PERILAKU DALAM TEORI PSIKOLOGI

Standar

PERILAKU DALAM TEORI PSIKOLOGI

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas

Mata kuliah: Akhlak II

Dosen pengampu : Ahmad Muthohar, M.Ag

Disusun Oleh :

 

Maftukh Ahnan        (103111056)

Maghfiroh                  (103111057)

Miftahul Jannah       (103111059)

Muhammad Aqshol  (103111060)

M. Azhar Farih         (103111062)

Amri Khan                 (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

 

 

PERILAKU DALAM TEORI PSIKOLOGI

 

  1. I.            PENDAHULUAN

Perilaku dalam teori psikologi sangat berkaitan dengan kejiwaan manusia baik dalam masalah kebutuhan maupun konsep diri, perilaku manusia akan mengikuti kebutuhanya, dari kehendak maupun angan-angan. Penyesuian diri merupakan suatu proses dinamik yang terjadi terus-menerus, dengan itu orang mengubah perilakunya untuk mendapatkan hubungan yang lebih baik antara dirinya  dan lingkungan.

Dan dari syarat-syarat terpenting untuk mendapatkan penyesuaian diri itu adalah agar lingkungan di mana individu itu hidup dapat membantunya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang bermacam-macam. Jika individu tidak dapat memenuhi kebutuhannya dalam lingkungan itu, maka ia akan dihadapkan dengan berbagai faktor penghambat dan penekan yang biasanya menyebabkan terjadinya kegoncangan dalam keseimbangan atau ketidak serasian. Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai perilaku dalam teori psikologi, perilaku menurut teori kebutuhan, dan prilaku dalam konsep diri.

  1. II.            RUMUSAN MASALAH
  2. Apa Pengertian Perilaku Dalam Teori Psikologi?
  3. Bagaimana Perilaku Menurut Teori Kebutuhan?
  4. Bagaimana Perilaku Dalam Konsep Diri?
  1. III.            PEMBAHASAN
  2. Pengertian Perilaku Dalam Teori Psikologi

Kata“teori” adalah kata dalam bahasa inggris yang penggunaannya sering kali tidak tepat dan disalah artikan. Teori merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan suatu penelitian dan mengatur observasi.[1]

Psikologi (psichology) secara formal didefinisikan sebagai kajian ilmiah mengenai perilaku dan proses-proses mental. Perilaku (behafior) adalah segala sesuatu yang kita lakukan yang dapat diamati secara langsung. Contoh: bayi menangis, atau mahasiswa mengendarai motor. Proses mental (mental process) adalah berbagai pikiran, perasaan, dan motifasi yang dialami oleh kita secara pribadi, namun tidak dapat diamati secara langsung. Meskipun kita tidak dapat melihat pikiran  dan perasaan secara langsung, namun kedua hal itu adalah nyata yag meliputi, perasaan bayi ketika ibunya meninggalkan kamar, dan ingatan seorang mahasiswa tentang mengendarai sepeda motor.[2]

Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Perilaku yang dimaksud adalah, perilaku motorik yaitu perilaku dalam bentuk gerakan. Perilaku kognitif ialah perilaku dalam bentuk bagaimana individu mengenal alam disekitarnya. Perilaku konatif ialah perilaku yang berupa dorongan dari dalam individu. Perilaku afektif ialah perilaku dalam bentuk perasaan atau emosi.

Menurut perilaku dalam teori psikologi menjelaskan bahwa manusia terbentuk dari dalam jiwanya sendiri masyarakat maupun lingkungan tidak dapat mempengaruhi dari terbentuknya individu tersebut.

