RAHMAT ALLAH SWT

Standar

RAHMAT ALLAH SWT

 

 

MAKALAH

 

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Hadis Tarbawi 1

Dosen Pengampu: Prof. DR. H. M. Erfan Soebahar, M. A.

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

Anis Maulida F                           (103111012)

Lia Fitriana                                 (103111051)

Lu’lu’ Fiddariya                         (103111052)

M. Nurul Khafid                                    (103111054)

Amri Khan                                  (103111109)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

 

RAHMAT ALLAH SWT

 

     I.          PENDAHULUAN

Allah SWT menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bukanlah tanpa maksud. Apapun yang Allah SWT ciptakan mempunyai tujuan dan manfaat. Dari hal paling kecil yang kadang kali luput dari perhatian manusia sampai hal paling besar. Bahkan ujian dan cobaan yang senantiasa menghampiri setiap kehidupan manusia tak lain adalah datang dari Allah SWT.

Allah SWT mempunyai sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dengan sifat Ar-Rahman manusia akan diberikan belas kasih-Nya di dunia sekaligus di akhirat sedangkan sifat Ar-Rahim manusia akan di berikan belas kasihnya hanya di akhirat. Di dunia manusia akan menjalani kehidupan yang menentukan tempat mereka di akhirat kelak. Manusia akan di tempatkan di tempat sesuai dengan apa yang mereka sudah lakukan di dunia. Allah SWT akan  memberikan Rahmat di tempat yang didalamnya terdapat berbagai kenikmatan yaitu surga dan Allah SWT akan memberikan siksanya di tempat yang didalamnya terdapat berbagai penderitaan yang tak lain adalah neraka.

  II.          RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana Hadis Peluang Memperoleh Rahmat Allah SWT ?
  2. Bagaimana Hadis Pengetahuan di Sekitar Siksa dan Surga ?
  3. Bagaimana Hadis Masuk Surga Karena Rahmat Allah ?

 

  1. III.          PEMBAHASAN MASALAH
    1. A.  Hadis Peluang Memperoleh Rahmat Allah SWT

عن ابى هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله ص. م. لما قضى الله الخلق كتب في كتابه فهو عنده فوق العرش ان رحمتي غلبت غضبي(اخرجه البخارى)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah bersabda: Sesungguhnya ketika Allah menciptakan makhluq-Nya, Allah menulis didalam kitab-Nya maka dia menulis di sisi-Nya di atas Arsy-Nya: ‘sesungguhnya rahmat-Ku mendahului atas kemurkaan-Ku’ (H. R. Bukhori)[1]

 

Pada sabda Rasulullah: Dia mencatat di dalam kitab-Nya yaitu Allah memerintahkan Qalam untuk mencatat dalam kitab-Nya. Pencatatan itu bukan bertujuan  agar Dia tidak lupa, tapi ini merupakan bentuk perhatian atas besarnya urusan itu. Di sisi-Nya di atas Arsy yaitu ilmu itu di sisi-Nya tertulis dan di sembunyikan dari seluruh makhluq.

Maksud dari firman Allah ‘sesungguhnya rahmat-Ku mendahului atas kemurkaan-Ku’, kemurkaan merupakan ketetapan dari   murka yaitu menimpakan siksa kepada orang yang terkena murka-Nya, karena mendahului dan memenangkan itu dengan melihat kepada ta’alluq-Nya, yaitu ta’alluq rahmat lebih kuat dari pada ta’alluq murka, karena Rahmat itu merupakan ketetapan-Nya sedangkan murka itu tergantung kepada amal hamba.

Dalam kitab Bad’ul Khalqi ada tambahan, At-Turbusyi berkata: dalam mendahulukan Rahmat ada keterangan bahwa makhluq itu lebih banyak mendapat keadilan dalam Rahmat daripada dalam siksa karena Rahmat itu akan didapat meskipun dia tidak berhak, tetapi kemurkaan itu akan diterima oleh orang yang berhak.[2]

Allah ta’ala maha suci dari bersemayam disuatu tempat dan catatan-catatan itu bukan bertujuan agar dia tidak lupa. Allah ta’ala Maha Suci dari itu semua. Adapun yang ditulis adalah firman Allah ta’ala : “sesungguhnya Rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku”, maka yang dimaksud amarah atau murka adalah dampak dari amarah, yakni menimpakan siksaan kepada orang yang dimurkai. Rahmat Allah ta’ala mengalahkan murkanya karena sifat mendahului dan mengalahkan itu berdasarkan adanya ta’alluq (hubungan atau keterkaitan). Maksudnya adalah keberadaan hubungan Rahmat dengan Allah ta’ala lebih dahulu daripada keberadaan hubungan amarahnya karena sifat rahmat merupakan sifat kesempurnaan yang selalu menetap pada dzatnya yang maha suci, sedangkan sifat amarah itu bergantung pada amal perbuatan manusia.

