LOGIKA YUNANI DALAM USHUL FIQIH

Standar

LOGIKA YUNANI DALAM USHUL FIQIH

(PARADIGMA BURHANI)

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Ushul Fiqh

Dosen Pengampu:AkhwanFanani

 

 


 

 

Disusun oleh:

 

Muhammad Lathif Wibowo            103111069

Amri Khan                                         103111109

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

 

LOGIKA YUNANI DALAM USHUL FIQIH

(PARADIGMA BURHANI)

       I.            PENDAHULUAN

Sejarah Filsafat bermula dari pesisir Samudra Mediterania bagian Timur pada adad ke-6 SM. Dari situ filsafat bergerak menyeberangi teluk Aegeanmenuju tanah Yunani. Di sinilah untuk ribuan tahun  lamanya Filsafat Menancapkan akar-akarnya Yang kuat dan menjadi Ideologi masyarakat. ibarat tanaman yang menemukan lahan subur, di Negeri Yunani inilah filsafat berkembang dengan pesat, sehingga melahirkan filosof-filosof besar pertama seperti Thales, Socrates, Plato dan Aristoteles.

Dari perkembangan filsafat tersebut terciptalah pola-pola pemikiran, di mana Berpikir adalah objek material logika. dengan berpikir manusia akan mengolah, mengerjakan, pengetahuan yang telah diperolehnya.

Maka dari itu kami di makalah ini akan memaparkan tentang pengertian logika,logika Yunani, serta pengaruhnya logika dalam ushulfiqih.

    II.            RUMUSAN MASALAH

  1. Apa Pengertian Logika?
  2. Apa Logika Yunani?
  3. Ushul Fiqih dalam tatapan Filosofis dan Konsep Qiyas Ushul Fiqih?
  4. Apa Pengaruh Logika Aristoteles terhadap Qiyas Ushul Fiqih?

 III.            PEMBAHASAN

  1. A.    Penegertian Logika

Logika berasal dari bahasa Yunanilogike yang dalam bahasa Arab disebut Manthiq. Secara etimologis, berarti perkataan atau sabda sabagai manifestasi pikiran manusia. Adapun secara Terminologis, menurut George F.Kneller logika adalah penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode- metode berpikir benar. Logika merupakan metode berpikir tepat yang disistematisasikan oleh Aristoteles dalam beberapa karyanya dan terkumpul dalam Organon.[1]

Logika adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. agar dapat berpikir lurus, tepat, dan teratur, logika menyelidiki, merumuskan serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati.

Dalam logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatan. Karena berpikir lurus dan tepat, merupakan objek formal logika.[2]

  1. B.     Logika Yunani

Zaman Yunani dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gedung ilmu dan filsafat, karena Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptiveattitude (sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap aninquiringattitude(suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa.[3]

Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem: logika, matematika, fisika, dan metafsika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme terdiri dari tiga premis:

  1. Semua manusia akan mati (premismayor)
  2. Plato seorang manusia (premisminor)
  3. Plato akan mati (konklusi)

Logika Aristoteles ini juga disebut dengan logika deduktif, yang mengukur valid atau tidaknya sebuah pemikiran.[4]

  1. C.    Ushul Fiqih dalam Tatapan Filosofis dan Konsep Qiyas dalam Ushul Fiqih
    1. Ushul Fiqih dalam Tatapan Filosofis

Ulama’ Ushul Fiqh mendefinisikan Ushul Fiqh dengan dua cara:

  1. Definisi yang di dasarkan pada susunan dua lafad (Tarkib Idlafi), yaitu Lafad Ushul dan Fiqih.
  2. Definisi Utuh Ushul Fiqh sebagai sebuah nama Ilmu yang berdiri sendiri tanpa melihat susunan lafad yang membentuknya, kata Ushul secar etimologi merupakan bentuk plural dari Ashl yang berarti fondasi sesuatu, baik bersifat materi maupun non materi. Adapun secara terminologi Ashl mempunyai arti:

1)      Landasan Hukum (Al-Dalil), seperti ungkapan Ulama’ Ashl dari wajibnya Shalat adalah Al-Qur’an dan Sunnah maksudnya adalah landasan hukumnya.