  1. Perilaku Menurut Teori Kebutuhan

Kebutuhan adalah suatu istilah yang luas, dapat mencakup istilah-istilah lainnya yang tidak asing lagi bagi kita dalam ilmu jiwa, misalnya: dorongan, motif, keinginan, tuntutan, dan cita-cita. Istilah-istilah itu, kendatipun berbeda-beda namanya, namun semuanya menunjukkan bahwa masing-masingnya mengandung arti penggerak atau dorongan. Demikian itu dari segi arti secara harfiah yang umum, adapun dari segi psikologis, maka kata “kebutuhan” atau “dorongan” umpamanya, adalah suatu istilah yang digunakan secara sederhana untuk menunjukkan suatu pikiran (concept) yang menunjuk kepada bahwa kelakuan makhluk hidup itu dalam perubahan dan perbaikan yang tergantung atas tunduk dan dihadapkannya kepada proses pemilihan.[3]

Maslow (1970) melukiskan manusia sebagai makhluk yang tidak pernah berada dalam keadaan sepenuhnya puas. Bagi manusia, kepuasan itu sifatnya sementara. Jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, maka kebutuhan-kebutuhan yang lainnya akan muncul menuntut pemuasan, begitu seterusnya. Itulah yang dimaksud dengan kepuasan sementara menurut Maslow. Dan berdasarkan ciri yang demikian, Maslow mengajukan gagasan bahwa kebutuhan yang ada pada manusia adalah merupakan bawaan, tersusun menurut tingkatan atau bertingkat. Oleh Maslow kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu dirinci kedalam lima tingkat kebutuhan, yakni:

1. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis,

2. Kebutuhan akan rasa aman,

3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki,

4. Kebutuhan akan rasa harga diri, dan

5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.[4]

Menurut Maslow, kebutuhan yang ada di tingkat dasar pemuasannya lebih mendesak dari pada kebutuhan yang ada di atasnya. Sebagai contoh, kebutuhan akan makan (kebutuhan fisioligis) lebih mendesak untuk dipuaskan dari pada kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa aman ini lebih mendesak daripada kebutuhan akan cinta, dan seterusnya. Dalam pandangan Maslow, susunan kebutuhan-kebutuhan dasar yang bertingkat itu merupakan organisasi yang mendasari motivasi manusia. Dan dengan melihat pada tingkat kebutuhan atau corak pemuasan kebutuhan pada diri individu, kita bisa melihat kualitas perkembangan kepribadian individu tersebut. Semakin individu itu mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhannya yang tinggi maka individu itu akan semakin mampu mencapai individualitas, matang, dan berjiwa sehat dan sebaliknya.

Maslow mengingatkan bahwa dalam pemuasan kebutuhan itu tidak selalu kebutuhan yang ada dibawah lebih penting atau didahulukan dari kebutuhan yang ada di atasnya. Secara umum kebutuhan yang lebih rendah pemuasannya lebih mendesak dari pada kebutuhan yang lebih tinggi. Berikut ini perincian dari kelima tingkat kebutuhan sebagaimana yang dimaksudkan oleh maslow.

  1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis

Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (physiological needs) adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis itu antara lain kebutuhan akan makanan, air, oksigen, aktif, istirahat, keseimbangan temperatur, seks, dan kebutuhan akan stimulasi sensoris.[5]

Sebagai contoh bagi orang yang lapar berat dan membahayakan dirinya, motivasi utamanya adalah makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Bahkan Maslow (Goble, 1987) mengatakan : “ Ia bermimpi tentang makanan, emosinya tergerak dan tertuju kepada makanan, pikirannya tertuju pada makanan, serta keinginannya juga tertuju kepada makanan”.[6]

  1. Kebutuhan akan rasa aman

Apabila kebutuhan fisiologis individu telah terpuaskan, maka dalam diri individu akan muncul suatu kebutuhan lain sebagai kebutuhan yang dominan dan menuntut pemuasan, yakni kebutuhan akan rasa aman (need for self security). Yang dimaksud oleh Maslow dengan kebutuhan akan rasa aman ini adalah sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya.[7] Kebutuhan akan rasa aman terlihat pada segi-segi jasmani dan mental. Seorang anak ingin berrlindung kepada ibunya dan ingin mendapat makanan, serta ingin dilindungi dari dingin, panas, dan lain-lainnya.[8]

  1. Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki.

Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki (need for love and belongingness) ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlainan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan kelompok lain ataupun di lingkungan kelompok di masyarakat. Maslow juga menekankan bahwa kebutuhan akan cinta itu mencakup keinginan untuk mencintai dan dicintai. Mencintai dan dicintai ini, menurut Maslow, merupakan prasyarat bagi adanya perasaan yang sehat. Sebaliknya, tanpa cinta orang akan dikuasai oleh perasaaan kebencian, rasa tak berharga dan kehampaan.

Maslow bahkan menemukan bahwa tanpa cinta dan kasih sayang, pertumbuhan dan perkembangan individu akan terhambat. Para ahli Psikopatologi mengatakan bahwa terhalangnya pemuasaan kebutuhan akan rasa cinta dan kasih sayang merupakan penyebab utama terjadinya salah satu (maladjustment). Jadi, kebutuhaan akan rasa cinta dan kasih sayang serta rasa memiliki dan dimiliki merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan sejak masih bayi sampai tua.[9]

  1. Kebutuhan akan rasa harga diri

Kebutuhan yang keempat yakni, kebutuhan akan rasa harga diri (need for self-esteem), oleh Maslow dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, dan bagian yang kedua adalah penghargaan dari orang lain. Bagian pertama mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Adapun bagian yang kedua meliputi antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya.[10]

Terpuaskannya kebutuhan akan rasa harga diri  pada individu akan menghasilkan sikap percaya diri, rasa berharga, rasa kuat, rasa mampu, dan perasaan berguna. Sebaliknya, frustasi atau terhambatnya pemuasan kebutuhan akan rasa harga diri itu akan menghasilkan sikap rendah diri, rasa tak pantas, rasa lemah, rasa tak mampu, dan rasa tak berguna, yang menyebabkan individu tersebut mengalami kehampaan, keraguan dan keputusasaan dalam menghadapi tuntutan-tuntutan hidupnya, serta memiliki penilaian yang rendah atas dirinya sendiri dalam kaitannya dengan orang lain. Maslow menegaskan bahwa rasa harga diri yang sehat lebih didasarkan pada  prestasi ketimbang prestise, status atau keturunan. Dengan perkataan lain, rasa harga diri individu yang sehat adalah hasil usaha individu yang bersangkutan.

  1. Kebutuhan akan aktualisasi diri

Kebutuhan untuk mengungkapkan diri atau aktualisasi diri (neeed for self actualization) merupakan kebutuhan manusia yang paling tinggi dalam teori Maslow. Kebutuhan ini akan muncul apabila kebutuhan-kebutuhan yang ada di bawahnya telah terpuaskan dengan baik. Maslow menandai kebutuhan akan aktualisasi diri sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya. Atau, hasrat dari individu untuk menyempurnakan dirinya melalui pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya. Contoh dari aktualisasi diri ini adalah seseorang yang berbakat musik menciptakan komposisi musik, seseorang yang memiliki potensi intelektual menjadi ilmuan, dan seterusnya.[11]

Maslow menambahkan bahwa, apabila anak-anak diasuh dalam suasana aman, hangat, dan bersahabat, maka anak-anak itu akan mampu menjalani proses-proses perkembangannya dengan baik. Sebaliknya apabila anak-anak itu berada dibawah kondisi yag buruk (mengalami hambatan dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya), maka mereka akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan potensi-potensinya.

Karakteristik sementara orang-orang yang mengaktualisasi diri menurut Maslow yaitu, persepsi yang lebih efisien akan kenyataan;penerimaan akan diri, orang lain, dan hal-hal alamiah; spontanitas, kesederhanaan, dan kealamian; berpusat pada masalah; kebutuhan akan privasi; kemandirian; penghargaan yang selalu baru; pengalaman puncak; gemeinschaftsgefuh; hubungan interpersonal yang kuat; struktur karakter demokratis; diskriminasi antara cara dan tujuan; rasa jenka atau humor yang filosofis; kreatifitas; dan tidak mengikuti enkulturasi atau apa yang diharuskan oleh kultur.[12]

  1. Perilaku Dalam Konsep Diri

Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku individu. Individu memandang atau menilai dirinya sendiri akan tampak jelas dari seluruh perilakunya, dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang memiliki cukup kemampuan untuk melaksanakan tugas, maka individu itu akan menampakan perilaku sukses dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang kurang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, maka individu itu akan menunjukkan ketidakmampuan dalam perilakunya.