Al Qasthlani menyebutkan dalam kitab Bad’i Al-Khalqi sebagai tambahan penjelasan mengenai hal ini, dia mengutip pendapat At- Turubasyti bahwa Rahmat Allah ta’ala mendahului (mengalahkan) amarah atau murkanya mengisyaratkan bahwa semua makhluk mempunyai bagian Rahmat Allah ta’ala yang lebih besar daripada bagian adzabnya. Rahmat diberikan Allah ta’ala kepada mereka tanpa didahului oleh sebab, sedangkan amarah atau murkanya diberikan kepada mereka setelah adanya suatu sebab. Rahmat Allah merata kepada seluruh umat manusia, baik masih berupa janin, bayi yang menyusu, kanak-kanak, maupun remaja tanpa didahului oleh ketaatan yang mereka kerjakan. Sebalikanya, Allah tidak menimpakan amarah atau kemurkaannya kepada mereka kecuali jika mereka berbuat sesuatu yang melanggar hukumnya. [3]

Dalam kitab Al-Mashabih dijelaskan bahwa amarah atau kemurkaan adalah kehendak untuk menyiksa, sedang rahmat adalah kehendak untuk memberi pahala. Jadi, rahmat adalah pahala dan kebaikan, sedangkan murka adalah sangsi dan adzab. Dengan demikian, rahmat Allah ta’ala lebih banyak daripada murkanya.[4]

Rahmat merupakan kata yang mencakup setiap kebaikan dan murka adalah kata yang mencakup setiap keburukan. Tempat rahmat yang murni adalah surga dan tempat murka yang murni adalah neraka. Adapun dunia adalah tempat campuran antara rahmat dan murka.[5] Allah akan memberikan Rahmat-Nya kepada manusia yang senantiasa melakukan kebaikan yang semata hanya karena Allah SWT., dan murka Allah akan senantiasa menunggu manusia yang setia kepada keburukan.

Satu hal yang harus kita ketahui bahwa Rahmat Allah SWT diberikan kepada seluruh mahluq ciptaan, tidak terkecuali pada saat manusia di dunia. Setiap manusia mendapatkan Rahmat Allah SWT tanpa terkecuali, baik muslim ataupun non Muslim.  Pada realitanya sering kali orang Islam menuntut keadilan terhadap Allah SWT terhadap semua kebaikan atau bahkan kenikmatan yang diberikan terhadap orang non Muslim. Misalnya saja orang-orang non Muslim mendapatkan berbagai kenikmatan berupa ilmu, harta benda, dan lain sebagainya. Sedangkan orang Islam sendiri pada saat ini sering kali tertinggal dalam segala hal. Untuk itu kita sebagai orang Islam jangan menyia-nyiakan segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT.

  1. B.  Hadis Pengetahuan di Sekitar Siksa dan Surga

عن ابى هريرة ان رسول الله ص . م. قال لو يعلم المؤمن ما عند الله من العقوبة ما طمع بجنته احد ولو يعلم الكافر ما عند الله من الرحمة ما قنط من جنته احد (اخرجه المسلم)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda ‘seandainya orang mukmin tahu siksa yang ada di sisi Allah, tentu tak seorangpun berani mengharapkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir tahu Rahmat yang di sisi Allah, tentu tak seorangpun berputus asa untuk mendapatkan surga-Nya. (H.R. Muslim)[6]

Sifat rahmat itu adalah kelembutan dalam hati yang mencakup kebaikan, kehalusan, dan kasih sayang. Apabila Allah mensifati Dzat-Nya dengan Al-Bari, maha suci nama-Nya dan maha bersih sifat-Nya, maka maksudnya bukan sebatas Ihsan (berbuat baik) tanpa ada kelembutan hati, karena dia adalah Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi, manusia mungkin dapat menyifati dirinya dengan Ihsan.

