang dapat menangkap hal-hal abstrak yang terlepas dari materinya, umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing serigala.

5)      Rekoleksi yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh estimasi.

  1. Jiwa Manusia dengan dua daya:

1)        Praktis yang hubungannya adalah dengan badan.

2)        Teoritis yang hubungannya adalah dengan hal-hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan:

a)      Akal materiil yang semata-mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikit.

b)      Intellectus in habitu yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal abstrak.

c)      Akal aktuil yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak.

d)     Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya, akal yang telah terlatih begitu rupa, sehingga hal-hal yang abstrak selamanya terdapat dalam akal yang serupa ini, akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif.[8]

Menurut pendapat Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan.  Jika jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka ia selamanya akan berada dalam kesenangan, dan jika ia berpisah dengan badan dalam keadaan tidak sempurna, karena semasa bersatu dengan badan ia selalu dipengaruhi oleh hawa nafsu badan, maka ia akan hidup dalam keadaan menyesal dan terkutuk untuk selama-lamanya di akhirat.[9]

  1. IV.            KESIMPULAN

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husein ibn Abdillah ibn Hasan ibn Sina. Ia diberi gelar Syaikh ar-Ra’is.  Dilahirkan dalam keluarga bermazhab Syi’ah tahun 370 H/ 980 M, di desa Efyanah (Kawasan Bukhara). Ia meninggal dunia pada hari Jum’at bulan Ramadhan dalam usia 58 tahun, dan dikuburkan di Hamazan.

Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal diantaranya ialah: Asy-Syifa, An-Najat, Al-Isyarat wat-Tanbikat dan Al-Qanun.

Pemkikiran Filsafat Ibnu Sina: Al-Tawfiq (Rekonsiliasi) antara Agama dan Filsafat,  Filsafat Wujud (Wajib Al-Wujud, Mumkin Al-Wujud, Mumtani’ Al-Wujud), Filsafat Emanansi atau pancaran,  Filsafat Jiwa.

 

  1. V.            PENUTUP

Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekeliruan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami nantikan demi perbaikan makalah-makalah kami selanjutnya


 

DAFTAR PUSTAKA

Daudy, Ahmad, Kulyah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992)

Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973)

Poerwantana Dkk, Seluk-Beluk Filsafat Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991)

Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004)

 


[1] Ahmad Daudy, Kulyah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992),  hlm. 66-68

[2] Poerwantana Dkk, Seluk-Beluk Filsafat Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 146

[3] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 95

[4] Ibid., hlm. 96-97

[5] Ibid., hlm. 100

[6] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 35

[7] Sirajuddin Zar, Op. Cit., hlm. 101-103

[8] Harun Nasution, Op. Cit.,  hlm. 35-37

[9] Ibid., hlm. 38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s