2)      Fondasi atau dasar (Al-Qo’idah Al-Kulliyyah), seperti saba Nabi Islam dibangun atas lima fondasi, (khamsati Ushul), “ushul dalam sabda itu berarti fondasi dasar (Al-Qo’idah Al-Kulliyyah).[5]

Sedangkan Fiqih menurut bahasa artinya pengetahuan, pemahaman, dan kecakapan tentang sesuatu biasanya tentang Ilmu Agama (Islam) karena kemuliaannya. Menurut Istilah Fiqih mempunyao dua pengertian:

  1. Fiqih ialah pengetahuan (menegetahui hukum-hukum syara’, tentang perbuatan beserta dalil-dalilnya.
  2. Fiqih ialah Al-Ahkam yaitu segala yang diterbitkan pembuat Syara’ (Allah) bagi manusia baik berupa perintah-perintah maupun aturan perbuatan yang mengatur kehidupan dalam masyarakat dan hubungan mereka antara pihak satu dengan lainnya serta membatasi perbuatan dan tindak-tanduk mereka.[6]
  3. Konsep Qiyas dalam Ushul Fiqih

Qiyas secara etimologi berarti mengukur, menyamakan, dan mengumpulkan. Sedangkan secara terminologi adalah metode atau penetapan nilai hukum yang berusaha mencari ketetapan hukum tentang situasi baru yang tidak diungkap oleh nash dengan menerapkan  ketetapan hukum yang telah diungkap oleh nash, jika ia mempunyai sebab yang sama.[7] Sedangkan Qiyas menurut ahli ilmu UshulFiqih adalah : mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, dalam hukum yang ada nashnya, karena ada persamaan kedua itu dalam illathukumnya.

Dibawah ini contoh qiyas hukum syara’ dan hukum positif yang dapat menjelaskan definisi tersebut, yaitu meminum khamr adalah kasus yang ditetapkan hukumnya oleh nash, yaitu pengharaman yang ditunjukkan oleh firman Allah SWT:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_͑ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ

 “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Karena suatuillat, yaitu: memabukkan. Maka setiap minuman keras yang terdapat padanya illat memabukkan disamakan dengan khamr mengenai hukumnya dan haram meminumnya.[8]

Rukun-rukun Qiyas yaitu:

  1. Ashal yaitu masalah yang telah ditetapkan hukumnya baik dalam Al-Qur’an atau Hadits. Ashal juga disebut al-MaqishAlaih(tempat mengqiyaskan sesuatu). Misalnya, khamr yang ditegaskan haramnya dalam surat Al-Maidah ayat 90.
  2. Adanya Hukum Ashal, yaitu hukum syara’ yang ada nashnya pada ashal (pokok)nya, yang hendak ditetapkan pada far’u (cabang) dengan jalan qiyas. Misalnya hukum haram khamryang ditegaskan dalam Al-Qur’an.
  3. Adanya far’u (cabang), yaitu sesuatu yang tidak ada ketegasan hukumnya dalam Al-Qur’an, sunnah atau ijma’, yang hendak ditemukan hukumnya melalui qiyas, misalnya minuman keras wisky.
  4. Illat, yaitu: suatu sifat yang dijadikan dasar untuk membentuk hukum pokok, dan berdasarkan adanya keberadaaan sifat itu pada cabang (far’u), maka ia disamakan dengan pokoknya dari segi hukumnya.[9]
  1. D.    Pengaruh Logika Aristoteles terhadap QiyasUshul Fiqih

Ali Samial-Nasysyar umpamanya, dalam bukunya Manhajal-Bahs‘indMufakkirial-IslamwaNaqdal-Musliminlial-Mantiq Aristoteles, membahas secara detail mengenai kemungkinan terpengaruhnya ushul fiqih, khususnya qiyas oleh logika Aristoteles. Secara tegas, dia menolak dugaan ini, ia berpendapat bahwa logika pada qiyasushulfiqh merupakan logika berdiri sendiri yang tidak ada kaitannya dengan manthiqAristo. Metode berfikir spekulatif yang dikembangkan oleh al-Syafi’i, yaitu qiyas berbeda substansinya dengan metode berfikir spekulatif yang dikembangkan oleh Aristoteles, yaitu analogi (tamsil), karena meskipun metode qiyas bersifat dzanni, tetapi didasarkan pada sesuatu yang qath’I yaitu al-Qur’an dan Hadits, oleh karenanya hasilnya menjadi qat’i (tidak bernilai spekulatif).