Makna rahmat adalah memberikan nikmat dan keutamaan. Rahmat Allah di dunia akan di berikan kepada seluruh manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir. Akan tetapi, di akhirat nanti, Allah Maha penyayang terhadap orang mukmin dengan demikian, makna Al-Rahman adalah memiliki keluasan Rahmat yang tidak terbatas kepada orang-orang yang menaati-Nya saja. Bahkan, Rahmat Allah itu meliputi keturunan mereka sebagai kemuliaan dan ketenangan bagi mereka.[7]

Sedangkan siksa adalah balasan Allah SWT. yang diberikan di Neraka terhadap orang-orang yang melakukan keburukan-keburukan atau tidak mentaati segala larangan Allah SWT. Orang-orang non Muslim yang pada saat di dunia masih mendapatkan Rahmat Allah SWT. nantinya di akhirat tidak akan mendapat Rahmat melainkan mendapatkan siksa yang murni yaitu di neraka. Adapun peristiwa-peristiwa pada zaman Nabi terdahulu, misalnya pada saat umat Nabi Nuh AS tidak mentaati apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. umat nabi Nuh langsung mendapatkan siksa yang berat di dunia misalnya berupa banjir yang begitu dahsyatnya yang konon banjir tersebut sampai meliputi seluruh permukaan bumi tanpa tersisa, kecuali umat beliau yang masuk kapal besar yang dibuat oleh Nabi Nuh AS sendiri. terselamatkan dari siksa dunia yang begitu pedih. Berbeda lagi dengan umat Nabi Muhammad SAW yang mendapat keistimewaan bahwasanya tidak mendapatkan siksa melainkan hanya sebuah peringatan atau cobaan berupa bencana atau apa saja yang menimpa umat manusia baik yang taat ataupun yang membangkang, semuanya akan mendapatkan dampaknya tanpa terkecuali. Sedangkan siksa diberikan kepada orang yang tidak menjalankan perintah Allah SWT dan siksa yang murni ada di neraka bukan di dunia.

Manusia hidup di dunia yang hanya sementara, haruslah berlomba-lomba melakukan kebaikan yang nantinya akan mendapatkan balasan yang baik pula. Hendaklah manusia melakukan kebaikan dengan segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT., yang berupa rahmat di dunia dan akhirat.

  1. C.  Hadis Masuk Surga Karena Rahmat Allah

عن ابى هريرة قال سمعت رسول الله ص. م. يقول لن يدخل احدا عمله الجنة قال ولا انت يا رسول الله ؟ قال لا ولا انا الا ان يتغمدني الله بفضل ورحمة فسددوا وقاربوا ولا يتمنين احدكم الموت اما محسنا فلعله ان يزداد خيرا واما مسيئا فلعله ان يستعتب (اخرجه البخارى)

Dari abu Hurairah berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: amal seseorang tidak akan memasukkannya ke surga, tidak juga engkau ya Rasulullah? Beliau bersabda: tidak juga saya, hanya saja Allah telah meliputi aku dengan keutamaan dan rahmat, maka berbuat benarlah dan mendekatkanlah diri (kepada Allah). Dan janganlah seseorang daripadamu mencita-citakan mati, adakalanya orang yang baik maka barangkali ia akan menambah kebaikan dan adakalanya orang yang buruk makabarang kali ia menghentikannya. (H. R. Bukhori)[8]

Allah ta’ala berfirman kepada surga, “kamu adalah rahmat ku”. Surga disebut sebagai rahmat karena didalamnya nampak Rahmat Allah ta’ala sebagaimana firmannya : “dengan mu lah aku memberi rahmat kepada siapa saja diantara hamba-hamba ku yang aku kehendaki”. Atau Rahmat adalah salah satu sifatnya yang selalu disebut didalamnya.

Allah berfirman kepada neraka, “sesungguhnya kamu adalah adzab” dan dalam salah satu naskah dengan lafal “adzab ku”. Dengan mu lah aku menyiksa siapa saja hamba-hamba ku yang aku kehendaki.[9]

Adapun surga, maka Allah akan menciptakan makhluk (sebagai penghuni baginya). Yakni orang-orang yang tidak pernah mengerjakan kebaikan samasekali hingga surga menjadi penuh. Pahala itu tidak semata-mata berdasarkan amalan tetapi juga karena rahmat dari Allah SWT. [10]

Hadis di atas menunjukkan bahwa manusia masuk surga mutlak hanya berdasarkan karena Rahmat Allah SWT. Jadi, dengan Rahmat Allah SWT. seseorang ditentukan masuk surga dan tidaknya. Sesudah ada keputusan masuk surga maka, ketentuan masuk surga tingkatan yang mananya itu ditentukan berdasarkan amal, selanjutnya imam Ibn Bathal menjelaskan bahwa masuk surga itu tergantung pada Rahmat Allah dan amal-amal kita.

Dari uraian ini bisa ditarik kesimpulan bahwa amal tetap sebagai penyebab adanya balasan surga. Hanya berdasarkan Hadis ini seseorang tidak boleh berbangga diri dengan amalnya sendiri, karena di sana pasti ada peran Rahmat Allah SWT. Dengan Hadis ini juga seseorang tidak perlu mempersulit diri dengan amal-amal yang dikerjakannya. Tetapi optimis dengan amal-amal yang sudah, sedang dan harus dikerjakan, semuanya itu pasti akan menyebabkan kita sampai pada cita-cita yang diidamkan yaitu tempat kenikmatan yang abadi (surga).

