TIGA GOLONGAN YANG MENDAPAT DUA PAHALA

Standar

TIGA GOLONGAN YANG MENDAPAT DUA PAHALA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Hadits Tarbawy II

Dosen Pengampu: H. Mahfud Sidiq, Lc. M.A

 

Disusun Oleh:

Muhammad Khoirul Anam                 (103111068)

Muhammad Latif Wibowo                 (103111069)

Muhammad Nuroni                             (103111070)

Muhammad Nurul Hukma Dzikri       (103111071)

Amri Khan                                          (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

 

 

TIGA GOLONGAN YANG MENDAPAT DUA PAHALA

  1. I.             PENDAHULUAN

Pada zaman dulu sebelum kedatangan Nabi Muhammad ke dunia ini banyak sekali orangorang yang melakukan kemungkaran diantaranya adalah perbudakan. Adanya perbudakan tersebut membuat orang tidak bisa bebas untuk melaksanakan kehendak yang ingin dilakukan, karena mereka dianggap seperti barang dagangan yang dijual kesana kemari setelah bosan atau tidak bagus akan dibuang. Oleh Karena itu perbudakan harus dihapuskan di dunia ini demi kesejahteraan manusia.

Kita sebagai manusia atau khalifah di muka bumi ini adalah sebaik-baik umat yang diutus bagi manusia dengan menyuruh kebaikan dan mencegah segala kemungkaran. Namun diantara beberapa budak pada zaman dahulu baik laki-laki atau perempuan  ada yang beriman kepada Allah dan ada pula yang tidak beriman kepada-Nya. dan kita sebagai manusia yang beriman dituntut untuk menyelamatkan manusia dari berabagai kemungkaran.

Salah satu dari kaum sebelum Nabi Muhammad diutus ke dunia yaitu Ahli kitab atau kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah kaum pengikut Nabi Musa dan Nabi Isa yang dberi kitab oleh Allah yaitu Taurat dan Injil. Tidak semua kaum ahli kitab itu percaya kepada Allah dan Nabinya, mereka ada yang beriman dan ada yang tidak beriman.

Untuk itu dibawah ini akan dijelaskan mengenai beberapa golongan yang akan mendapatkan pahala dua sekaligus, karena perbuatannya yang sangat baik dan mulia.

  1. II.          RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana Hadits Tentang Tiga Golongan Yang Mendapat Dua Pahala?
    2. Siapa Sajakah Tiga Golongan yang Mendapatkan Dua Pahala?
  1. III.       PEMBAHASA
    1. A.    Hadits Tentang Tiga Golongan Yang Mendapat Dua Pahala

عَنْ ا بِى بُرْدَ ةْ عَنْ اَبِيْهِ قَا لَ رَسُوْلُ اللهِ صَلى الله عليه وسلم : ثَلَا ثَةٌ لَهُمْ اَجْرَا نِ : رَجُلٌ مِنْ اَهْلِ الْكِتَا بِ اَمَنَ بِنَبِيِّهِ وَاَمَنَ بِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَالْعَبْدُ الْمَمْلُوْكُ اِذَا اَدَّى حَقَّ اللهِ وَحَقَّ مَوَا لِيْهِ وَرَجُلٌ كَا نَتْ عِنْدهُ اَمَةٌ فَأدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِهَا وَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيْمِهَا ثٌمَّ أَعْتَقَهَا فَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ اَجْرَا نِ.

Artinya: “Dari Abu Burdah ra. Dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Ada tiga golongan manusia yang mendapat dua pahala sekaligus, yaitu: 1) Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang percaya kapada Nabinya dan percaya pula kepada Nabi Muhammad SAW. 2) Hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak kepada majikannya, dan 3) laki-laki yang mempunyai hamba sahaya wanita dia mendidikadab atau akhlak dan ilmu pengetahuan  sehingga pendidikannya menjadi baik, kemudian memerdekakannya lalu mengawininya.. Maka ketiga golongan orang tersebut mendapat dua pahala”.[1]

  1. B.     Tiga Golongan yang Mendapat Dua Pahala

Berdasarkan hadits diatas dapat diketahui bahwa ada tiga golongan yang akan mendapat dua pahala sekaligus yaitu :

  1. 1.      Golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang percaya kepada Nabinya dan percaya pula kepada Nabi Muhammad SAW.

