TEORI-TEORI BELAJAR

Standar

TEORI-TEORI BELAJAR

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Psikologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Dr. H. Widodo Supriyono, M.A

 

 

Disusun oleh :

 

Asep Saepul Amri

103111109

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

 

 

TEORI-TEORI BELAJAR

  1. I.        PENDAHULUAN

Dalam psikologi dan pendidkan, pembelajaransecara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia.

Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar.Teori belajaradalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran.

Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan perkembangannya psikologi dalam pendidikan, maka berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar, justeru dapat dikatakan bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar. Maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Didalam masa perkembangan psikologi pendidikan pada jaman mutakkhir ini muncullah secara beruntun berbagai banyak aliran psikologi pendidikan.

  1. II.     RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Teori Belajar Kondisioning ?
  1. Apakah Pengertian Teori Belajar ?
  1. Bagaimana Teori Belajar Koneksionisme ?
  2. Bagaimana Teori Belajar Gestalt ?
  1. III.  PEMBAHASAN
    1. Pengertian Teori Belajar

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapai tujuan pendidikan hanya bergantung kepada bagaimana proses belajar yang di alami oleh murid sebagai anak didik.
Menurut Cronbach dia mengemukakan dalam bukunya yang berjudul educational psychology dengan menyatakan bahwa belajar dengan yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu kita sebagai seorang pengajar harus mempergunakan panca indranya.

Menurut Witharington belajar merupakam perubahan kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola proses yang baru yang berbentuk suatu keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Crow and Crow dan Hilgrld. Menurut Crow and Crow belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Sedangkan menurut hilgard belajar adalah sutu proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap suatu siatuasi.

Dari defenisi yang telah dikemukakna diatas bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tinggkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.[1]

Sedangkan teori adalah suatu cara atau metode yang digunakan untuk mempelajari atau meneliti sesuatu dalam sesuatu proses pembelajaran. Maka dapat difahami bahwa teori belajar adalah suatu cara yang digunakan untuk memahami tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.

  1. Teori Belajar Kondisioning

Bentuk paling sederhana dari belajar adalah kondisioning karena sifatnya yang sangat luas. Kondisioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespon terhadap stimulus tertentu dapat dipindahkan kepada stimulus yang lain.

Tokoh dari teori kondisioning ialah Ivan P. Pavlov, dia lahir pada tahun 1849 di kota Rayasan Rusia pada tanggal 18 September 1849, dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Ayahnya seorang pendeta di suatu daerah yang miskin. Ayahnya yang seorang pendeta, menginginkan Pavlov mengikuti jejaknya. Tetapi Pavlov merasa tidak cocok menjadi pendeta, dan lebih memilih memasuki fakultas kedokteran dan mengambil spesialisasi bidang fisiologi. Dengan begitu, pada awalnya Pavlov bukanlah sarjana psikologi. Eksperimen Pavlov di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang dampak pengeluaran getah lambung terhadap mekanisme penggunaan makanan dan sekresi yaitu dengan pencernaan anjing. Dalam percobaan tersebut, ia menemukan bahwa subyek penelitiannya akan mengeluarkan air liur ketika melihat makanan.

Selanjutnya ia mengembangkan dan mengeksplorasi penemuannya dengan mengembangkan studi perilaku (behavior study) yang dikondisikan, yang kemudian dikenal denganClassical Conditioning. Hasil karya ini sampai menghantarkannya menerima hadiah Nobel pada tahun 1904. Teori itu kemudian menjadi landasan perkembangan aliran psikologi behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pengembangan teori-teori tentang belajar.[2]

Ia memandang ilmu pengetahuan sebagai sarana belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah manusia. Perana dari ilmuwan menurutnya antara lain membuka rahasia alam sehingga dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam. Di samping itu ilmuwan juga harus mencoba memahami bagaimana manusia itu belajar dan tidak bertanya bagaimana mestinya manusia belajar.

Klein menyebut ada empat komponen dasar yang membangun Teori Kondisioning Pavlov yaitu:

  1. unconditioned stimulus (UCS)
  2. unconditioned response (UCR)
  3. conditioned stimulus (CS)
  4. conditioned response (CR).[3]

Pavlov sendiri, menurut Bower, sesungguhnya menggunakan kata unconditioned reflex dan conditioned reflex. sebagaimana diindikasikan dalam dua bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan nama judul Conditioned Reflex (1927) dan Lectures on Conditioned Reflex (1928). Kata response lebih disukai oleh ahli psikologi Amerika, masing-masing komponen di atas bisa diidentifikasi dari percobaan pavlov terhadap anjing. Awalnya pavlov meletakkan daging dihadapan anjing. Seketika anjing mengeluarkan air liurnya. Dalam konteks komponen kondisioning, daging tadi adalah unconditioned stimulus (UCS) dan keluarnya air liur karena daging itu adalah unconditioned response (UCR).

