MENGGUNAKAN ALAT KELAMIN BUATAN DAN HUKUM MENGHENTIKAN IDDAH, HAID DENGAN MENGGUNAKAN OBAT, OPERASI DAN SEJENISNYA

Standar

MENGGUNAKAN ALAT KELAMIN BUATAN DAN HUKUM MENGHENTIKAN IDDAH, HAID DENGAN MENGGUNAKAN OBAT, OPERASI DAN SEJENISNYA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Masailul Fiqhiyah

Dosen Pengampu : Bpk. Amin Farih, M.Ag

Disusun Oleh:

AMRI KHAN                                    (103111109)

AGUSTIN MUIZZATUL H            ( 083111132 )

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2009

 

 

 

MENGGUNAKAN ALAT KELAMIN BUATAN DAN HUKUM MENGHENTIKAN IDDDAH, HAID DENGAN MENGGUNAKAN OBAT, OPERASI DAN SEJENISNYA

 

       I.            PENDAHULUAN

Pada zaman sekarang ini, banyak fenomena yang terjadi di dunia ini. Perkembangan teknologi menuntut manusia untuk terus dan selalu mengikutinya. Dengan berkembangnya teknologi banyak makhluk yang merubah ciptaan Allah dan juga banyak dari mereka yang menggunakan anggota tubuh buatan termasuk juga alat kelamin buatan. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan operasi. Pada dasarnya merubah ciptaan Allah itu tidak dibenarkan dalam islam.

Kemudian masalah selanjutnya yaitu tentang menghentikan iddah, haid dengan menggunakan obat, operasi dan sejenisnya. Pada masa sekarang ini banyak sekali pasangan suami istri yang menjalin kehidupan rumah tangga terputus di tengah jalan karena adanya sebab. Baik itu cerai mati maupun cerai hidup. Sebab munculnya kasus perceraian inilah mulai adanya masa iddah ( mas menunggu ) bagi perempuan ( isteri ). Adanya ketentuan masa iddah bagi perempuan yang ditolak bertujuan untuk mengetahui kemungkinan hamil atau tidaknya perempuan yang ditalak. Pada masa sekarang ini banyak sekali kita jumpai perempuan yang menggunakan obat untuk menghentikan haid. Bagaimana pandangan islam tentang penggunaan obat tersebut.

    II.            RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana Hukum Menggunakan Alat Kelamin Buatan?
  2. Bagaimana Hukum Menghentikan Iddah, Haid dengan Menggunakan Obat, Operasi dan Sejenisnya?

 

 III.            PEMBAHASAN

  1. Hukum Menggunakan Alat Kelamin Buatan

Manusia yang lahir dalam keadaan normal jenis kelaminnya sebagai pria atau wanita karena mempunyai alat kelamin satu berupa dzakar (penis) atau farj (vagina) yang normal karena sesuai dengan organ kelamin dalam, tidak diperkenankan oleh hokum islam melakkukan operasi penggantian kelamin.[1] Diantara dallil-dalil syar’i yang mengharamkan operasi ganti kelamin bagi orang yang lahir normal jenis kelaminnyaantara lain:

Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 119

öNßg¨Y¯=ÅÊ_{ur öNßg¨YtÏiYtB_{ur öNßg¯RtãBUyur £`à6ÏnGu;ã‹n=sù šc#sŒ#uä ÉO»yè÷RF{$# öNåk¨XzßDUyur žcçŽÉitóãŠn=sù šYù=yz «!$# 4 `tBur ɋς­Ftƒ z`»sÜø‹¤±9$# $wŠÏ9ur `ÏiB Âcrߊ «!$# ô‰s)sù tÅ¡yz $ZR#tó¡äz $YYÎ6•B ÇÊÊÒÈ

Artinya:

Dan saya ( setan ) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka ( memotong telinga-telinga hewan ternak ), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka ( mengubah ciptan Allah ), maka sungguh mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain dari Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. ( QS. An- Nisa’ : 119 )

 

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa kita sebagai makhluk ciptaan Allah, tidak boleh mengubah segala bentuk ciptaan Allah. Contoh saja jenis kelamin yang normal yang diberikan kepada seseorang, maka harus disyukuri dengan jalan menerima kodratnya dan menjalankan semua kewajibannya sebagai makhluk terhadap khaliqnya sesuai dengan kodrat tanpa mengubah jenis kelaminnya.