z`ƒÏ%©!$# ãNßg»uZ÷s?#uä |=»tGÅ3ø9$# `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% Nèd ¾ÏmÎ/ tbqãZÏB÷sムÇÎËÈ #sŒÎ)ur 4‘n=÷FムöNÍköŽn=tã (#þqä9$s% $¨ZtB#uä ÿ¾ÏmÎ/ çm¯RÎ) ‘,ysø9$# `ÏB !$uZÎn/§‘ $¯RÎ) $¨Zä. `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% tûüÏJÎ=ó¡ãB ÇÎÌÈ y7Í´¯»s9’ré& tböqs?÷sムNèdtô_r& Èû÷üs?§¨B $yJÎ/ (#rçŽy9|¹ tbrâäu‘ô‰tƒur ÏpuZ|¡ysø9$$Î/ spy¥ÍhŠ¡¡9$# $£JÏBur öNßg»uZø%y—u‘ šcqà)ÏÿYムÇÎÍÈ #sŒÎ)ur (#qãèÏJy™ uqøó¯=9$# (#qàÊtôãr& çm÷Ztã (#qä9$s%ur !$uZs9 $oYè=»uHùår& öNä3s9ur ö/ä3è=»uHùår& íN»n=y™ öNä3ø‹n=tæ Ÿw ÓÈötFö;tR tûüÎ=Îg»pgø:$# ÇÎÎÈ

52.  Orang-orang yang Telah kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu.

53.  Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, Sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).

54.  Mereka itu diberi pahala dua kali[1128] disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang Telah kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.

55.  Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

Sesungguhnya orang – orang yang beriman, yakni yang mengaku beriman kepada Nabi Muhammad saw, orang – orang Yahudi, yakni yang mengaku beriman kepada Nabi Musa as., dan orang – orang Nasrani, yakni  yang mengaku beriman kepada Nabi Isa as.[2]

Orang-orang yang beriman kepada Taurat dan Injil diantara ahli kitab, kemudian mendapati Muhammad SAW. Beriman kepada Al-Qur’an karena mereka telah  mendapat kabar gembira tentang beliau dan sifat-sifatnya yang cocok didalam kitab mereka.

Apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, maka mereka berkata, “Kami percaya bahwa ia benar-benar diturunkan dari Tuhan kami. Kami telah memercayai-Nya sebelum ia diturunkan, karena kami telah mendapati sifat Muhammad SAW dan kitabnya didalam kitab kami.”

Hal tersebut mengisyaratkan bahwa keimanan mereka sudah berlangsung  lama. Bapak-bapak mereka yang terdahulu telah membaca sebutan  nama didalam kitab-kitab mereka, dan anak-anak generasi mereka berikutnya melakukan hal yang sama, sebelum Al-Qur’an diturunkan.

Kemudian Allah menerangkan pahala yang diberikan kepada mereka atas keimanannya kepada Al-Qur’an setelah beriman kepada kitab-kitab sebelumnya. Mereka diberi pahala dua kali lipat, yaitu atas keimanan mereka kepada kitab mereka dan  atas keimanan  mereka kepada Al-Qur’an, disebabkan kesabaran mereka dalam menetapi dua keimanan ini, karena menghadapi kesulitan seperti ini terasa sangat sulit dirasakan.

Lantaran keimanan itu, kadang mereka menerima penganiayaan dari kaumnya dari kaum musyrikin dalam mengikuti Muhammad SAW.[3]

Kemudian Allah menegaskan lagi mengenai penjelasan diatas pada firman-Nya QS. Al Baqarah ayat 62 yaitu:

¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä šúïÏ%©!$#ur (#rߊ$yd 3“t»|Á¨Z9$#ur šúüÏ«Î7»¢Á9$#ur ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ öNßgn=sù öNèdãô_r& y‰YÏã óOÎgÎn/u‘ Ÿwur ì$öqyz öNÍköŽn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“øts† ÇÏËÈ

Artinya : “Sesungguhnya orang – orang Yahudi, orang – orang Nasrani, dan orang – orang Shabi`in, siapa saja di antara mereka yang (benar – benar) beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta beramal saleh, maka untuk mereka pahala mereka disisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah : 62)

Melalui ayat ini, Allah memberi jalan keluar sekaligus ketenangan terhadap mereka yang bermaksud memperbaiki diri. Ini sejalan dengan kemurahan Allah yang selalu membuka pintu bagi hamba – hamba-Nya yang insaf. Kepada mereka disampaikan bahwa jalan guna meraih ridha Allah bagi mereka serta bagi umat-umat lain, tidak lain kecuali iman kepada Allah  dan hari Kemudian serta beramal shaleh. Maka untuk mereka pahala  amal – amal saleh mereka, serta atas kemurahan-Nya; tidak ada kekhawatiran  terhadap mereka menyangkut sesuatu apapun yang akan datang, dan tidak  pula mereka bersedih hati  menyangkut sesuatu yang telah terjadi.[4]

  1. 2.      Golongan Hamba Sahaya, yang telah menunaikan hak kepada Allah dan hak kepada majikannya.