Pujijogjanti mengatakan ada tiga peranan penting dari konsep diri sebagai penentu perilaku, yaitu:

  1. Konsep diri berperan dalam mempertahankan keselarasan batin.
  2. Keseluruhan sikap dan pandangan individu terhadap diri berpengaruh besar terhadap pengalamanya.[13]
  3. Konsep diri adalah penentu pengharapan individu.

Calhoun dan Acocella (1995) membagi konsep diri menjadi dua, yaitu konsep diri yang positif dan negatif. Ciri konsep diri yang positif adalah yakin terhadap kemampuan dirinya sendiri dalam mengatasi masalah, merasa sejajar denagan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, sadar bahwa tiap orang mempunyai keragaman perasaan, hasrat, dan perilaku yang tidak disetujui oleh masyarakat serta mampu mengembangkan diri karena sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang buruk dan berupaya untuk  mengubahnya. Sementara itu ciri konsep diri yang negatif adalah peka terhadap kritik, responsif terhadap pujian, punya sikap hiperkritis, cenderung merasa tidak disukai oleh orang lain, dan pesimis terhadap kompetisi.

Konsep diri pada seseorang sesungguhnya tidak mutlak dalam kondisi biner antara positif dan negatif, tetapi karena konsep diri berperan penting sebagai pengarah dan penentu, maka harus diupayakan dengan keras agar individu mempunyai banyak ciri-ciri konsep diri yang positif.

  1. IV.            SIMPULAN

Psikologi (psichology) secara formal didefinisikan sebagai kajian ilmiah mengenai perilaku dan proses-proses mental. Sedangkan Perilaku (behafior) adalah segala sesuatu yang kita lakukan yang dapat diamati secara langsung.

Menurut Maslow kebutuhan manusia  dirinci kedalam lima tingkat kebutuhan, yakni:

  1. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis,
  2. Kebutuhan akan rasa aman,
  3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki,
  4. Kebutuhan akan rasa harga diri, dan
  5. Kebutuhan akan aktualisasi diri

Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku individu. Individu memandang atau menilai dirinya sendiri akan tampak jelas dari seluruh perilakunya, dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri.

  1. V.            PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat, semoga bermanfaat. Tentunya masih banyak kekurangan dalam makalah kami, hal ini tak lepas dari kodrat kami sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun kami nantikan dari semua pihak.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Mohammad, Mohammad Asrori, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)

El-Quusy, Abdul Aziz, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, (Jakarrta: Bulan Bintang, 1974)

Fahmi, Mustafa, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat , (Jakarta: Bulan Bintang’1977)

Feist, Jess, Gregori J. Feist, Theories of personality, terj.Handriatno, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010)

Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawita S, Teori-teori Psikologi, (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2011)

King, Laura A., Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif, terj. Brian Marwensdy, (Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2010)

Koswara, E., Teori-teori Kepribadian, (Bandung: Eresco 1991)

 


[1] Jess Feist, Gregori J. Feist, Theories of personality, terj.Handriatno, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010),  hlm. 5

[2] Laura A. King, Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif, terj. Brian Marwensdy, (Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2010), hlm. 5

[3] Mustafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat , (Jakarta: Bulan Bintang’1977), hlm. 45

[4] E. Koswara, Teori-teori Kepribadian, (Bandung: Eresco 1991), hlm. 118

[5] Ibid, hlm. 119-120

                [6] Mohammad Ali, Mohammad Asrori, Psikologi Remaja, ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hlm. 154

[7] E. Koswara, Op.Cit, hlm.121

                [8] Abdul Aziz El-Quusy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, (Jakarrta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 117

[9] Mohammad Ali, Mohammad Asrori, Op.Cit,, hlm. 156

[11] E. Koswara, Op.cit, hlm. 124-125

[12] Jess Feist dan Gregory J. Feist, Op.Cit, hlm. 345-351

[13] M. Nur Ghufron dan Rini Risnawita S, Teori-teori Psikologi, (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2011), hlm. 18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s