Sedangkan ketika kita menjumpai kasus yang berbeda, misalnya ada  seorang laki-laki atau perempuan yang kelamin dalamnya normal, tetapi kelamin luarnya tidak normal. Misalnya, kelamin luar berlawanan dengan kelamin dalamnya, hukum mengoperasinya adalah mubah atau boleh, apabila ada hajat syar’iyyah atau hajat yang sangat penting.[2]

Mengenai orang yang lahir tidak normal jenis kelaminnya, hukum melakukan operasi kelaminnya tergantung pada keadaan organ kelamin luar atau dalam, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:[3]

  1. Apabila seseorang punya organ kelamin dua / ganda maka untuk memperjelas identitas jenis kelaminnya, ia boleh melakukan operasi mematikan organ kelamin yang satu dan menghidupkan organ kelamin yang lain yang sesuai dengan organ kelamin bagian dalam. Misalnya, seseorang mempunyai dua alat kelamin yang berlawanan, yakni penis dan vagina, dan disamping itu ia juga mempunyai rahim dan ovarium yang merupakan ciri khas dan utama untuk jenis kelamin wanita. Maka, ia boleh bahkan disarankan untuk operasi mengangkat penisnya demi mempertegas identitas jenis kelamin kewanitaannya. Dan sebaliknya, ia tidak boleh mengangkat vaginanya dan membiarkan penisnya, karena berlawanan dengan organ kelaminnya yang bagian dalam yang lebih vital, yakni rahim dan ovarium.
  2. Apabila seseorang punya organ kelamin satu yang kurang sempurna bentuknya, misalnya ia mempunyai vagina yang tidak berlubang dan ia mempunyai rahim dan ovarium, maka ia boleh bahkan di anjurkan oleh agama untuk operasi memberi lubang pada vaginanya. Demikian pula kalau seseorang punya penis, tetapi lubang penisnya tidak berada diujung penisnya, maka ia pun boleh operasi untuk dibuatkan lubangnya yang normal. Adapun dalil-dalil syar’i yang bisa membenarkan operasi yang bersifat memperbaiki / menyempurnakan organ kelamin antara lain sebagai berikut:

لجلب المصلحة ودفع المفسدة

Artinya:

Untuk mengusahakan kemaslahatannya dan menghilangkan kemudaratannya.

  1. Hukum Menghentikan Iddah, Haid dengan Menggunakan Obat, Operasi dan Sejenisnya
    1. Pengertian Iddah

Iddah adalah masa menanti yang diwajibkan atas perempuan yang diceraikan suaminya ( cerai hidup atau cerai mati ), gunanya supaya diketahui kandungannya berisi atau tidak.[4]

Perempuan yang ditinggalkan suaminya tadi ada kalanya hamil, ada kalanya tidak. Maka ketentuan iddahnya adalah sebagai berikut:

1)      Bagi perempuan yang hamil, iddahnya adalah sampai lahirnya anak yang dikandungnya itu, baikcerai mati maupun cerai hidup.

Firman Allah SWT:

4 àM»s9’ré&ur ÉA$uH÷qF{$# £`ßgè=y_r& br& z`÷èŸÒtƒ £`ßgn=÷Hxq 4 ÇÍÈ

Artinya:

“ Dan perempuan-perempuan yang hamil wakti iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” ( At- Talaq : 4 )

 

2)      Perempuan yang tidak hamil, adakalanya cerai mati atau cerai hidup. Cerai mati iddahnya yaitu 4 bulan 10 hari.

Firman Allah SWT:

tûïÏ%©!$#ur tböq©ùuqtFムöNä3ZÏB tbrâ‘x‹tƒur %[`ºurø—r& z`óÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spyèt/ö‘r& 9åkô­r& #ZŽô³tãur (ÇËÌÍÈ

Artinya:

“ Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu, dengan meninggalkan istri-istri ( hendaklah para istri itu ) menangguhkan dirinya ( beriddah ) 4 bulan 10 hari.” ( Al-Baqarah : 234 )

Cerai hidup : perempuan yang diceraikan suaminya ceai hidup, kalau dia dalam keadaan haid iddahnya adalah tiga kali sucian.[5]

Firman Allah SWT:

àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4 ÇËËÑÈ

Artinya:

“ wanita-wanita yang di talak hendaklah menahan diri ( menunggu ) tiga kali suci.” ( Al- Baqarah : 228 )

Kalau perempuan itu tidak sedang haid, iddahnya selama tiga bulan.