  1. IV.          KESIMPULAN
    1. Rahmat merupakan kata yang mencakup setiap kebaikan dan murka adalah kata yang mencakup setiap keburukan. Tempat rahmat yang murni adalah surga dan tempat murka yang murni adalah neraka.
    2. Setiap makhluk yang diciptakan Allah SWT berpeluang mendapatkan Rahmat tanpa terkecuali, baik Muslim ataupun Non Muslim, baik taat maupun yang tidak taat, karena Allah Maha Pengasih. Berbeda dengan Rahmat yang ada di akhirat, akan diberikan kepada orang-orang yang senantiasa menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT.
    3. Makna rahmat adalah memberikan nikmat dan keutamaan. Rahmat Allah di dunia akan di berikan kepada seluruh manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir. Akan tetapi, di akhirat nanti, Allah maha penyayang terhadap orang mukmin.
    4. Amal tetap sebagai penyebab adanya balasan surga, seseorang tidak boleh berbangga diri dengan amalnya sendiri, karena di sana pasti ada peran rahmat Allah SWT.

 

  V.          PENUTUP

Makalah yang dapat kami buat, sebgai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin……

DAFTAR PUSTAKA

‘Ali, Al-Imam Abi Al-hasan Nuruddin bin Sulthan Muhammad Al-Qori, Tarjamah Pilihan Hadis Qudsi yang Shahih, Terj. M. Thalib, Bandung: Gema Risalah Press, 1996, Cet. 1

Iwadh, Ahmad Abduh, Mutiara Hadis Qudsi: Jalan Menuju Kemuliaan dan Kesucian Hati, Terj. Dewi Aryanti, (bandung: Mizania, 2008), Cet. 1

Muslim, Imam Abu Husain bin Hajjaj Al Qusyairy An Naisabury, Tarjamah Shakhih Muslim Jilid IV, Terj. Adib Bisri Musthofa, Semarang, Asy Syifa’, 1993, Cet. 1

Nawawi, Imam An- dan Al-Qasthalani, Kumpulan Hadits Qudsi Beserta Penjelasannya, diterjemah Miftakhul Khoiri dan Muhammad Asnawi, Yogyakarta : Al Manar, 2008, Cet. 5

Taimiyah, Syaikh Al Islam Ibn, Mengenali Gerak-Gerik Kalbu, Terj. Muhammad Al Mighwar, Bandung: Pustaka Hidayah, 2001, Cet. 1

Zubaidi, Zainuddin Ahmad Az, Tarjamah Hadis Shakhih Bukhori, Terj. Muhammad Zuhri, Semarang: Toha Putra, 1986

Zuhri, Muhammad, Kelengkapan Hadis Qudsi, Semarang: Toha Putra, 1982

 

 

 


[1]Al-Imam Abi Al-hasan Nuruddin ‘Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qori, Tarjamah Pilihan Hadis Qudsi yang Shahih, Terj. M. Thalib, (Bandung: Gema Risalah Press, 1996), Cet. 1,   hlm. 247

[2] Muhammad Zuhri, Kelengkapan Hadis Qudsi, (Semarang: Toha Putra, 1982), hlm. 378-379

[3] Imam An-Nawawi dan Al-Qasthalani, Kumpulan Hadits Qudsi Beserta Penjelasannya, diterjemah Miftakhul Khoiri dan Muhammad Asnawi, (Yogyakarta : Al Manar, 2008), Cet. 5, hlm. 407-408

[4] Ibid, hlm. 409

[5]Syaikh Al Islam Ibn Taimiyah, Mengenali Gerak-Gerik Kalbu, Terj. Muhammad Al Mighwar, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2001), Cet. 1, hlm. 100

[6] Imam Abu Husain Muslim bin Hajjaj Al Qusyairy An Naisabury, Tarjamah Shakhih Muslim Jilid IV, Terj. Adib Bisri Musthofa, (Semarang, Asy Syifa’, 1993), Cet. 1, hlm. 688-689

[7] Ahmad Abduh Iwadh, Mutiara Hadis Qudsi: Jalan Menuju Kemuliaan dan Kesucian Hati, Terj. Dewi Aryanti, (bandung: Mizania, 2008), Cet. 1, hlm. 145-146

[8] Zainuddin Ahmad Az Zubaidi, Tarjamah Hadis Shakhih Bukhori, Terj. Muhammad Zuhri, (Semarang: Toha Putra, 1986), hlm. 635-636

[9] Imam An Nawawi dan Al-Qasthalani, Op. Cit., hlm. 731

[10] Ibid., hlm. 732

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s