Selanjutnya, filsafat Yunani, khususnya logika Aristoteles benar-benar mendapatkan lahan subur bagi perkembangannya di dunia Islam. Al-Syafi’I yang hidup pada masa khalifah Harun al-Rasyid, bisa jadi secara sengaja atau tidak, ikut terpengaruh trend pemikiran pada waktu itu, yaitu pemikiran spekulatif falsafi Aristotelian.[10]

Kemudian qiyas pasca al-Syafi’idifahami mirip dengan prinsip-prinsip silogisme Aristoteles, yang terdiri dari premis-premis yang konklusinya harus sesuai dengan premis mayornya. Hal inilah yang menjadikan kosepqiyas menjadi tidak produktif lagi, sebagaimana prinsp silogisme deduktif yang tidak mampu  melahirkan pengetahuan baru yang orisinil. Kekurangmampuan prinsip silogisme dalam menemukan ilmu baru ini, dilontarkan oleh Francis Bacon. Menurutnya, logika deduktif-sillogistik tidak memberikan manfaat sama sekali, karena tidak menambahkan sesuatu pun pada kemampuan manusia untuk menguasai dunia dan alam. Bagi Bacon, logika deduktif tidaklah cukup untuk menemukan kebenaran, karena kepelikan alam jauh lebih besar daripada kepelikan argument.

Berdasarkan ini, maka terbangun asumsi bahwa qiyas pada awalnya bersifat liberal dan dinamis, yaitu pada masa sebelum al-Syafi’I, dan menjadi stagnan pasca pembakuan oleh al-Syafi’i, disebabkan adanya pengaruh silogisme Aristoteles.[11]

 IV.            KESIMPULAN

Logika adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. agar dapat berpikir lurus, tepat, dan teratur, logika menyelidiki, merumuskan serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati. Dalam logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatan. Karena berpikir lurus dan tepat, merupakan objek formal logika.

Qiyas adalah metode atau penetapan nilai hukum yang berusaha mencari ketetapan hukum tentang situasi baru yang tidak diungkap oleh nash dengan menerapkan  ketetapan hukum yang telah diungkap oleh nash, jika ia mempunyai sebab yang sama.

Qiyas yang semula berarti ra’y atau penalaran bebas yang dinamis, pada masa pasca al-Syafi’I berubah menjadi penalaran yang tunduk dibawah premis mayor yang diambil dari teks suci Al-Qur’an dan al-Hadits. Akibatnya, qiyas menjadi kurang poduktif karena tidak ada penemuan hukum yang benar-benar baru. Perubahan itu terjadi diduga skuat karena masuknya silogisme logika Aristoteles.

    V.            PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.


 

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal, Filsafat ilmu. (Jakarta: Raja Grafindo. 2010)

Effendi, Satria, M. Zein, Ushul Fiqh,(Jakarta: Prenada Media, 2005), cet. 1

Khallaf, Abdul Wahhab, IlmuUshul Fiqh, (Semarang: Dina Utama, 1994), cet. 1

Roy, Muhammad, Ushul Fiqih Madzhab Aristotes, (SafiriaInsania Press ), Cet. 1

Surajiyo, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. 2

Zuhri, Saifudin, Ushul Fiqih, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), cet. 1

 


[1] Muhammad Roy, Ushul Fiqih Madzhab Aristotes, (SafiriaInsania Press ), Cet. 1 hlm.13-14

[2] Surajiyo, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. 2, hlm. 18-19

[3] Ibid, hlm. 89-90

[4] Amsal Bakhtiar, Filsafat ilmu. (Jakarta: Raja Grafindo. 2010),hlm. 30-31

[5] Muhammad Roy, Op. Cit, hlm. 19

[6] Saifudin Zuhri, Ushul Fiqih, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), cet. 1, hlm. 9-10

[7] Muhammad Roy, Op.cit, hlm. 16

[8] Abdul Wahhab Khallaf, IlmuUshul Fiqh, (Semarang: Dina Utama, 1994), cet. 1, hlm. 66-67

[9] Satria Effendi, M. Zein, Ushul Fiqh,(Jakarta: Prenada Media, 2005), cet. 1, hlm. 132-135

[10] Ibid, hlm. 135

[11] Ibid, hlm. 136

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s