Firman Allah SWT:

‘Ï«¯»©9$#ur z`ó¡Í³tƒ z`ÏB ÇيÅsyJø9$# `ÏB ö/ä3ͬ!$|¡ÎpS ÈbÎ) óOçFö;s?ö‘$# £`åkèE£‰Ïèsù èpsW»n=rO 9ßgô©r& ‘Ï«¯»©9$#ur óOs9 z`ôÒÏts† 4 ÇÍÈ

Artinya:

“ Dan mereka yang telah putus haid karena usia di antara perempuan-perempuan, jika kamu ragu ( tentang masa iddahnya ), maka iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu ( pula ) perempuan-peremuan yang tidak haid.” ( At-Talaq: 4 )

  1. Pengertian Haid

Haid menurut bahasa berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut syara’ haid adalah pendarahan yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab dan pada waktu tertentu.[6]

  1. Hukum Menghentikan Iddah, Haid dengan Menggunakan Obat, Operasi dan Sejenisnya.

Menurut Syeh Muhammad bin Shahil Al Utsaimin ( ulama besar Arab Saudi ) hukum menghentikan iddah, haid dengan menggunakan obat, operasi dan sejenisnya itu di bolehkan, tapi dengan syarat apabila tidak di khawatirkan terjadinya madharat pada si wanita. Dengan demikian apabila dikhawatirkan ada madharat maka tidak diperbolehkan. [7] Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu‘ ÇËÒÈ

Artinya:

“….. Dan janganlah kamu membunuh dri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.” ( An-Nisa’ : 29)

Hokum menghentikan iddah, haid dengan obat hukumnya boleh (jawaz) tapi bilamana minum obat itu mengakibatkan bahaya atau tidak bias hamil, maka hukumnya haram. Bila minum obat tersebut mengakibatkan tertundanya kehamilan, maka hukumnya makruh.

adapun darah yang keluar akibat minum obat, tetap dihukumi haid apabila sesuai dengan syarat-syarat haid. Sedangka suci yang tertunda akibat minum obat tersebut juga dianggap suci.

Keterangannya dari kitab:

Fiqh Madzahibul Arba’ah 1/124

ونصه: اما اذا خرج بسبب دواء فى غير موعده فان الظاهر عندهم انه لا يسمى حيضا فعلى المراءة ان تصوم وتصلى ولكن عليها ان تقضى

Sidang Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia tanggal 12 januari 1979 telah mengambil keputusan :

  1. Penggunaan pil anti haid untuk kesempatan ibadah haji hukumnya mubah.
  2. Penggunaan pil anti haid dengan maksud agar dapat mencukupi puasa Ramadhan sebulan penuh, hukumnya makruh. Akan tetapi, bagi wanita yang sukar menqada puasanya pada hari lain, hukumnya mubah.
  3. Penggunaan pil anti haid selain dari dua hal tersebut diatas, hukumnya tergantung pada niatnya. Bila untuk perbuatan yang menjurus kepada pelanggaran hukum agama, hukumnya haram.[8]

 IV.            ANALISIS

  1. Operasi penggantian dan penyempurnaan kelamin pada dasarnya adalah tidak diperkenankan dalam islam. Hal ini sama saja mengubah cipaan Allah. Akan tetapi orang yang lahir tidak sempurna ( tidak normal ) jenis kelaminnya, maka hukum melakukan operasi kelaminnya tergantung pada keadaan organ kelamin luar dan dalam.
  2. Menghentikan iddah, haid dengan obat, operasi dan sejenisnya itu tidak diperbolehkan apabila dikhawatirkan terjadi madharat, apabila tidak dikhawatirkan terjadi madharat maka diperbolehkan.

.

    V.            PENUTUP

Demikinlah makalah ini kami buat. Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari pembaca demi lebih baiknya penulisan makalah selanjutnya. Semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin…

DAFTAR PUSTAKA

 

Himpunan Fatwa Majlis Ulama Indonesia ( Jakarta: Bagian Proyek Sarana dan Prasarana Produk Halal Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama RI, 2003 )

Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiyah, ( Jakarta: Haji Masagung, 1994 )

Mahfudh, Sahal. Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, ( Surabaya: LTN NU, 2004 )

Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam, ( Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994 ), hlm. 414

http:// blog.re.or.id/hukum-dan-masail-haid

http:// ruang muslim.multiply.coM

 


[1] Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, ( Jakarta: Haji Masagung, 1994 ), hlm. 170

[2] Sahal Mahfudh, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, ( Surabaya: LTN NU, 2004 ), hlm. 360

[3] Masjfuk Zuhdi, op.cit, hlm. 172-173

[4] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, ( Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994 ), hlm. 414

[5] Ibid, hlm 415

[6] http:// blog.re.or.id/hukum-dan-masail-haid

[7] http:// ruang muslim.multiply.com

[8] Himpunan Fatwa Majlis Ulama Indonesia ( Jakarta: Bagian Proyek Sarana dan Prasarana Produk Halal Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama RI, 2003 ), hlm. 56

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s