Allah  berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ……………

Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (an-Nisaa:59)

Didalam hadits shahih yang telah disepakati pula, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang taat kepadaku, maka berarti ia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka ia berarti bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati amirku, maka ia berarti mentaatiku. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amirku, maka ia bermaksiat kepadaku”.

Ibnu Katsir selanjutnya menjelaskan bahwa “ini semua adalah perintah untuk mentaati ulama dan umara. Untuk itu  Allah berfirman: “Taatlah kepada Allah”, yaitu ikutilah Kitab-Nya. “Dan taatlah kepada Rasul”, yaitu peganglah sunnahnya. “Dan ulil amri di antara kamu”. Yaitu pada apa yang mereka perintahkan kepada kalian dalam rangka taat kepada Allah, bukan dalam maksiat kepada-Nya. Karena tidak berlaku ketaatan kepada mahluk dalam rangka maksiat kepada Allah”.[5]

Penjelasan diatas dapat dijadikan sebagai landasan bahwa hamba sahaya yang sudah menunaikan haknya kepada Allah dan haknya kepada majikan adalah taat kepada Allah dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan mentaati segala perintah ulil amri atau dalam hal ini melaksanakan segala perintah majikan dan menjauhi segala larangannya.

  1. 3.      Golongan laki-laki yang mempunyai budak wanita, dia mendidiknya sehingga pendidikannya menjadi baik, kemudian memerdekakannya lalu mengawininya.

Abu Musa ra. Berkata:

قَا لَ رُسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ كَا نَتْ لَهُ جَا رِيَةٌ فَعَا لِهَا فَأَحْسَنَ إِلَيْهَا ثُمَّ اَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا كَا نَ لَهُ اَجْرَانِ.

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mempunyai budakwanita, lalu dinafkahinya dan dia berbuat ihsan kepadanya, kemudian dia memerdekakan dan mengawininya, niscaya dia mendapat dua pahala.”(Al-Bukhary 49 :14; Muslim 16:13; Al-Lu’lu’u wal Marjan 2 :107)

Shafiyah binti Huyai ibnu Akhtab dari keturunan Harun. Beliau wafat pada tahun 36 H. Pada masa itu menjadi istri Kinanah ibn Abil Haqiq yang terbunuh dalam peperangan Khaibar itu.

Nabi membenarkan Dihyah memilih seorang budak yang disukai padahal belum lagi diadakan pembagian harta rampasan perang, karena Nabi sebagai panglima perang mempunyai hak memberi kepada siapa yang beliau kehendaki sebagian harta rampasan perang sebelum dibagi.

Seorang laki-laki yang tidak dikenal namanya datang kepada Nabi lalu mengatakan: “Ya Rasulullah, Shafiyah itu keturunan Nabi-nabi dan garis keturunan Harun, dan dia anak kepala suku Quraidhah dan Nadhir, selain daripada itu dia pun seorang yang cantik dan berakhlak tinggi karena itu Anda sendirilah yang pantas memilikinya.

Setelah Nabi memerdekakannya, Nabi pun mengawininya tanpa mahar.

Ahmad Al Hasan dan Ibnul Musayyab berpegang kepada zhahir hadits ini. Mereka membolehkan para tuan memerdekakan budaknya dan mengawininya tanpa ada mahar selain dari memerdekakannya. Namun, Jumhur ulama tidak membolehkan tanpa mahar yang selain dari memerdekakan itu.

Sesampainya Nabi di Saddur Rauha’ kira-kira 40 mil dari Madinah, Ummu Sulaim (Ibunda Anas), menyiapkan Shafiyah untuk dijadikan pengantin dan menyerahkannya kepada Nabi pada malam hari.

Dimaksud dengan “menyiapkan” ialah mendandani pengantin dilakukan sesudah Shafiyah menjalani iddah istibra.

Rasulullah menerangkan bahwasanya seorang yang mempunyai budak lalu menafkahinya dengan baik dan diberlakukannya dengan baik, kemudian dimerdekakan dan dikawini, maka orang yang berbuat demikian itu memperoleh dua pahala, pahala memerdekakanya dan pahala mengawininya.[6]

Didalam hadits Sahih Bukhari disebutkan mengenai keutamaan memerdekakan budak yaitu:

عن ابى هريرة قال النبي صلى الله عليه وسلم : اَيُّمَا رَجُلٍ اَعْتَقَ امْراً مُسْلِمًا اسْتَنْفَذَ اللهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنْهُ مِنَ النَّارِ.

Dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW. Bersabda, “Siapa saja yang memerdekakan orang islam, Tuhan akan melepaskan anggota orang itu dari neraka sesuai dengan anggota yang dimerdekakan.”[7]

Seorang Muslim yang memerdekakan atau membebaskan budaknya yang islam, niscaya Allah akan memerdekakan atau membebaskan, dengan tiap-tiap anggota tubuh si budak muslim itu, suatu anggota tubuhnya dari api neraka.

  1. IV.             ANALISIS

Dari penjelasan diatas dapat diambil analisis bahwa beberapa golongan yang akan mendapat dua pahala sekaligus itu ada tiga golongan yaitu

  1. Golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani ), yang mendapat dua pahala karena mereka iman kepada nabinya dan iman kepada Nabi Muhammad SAW melalui cerita-cerita atau isi yang ada didalam kitabnya. Meskipun Nabi Muhammad SAW belum lahir, tapi mereka percaya bahwa Nabi Muhammad itu membawa kabar gembira melalui kitab yang dibawanya.
  2. Golongan hamba sahaya yang mendapat dua pahala sekaligus karena ketaatan-Nya kepada Allah (dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya ) dan melaksanakan semua perintah majikannya  kecuali yang maksiat kepada Allah dan menjauhi segala larangannya.
  3. Golongan seorang laki-laki yang mempunyai budak wanita yang mendapatkan dua pahala sekaligus karena laki-laki tersebut mau mendidik budak tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga budak tersebut mempunyai akhlak dan ilmu pengetahuan yang baik, kemudian laki-laki tersebut mau memerdekakannya dan bahkan menikahinya.

 

  1. V.                KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tiga golongan yang mendapat dua pahala yaitu

  1. Golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang percaya kepada Nabinya dan percaya pula kepada Nabi Muhammad SAW.
    1. Orang – orang yang beriman, yakni yang mengaku beriman kepada Nabi Muhammad saw,
    2. Orang – orang Yahudi, yakni yang mengaku beriman kepada Nabi Musa as., dan
    3. Orang – orang Nasrani, yakni  yang mengaku beriman kepada Nabi Isa as
    4. Golongan Hamba Sahaya, yang telah menunaikan hak kepada Allah dan hak kepada majikannya.
    5. Golongan laki-laki yang mempunyai budak wanita, dia mendidiknya sehingga pendidikannya menjadi baik, kemudian memerdekakannya lalu mengawininya.

Seorang Muslim yang memerdekakan atau membebaskan budaknya yang islam, niscaya Allah akan memerdekakan atau membebaskan, dengan tiap-tiap anggota tubuh si budak muslim itu, suatu anggota tubuhnya dari api neraka.

  1. VI.             PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Kritik dan saran yang selalu membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan makalah berikutnya. Besar harapan kami, makalah ini akan memberikan manfaat bagi para pembaca dan bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhary, Al-Imam.  Hadits Sahih Bukhary.  (Surabaya: Gitamedia Prees. 2009).cet. 1

Al-Maraghi, Ahmad Mushthofa. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. (Semarang, PT. Karya Toha Putra. 1986). Cet. 1

Ash Shiddieqy ,Teungku Muhammad Hasbi. Mutiara Hadits. (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. 2007). Cet. 2

Asy, Maftuh Ahnan.  Kumpulan Hadits Terpilih Shahih Bukhari. (Surabaya: Terbit Terang. 2003)

Shihab, Quraish. Tafsir Al-Mishbah. (Jakarta: Lentera Hati. 2002)

http://samilbasayef.blogspot.com/2008/04/surat-an-nisa’-ayat-59.html

 


[1] Maftuh Ahnan Asy, Kumpulan Hadits Terpilih Shahih Bukhari, (Surabaya: Terbit Terang, 2003), hlm. 255-256

[2]Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta, Lenetra Hati, 2002), hal. 256

[3] Ahmad Mushthofa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang, PT. Karya Toha Putra, 1986), Cet. 1 Hal. 127-129

[4] Quraish Shihab,Op.Cit, hal. 257

[6] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2007), Cet. 2, hlm.  47

[7] Al-Imam Al-Bukhary, Hadits Sahih Bukhary, (Surabaya : Gitamedia Prees, 2009), cet. 1. Hal. 524

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s