Selanjutnya, pavlov menghadirkan stimulus baru berupa lampu yang dinyalakan beberapa saat sebelum ia memperlihatkan daging pada anjing. Hal ini dilakukan berulang-ulang, hingga pada akhirnya, hanya dengan menyalakan lampu tanpa diikuti dengan memperlihatkan daging, anjing itu mengeluarkan air liurnya. Nyala lampu, sebelum dipasangkan dengan daging disebut neutral stimuli, tapi setelah berpasangan dengan daging disebut conditioned stimuli. Sedangkan keluarnya air liur oleh CS disebut conditioned response. Proses untuk membuat anjing memperoleh CS disebut conditioning.

Contoh yang paling dekat dengan dunia pendidikan adalah seperti yang dikemukakan oleh Ratna Wilis berikut ini: Pada kali pertama masuk sekolah, Maya diterima oleh seorang Ibu Guru yang ramah, penuh senyuman dan banyak memujinya. Belum lagi dua minggu berlalu, Maya minta diantarkan ke sekolah lebih pagi, sambil berkata kepada ibunya bahwa kelak di kemudian hari, ia ingin menjadi guru. Pada contoh lain, seorang anak enggan pergi ke sekolah karena pada hari pertama masuk sekolah, ia mendapati guru yang tidak ramah, disiplin sekolah yang ketat dan ejekan teman-temannya.

  1. Teori Belajar Koneksionisme

Teori belajar koneksionisme adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward Lee Thorndike (1874-1949) berdasarkan yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike menggunakan hawan-hewan terutama, kucing untuk mengetahui fenomena-fenomena belajar.[4] Teorinya dikenal sebagai connectionism (pertautan, pertalian) karena dia berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses stamping in (diingat), forming, hubungan antara Stimulus dan Respons.[5]

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus  yaitu apa saja dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat diterapkan melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan. Stimulus dan respon merupakan upaya secara metodologis untuk mengaktifkan siswa secara utuh dan menyeluruh baik pikiran, perasaan dan perilaku (perbuatan). Salah satu indikadasi keberhasilan belajar terletak pada kualitas respon yang dilakukan siswa terhadap stimulus yang diterima dari guru.

Dari definisi belajar tersebut menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran koneksionisme (connectionism).[6]

Pada saat yang hampir sama dengan dilakukan sebuah eksperimen pengkondisian klasik anjing oleh Ivan, E.L Thorndike (1906) sedang mempelajari kucing yang lapar dalam sebuah kotak dan meletakkan ikan diluar kotak. Untuk bisa keluar dari kotak, kucing itu harus mengetahui cara membuat palang di dalam kotak tersebut. Pertama-tama kucing itu melakukan beberapa respons yang tidak efektif. Dia mencakar atau menggigit palang. Akhirnya, kucing itu secara tidak sengat menginjak pijakan yang membuka palang pintu. Saat kucing dikembalikan kekotak, dia melakukan aktivitas acak sampai dia menginjak pijakan itu sekali lagi.

Pada percobaan berikutnya, kucing itu semakin sedikit melakukan gerakan acak, sampai dia akhirnya bisa langsung menginjak pijakan itu untuk membuka pintu.[7] Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzle box (peti teka-teki) itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada di muka pintu. Mula-mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat dan berlari-larian, namun gagal membuka pintu untuk memperoleh makanan yang ada didepannya. Akhirnya, entah bagaimana, secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut. Eksperimen Puzzle box ini kemudian terkenal dengan instrumental conditioning. Artinya, tingkah laku yang dipelajari berfungsi sebagai instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki.[8]

Percobaan tersebut menghasilkan teori trial and error atau selecting and conecting, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response kembali.

Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja menyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.[9]

Berdasarkan eksperimen diatas, Thorndike menyimpulankan  bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon. Itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut S-R Bond Theory dan S-R Psychology of Learning, Selain itu, teori ini juga dikenal dengan sebutan Trial and Error Learning.

Adapun ciri-ciri belajar dengan Trial and Error Learning yaitu: adanya motif pendorong aktivitas, adanya berbagai respon terhadap situasi dan adanya aliminasi respon-respon yang gagal atau salah. Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan. Apabila kita perhatikan dengan seksama, dalam eksperimen, Thorndike tadi akan kita dapati dua hal pokok yang mendorong timbulnya fenomena belajar.[10]

Pertama, kucing yang dalam keadaan lapar, Seandainya kucing itu dalam keadaan kenyang, mungkin tidak akan berusaha keras untuk keluar. Bahkan, mungkin kucing tertidur dalam puzzle box yang mengurungnya. Dengan perkataan lain, kucing tidak akan menunjukkan gejala belajar untuk keluar sangkar. Oleh karena itu, motivasi seperti rasa lapar merupakan hal yang sangat vital dalam belajar.

