UQUQ AL-WALIDAIN

Standar

‘UQUQ ALWALIDAIN

 

 

Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Hadist Tarbawi

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H.M. Erfan Soebahar, M.Ag

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Nanang Qosim           NIM. (103111078)

Nastain                       NIM. (103111079)

Naila Zati Zulallina   NIM. (103111080)

Amri Khan                 NIM. (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SEMARANG

2011

 

 

‘UQUQ ALWALIDAIN

 

I.  PENDAHULUAN

Sebuah fenomena yang sering kita jumpai dimana-dimana yaitu banyak anak yang terlalai bahwa dia diciptakan di dunia ini  oleh Allah lewat lantaran orang kedua tua, dimana kalau kita kita ketahui bahwa peran orang tua sangat penting sekali dalam kehidupan anak. Tapi kebanyakan anak sekarang sering  kali memaki orang tuanya bahkan sering kali orang tua dibodohi, dicela yang itu dilakukan anaknya sendiri. Padahal di dalam keseluruhan ajaran Islam, sebuah kedudukan yang istemewa diberikan bagi anak yang mau menyanyangi, menghormati, dan mencintai orang tuanya. Dan sesungguhnya berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban mutlak dan mempunyai kedudukan amal yang lebih tinggi dibandingkan dengan amal lainnya berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya.

Di dalam Al-Qur’an sudah banyak diberikan sebuah ulasan tentang kewajiban anak terhadap orang tua untuk selalu hormat, mematuhi, dan  menyanyangi dalam wilayah-wilayah tertentu dan luas. Ketegasan Al-Qur’an pun juga banyak diberikan terhadap anak yang memaki orang tua. Tidak hanya dalam Al-Qur’an di dalam Hadist pun banyak di jelaskan terkait sikap anak yang memaki atau durhaka (uquq) kepada orang tuanya. Berbuat berbakti dan durhaka pasti membuahkan masing-masing, dan berdampak pada pelaku masing-masing di kehidupan sehari-hari bahkan di akhirat kelak, Anak yang durhaka pasti mengalami kehancuran dan ketidaktenangan bahkan kesengsaraan.

Oleh karena itu dalam makalah ini akan dipaparkan tentang pengertian durhaka,  sikap anak yang bercemin pada sikap uququl walidain, bagaimana hadist-hadist meresponya agar bisa menyuruh anak sekarang agar tidak melakukan ‘uququl walidain.

II. PERMASALAHAN

  1. Apa Durhaka itu  ?
  2. Apa Hukumnya Durhaka Kepada Orang Tua ?
  3. Apa Yang Menyebabkan Seseorang Durhaka Kepada Tua ?
  4. Bagaimana Hukuman Bagi yang Durhaka Sama Orang Tua  ?

III. PEMBAHASAN

  1. A.    Apa Durhaka Itu ?

Bakti adalah kata yang mencangkup kebaikan dunia dan akhirat. Berbakti kepada kedua orang adalah berbuat baik kepada mereka memenuhi hak-hak mereka dan menaati mereka dalam hal-hal yang mubah, bukan hal-hal yang maksiat. Adapaun lawan kata bakti adalah durhaka. Durhaka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu tidak setia dan khianat,[1] namun dalam kaitan durhaka kepada orang tua adalah berbuat buruk kepada mereka dan menyia-nyiakan hak mereka, secara bahasa kata al-‘uquq (durhaka) berasal berasal dari kata al-‘aqqu yang berarti al-qathu’ (memutus, merobek, memotong, membelah). Adapun menurut syara’ adalah setiap perbuatan atau ucapan anak yang menyakiti kedua orang tuanya yakni, yakni selain kemusyrikan atau bentuk kemaksiatan (kepada Allah). Dan kemudian diartikan bahwa uququl walidaina adalah mendurhakai orang tua. [2]

Seperti kita lihat bersama bahwa Uququl walidain adalah gangguan[3] yang ditimbulkan oleh anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan, seperti contoh gangguan yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakaan akh, ihk, huh atau chis, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakiti hati, menggertak, mencaci dan lain sebagainya. Sedangkan yang berupa perbuatan yaitu dengan berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menyuruh atau tidak menuruti keinginannya, membenci tidak memperdulikan, tidak bersilaturrahmi atau tidak memberikan nafkah kepada kedua orang tua yang miskin.

  1. B.     Hukum Durhaka Kepada Orang Tua ?

Melihat deskripsi tentang pengertian durhaka  diatas, durhaka itu dipandang sebagai prilaku yang sadis dan tercela yang tidak terpuji, yang dilakukan oleh anak terhadap orang tuanya, makanya menyangkut hukum yang diterapkan disini dapat dikatakan bahwa Uququl walidain adalah perbuatan yang menyakiti hati orang tua, baik dengan ucapan, atau perbuatan seperti memutus hubungan baik dengannya. Dan perbuatan jahat ini haram hukumnya dan termasuk dosa besar.