Kedua, ketersediannya makanan di muka pintu puzzle box. Makanan ini merupakan efek. Positif atau memuaskan yang dicapai oleh respons dan kemudian menjadikan dasar timbulnya hukum.[11]

  1. Teori Belajar Gestalt

Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.

Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.

Psikologi Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti menggambarkan konfigurasi atau bentuk yang utuh. Suatu gestalt dapat berupa objek yang berbeda dari jumlah bagian-bagiannya. Semua penjelasan tentang bagian-bagian objek akan mengakibatkan hilangnya gestalt itu sendiri. Sebagai contoh, ketika melihat sebuah persegi panjang maka hal ini dapat dipahami dan dijelaskan sebagai persegi panjang berdasarkan keutuhannya atau keseluruhannya dan identitas ini tidak bisa dijelaskan sebagai empat garis yang saling tegak lurus dan berhubungan.

Psikologi gestalt merupakan gerakan jerman yang secara langsung menantang psikologi strukturalisme Wundt. Para gestaltis mewarisi tradisi psikologi aksi dari Brentano, Stumpf dan akademi Wurzburg di jerman, yang berupaya mengembangkan alternatif bagi model psikologi yang diajukan oleh model ilmu pengetahuan alam reduksionistik dan analitik dari Wundt.

Gerakan gestalt lebih konsisten dengan tema utama dalam filsafat jerman yakni aktivitas mental dari pada sistem Wundt. Psikologi gestalt didasari oleh pemikiran Kant tentang teori nativistik yang mengatakan bahwa adanya proses berfikir membuat individu dapat berinteraksi dengan lingkungannya melalui cara-cara yang khas. Sehingga tujuan psikologi gestalt adalah menyelidiki cara-cara berfikir seseorang dan mengetahui secara tepat karakteristik interaksi manusia dengan lingkungannya.

Psikologi gestalt diawali dan dikembangakan melalui tulisan-tulisan tiga tokoh penting, yaitu Max Wertheimer pada tahun 1880-1943 yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Wolfgang Kohler pada tahun 1887-1959 yang meneliti tentang insight pada simpase. dan Kurt Koffka pada tahun 1886-1941 yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan,. Ketiganya dididik dalam atmosfer intelektual yang menggairahkan pada awal abad 20 di Jerman, dan ketiganya melarikan diri dari kejaran nazi dan bermigrasi ke Amerika, tetapi di Amerika psikologi gestalt tidak memperoleh dominasi seperti di Jerman. Hal ini dikarenakan psikologi Amerika telah berkembang melalui periode fungsionalisme dan pada tahun 1930-an didominasi oleh behaviorisme. Oleh karena itu, kerangka psikologi gestalt tidak sejalan dengan perkembangan-perkembangan di Amerika.

Kaum gestaltis berpendapat bahwa suatu pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. Intinya, menurut mereka, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran.[12]

Teori Belajar Gestalt meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatanya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Suatu konsep yang penting dalam psikologis Gestalt adalah tentang insight yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang utuh. Pengamatan adalah pintu pengembangan kognitif.

 

  1. IV.  KESIMPULAN

belajar adalah merupakan suatu proses perubahan tinggkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan teori adalah suatu cara atau metode yang digunakan untuk mempelajari atau meneliti sesuatu dalam sesuatu proses pembelajaran. Maka dapat difahami bahwa teori belajar adalah suatu cara yang digunakan untuk memahami tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.

Teori koneksionisme adalah teori yang ditemukan oleh Edward Lee Thorndike, selain itu teori ini juga dikenal sebagai connectionism, yang mana beliau berpendapat belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati.

Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler.

 

  1. V.     PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


DAFTAR PUSTAKA

Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT.  RajaGrafindo Persada, 2005)

Esti, Sri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2006)

Muchit, Saekhan,Pendidikan Kontektual, (Semarang: Media Grup, 2008)

Santrock, John W,( Jogyakarta: Psikologi Pendidikan, 2008)

Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.2007)

Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998)

Wirawan, Sartito, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2006)

Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offswel, 2009)

 


[1] Wasty, Soemanto,  Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 47

[2] Muhibbin, Syah, Psikologi Pendidikan, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offswel, 2009), hlm. 87

[3] Sartito, Wirawan, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2006), hlm. 78

[4] Tohirin, 2005. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada. hlm. 62

[5] Esti, Sri, 2006. Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. hal. 126

[6] Muchit, Saekhan, 2008. Pendidikan Kontektual, Semarang, Media Grup. hlm. 51

[7] Santrock, John W, 2008. Psikologi Pendidikan, Jogyakarta. hlm. 272

[8] Muhibbin, Syah 2007. Psikologi Belajar, PT. RajaGrafindo Persada. hlm. 35

[9] Boere, Loc. Cit.,  hlm. 390

[10] Muhibbin, Syah, Ibid, hlm. 23

[11] Tohirin, Op.Cit., hlm 63-64

[12] Muhibbin, Syah, Op, Cit, hlm. 103

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s