Allah berfirman :

4Ó|Ós%ur y7•/u‘ žwr& (#ÿr߉ç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8y‰YÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèd߉tnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ   ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA—%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§‘ $yJßg÷Hxqö‘$# $yJx. ’ÎT$u‹­/u‘ #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(Q.S Al-Israa’ ayat : 23-24)[4]

Kemudian dilanjutkan hadist Rasulullah yang meletakkan ‘uququl walidain ( durhaka kepada kedua orang tua ibu bapak) sebagai dosa nomor dua sesudah syirik.

Berikut yang  diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Bakkah, dari ayahnya dia berkata. “ rasulullah SAW Bersabda :

وان أبى بكر ة  نفيع بن الحرث رضى الله عنه قال : قال رسو ل الله عليه وسلم : ألا أنبئكم باكبر الكبائر ؟ قلنا : بلى : يا رسو ل الله  قال : الا شرا ك با الله و عقوق الوا لدين. و كان متكئا فجلس فقال : الا, وقول الزور و شها دة الزور. فما زال يكرر ها حتى قلنا : ليلته سكت ( متفق عليه)

Artinya:  “ Diriwiyatkan oleh Abu bakrah Nufa’I ibn al-haris ra, dia berkata : rasulullah SAW bersabda :”Tidakkkah akan aku kasih beritahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar? Beliau mengulangi lagi pertayaan tersebut tiga kali. Kemudian para sahabat meng iyakan. Lalu Rasulullah SAW menyebutkan : yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka kepada ibu bapak”. Kemudian beliau merobah posisi duduknya yang semula bersitelekan menjadi duduk biasa dan berkata lagi.” Begitu juga perkataan dan sumpah palasu.” Beliau mengulangi lagi hal yang demikian hingga kami mengharapkan mudah-mudahan beliau tidak menambahnya lagi. ( Muttafaqun Alaih) [5].bisa dilihat juga di ( Shahih Bukhari, Juz 187,  hlm. 372, Hadist No. 5519).

Dan dalam hadist yang diriwayatkan Abdullah bin umar yaitu yang berbunyi :

 

عن عبد الله بن عمر ورضى الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان من اكبر الكبا ئر ان يلعن الر جل والديه . قيل رسول الله.و كيف يلعن لر جل والديه ؟ قا ل: يسب الرجل ابا لرجل فيسب أبا لرجل فيسب أبا ه و يسب أمه.  (أخر جه امام بخاري)

 

Artinya :

Dari Abdullah bin Amer r.a berkata, bahwa rasulullah SAW bersabda: “Bahwasanya dari sebesar-sebesar dosa besar, ialah seorang menutuk kedua orang tuanya. Beliau ditanya : Wahai Rasulullah, Bagaimana orang sampai hati mengutuk kedua orang tuanya  . Beliau bersabda : Memaki seseorang akan ayah orang, lalu orang itu memaki ayahnya (ayah pemaki) dan memaki ibunya (ibu pemaki). ( H.R Bukhari).[6]

larangan untuk melakukan sikap tercela itu juga disebutkan dalam hadist yang berbunyi :

عن المغيرة رضي الله عنه قال قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم إن الله حرم عليكم عقوق الا مها ت

Artinya : Dari al-Mighrah R.A, katanya : Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharaamkan atas kau berbuat durhaka terhadap ibu.”  ( Muttafaq ‘Alaih)[7]

Sedangkan dalam Al Quran, larangan berbuat durhaka kepada orang tua serta perintah agar berbakti kepada keduanya sangatlah banyak. Seperti contoh dalam surat An Nisa’ ayat 36Allah berfirman :

(#r߉ç6ôã$#ur©!$#Ÿwur(#qä.Ύô³è@¾ÏmÎ/$\«ø‹x©(Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur$YZ»|¡ômÎ)ÇÌÏÈ  

Artinya : “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan Nya. Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada orangtua…”[8]

Kalau kedurhakaan itu masih ada pada anak itu pasti bukanlah  yang demikian itu bertanda kufur dan ingkar kepada ni’mat asuhan dari keduanya, menghina hak-hak keduanya, dan menunujukkan kehinaan jiwanya dan kerendahan budinya? Apakah mungkin akan bisa diharapkan berbuat baik kepada orang lain orang yang telah sampai hati berlaku jahat kepada orang tuanya yang telah mengasuhnya semenjak kecil ? tidak mungkin.Orang seperti itu adalah sumber kerusakan. Maka tidak aneh jika dosanya sangat besar lagi membahayakan.[9]

Dan umat Islam sepakat bahwa durhaka kepda orang tua adalah sesuatu hal yang diharamkan dan termasuk dosa besar yang sudah di sepakati keharamannya.

Terkait tentang hadist yang menjelaskan tentang uququl walidain diantaranya :

riwayat dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga, (dalam redaksi yang lain, Allah tiada akan melihatnya pada hari kiamat), yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (Riwayat An Nasa’i).

Kemudian diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar bahwa dia berkata: rasulullah SAW bersabda : ridha Allah terletak pada ridho orang tua. [10] bisa dilihat juga di (Syu’ab al-Iman, Baihaki juz 16, hlm. 338, Hadist no. 7584).

  1. C.    Penyebab Seseorang Durhaka Kepada Orang Tua

Sebuah kedurhakaan pasti ada penyebab dari timbulnya sikap tersebut, diantaranya adalah :

  1. Tidak mengetahui keagungan orang tua dan tidak mengetahui hukuman atas kedurhakaan itu, baik hukuman di dunia maupun di akhirat kelak.
  2. Adanya sikap orang tua yang lebih mengutamakan atau mementingkan sebagian lainnya atau dalam kata lain adanya ketidak adilan anak atas sebagian lainnya yang diberikan orang tua kepada anaknya.
  3. Kelalaian dari orang tua dalam menafkahi anak-anaknya semasa kecil, kelalaian terhadap hak ibu dan adanya sikap lebih condong pada salah satu istri, hingga merugikan istri yang lain.
  4. Berteman dengan orang-orang yang buruk budi pekertinya yang mendorong sahabatnya yang mendorong menentang orang tuanya.

Diriwayatkan dari abu hurairoh r.a dia berkata: “ Rasulullah SAW bersabda :

Artinya “ Akhlak seseorang itu tergantung pada akhlak sahabat karibnya, karena itu, hendaklah salah seseorang diantara kalian memperhatikan siapa yang digauli (nya).

(Musnad Imam Ahmad, Juz 16, hlm. 226, no Hadist 7685).

  1. Faktor ekonomi, adanya faktor ekonomi mengakibatkan adanya perlawanan antara orang tua dan anaknya.
  2. D.    Hukuman Bagi Anak Yang Durhaka Kepada Orang Tua

Diantara hukuman bagi orang yang durhaka kepada orang tua adalah :

  1. Pelakunya menjadi sosol yang dilaknat oleh ALLah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW.

Artinya : “Allah melaknat orang yang mengubah batas (patok) tanah , Alllah melaknat budak yang bertuan kepada selain tuannya, Allah melaknat orang yang menyesatkan jalan orang orang yang buta , Allah melaknat orang yang menyembelih (hewan) untuk selain, , Allah melaknat orang yang melakukan hubungan seksual dengan binatang  Allah melaknat orang yang durhaka kepada orang tua dan Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth”. (Musnad Imam Ahmad, Juz 6, hlm 298, Hadist no. 2765)

  1. Rizkinya akan dipersempit

Kalaupun rizkinya dilapangkan, itu merupakan stidraz ( tipuan ) baginya dengan demikian, barang siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya, maka Allah akan melapangkan rizkinya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist :

Artinya : Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya oleh Allah dan dilapangkan rizkinya. Serta dihindarkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertaqwa dan membina silaturrahmi. (Al-Mustadrak, al-hakim, Juz, hlm 128, hadist no. 7389).

  1. Ajalnya tidak akan ditangguhkan
  2. Pelakunya berpeluang meninggal dunia dengan buruk, ia berpeluang meninggal dalam keadaan buruk, seperti dalam keadaan maksiat.
  3. Amalnya tidak diterima meskipun amal itu baik, hal; tersbut disebabkan dia telah durhaka kepada kedua orang tuanya , di riwiyatkan dari umamah al-bahili, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya : Ada tiga (kelompok) yang Allah tidak akan menerima sharf dan tidak pula adl Nya, yaitu orang-orang  yang durhaka (kepada orang tuanya) , orang yang sering menyebut-nyebut apa yang telah dia berikan  dan orang mendustakan taqdir. ( al-Ibanah al-Kubraq, Ibnu Bathah, Juz 4, hlm 60 hadist no. 153).

IV. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan sebagai berikut:

  1. Durhaka kepada kedua orangadalah mengabaaikan hak-hak mereka, membangkang terhadap mereka dan melakukan hal-hal yang tidak mereka suka, menyakiti mereka, meski hanya dengan sepataah kata atau pandangan menyakitkan.
  2. Durhaka kepada orang tua adalah suatu hal yangdi haramkan dan termasuk dosa besar setelah syirik.
  3. Penyebab dari timbulnya sikap tersebut, diantaranya adalah :

a)    Tidak mengetahui keagungan orang tua.

b)   Adanya sikap orang tua yang lebih mengutamakan atau mementingkan sebagian

c)    Kelalaian dari orang tua dalam menafkahi anak-anaknya semasa kecil

d)   Berteman dengan orang-orang yang buruk budi pekertinya yang mendorong sahabatnya yang mendorong menentang orang tuanya

  1. Hukuman bagi orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya :

a)    Pelakunya menjadi sosok yang dilaknat oleh Allah

b)   Rizkinya akan di persempit

c)    Ajalnya tidak akan ditangguhkan

d)   Pelakunya berpulang meninggal dunia dalam keadaan yang buruk

e)    Amalnya tidak akan diterima meskipun amal itu baik

f)    Anak cucunya akan durhaka kepadanya.

V. PENUTUP              

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik yang konstruktif dari teman-teman sangatlah kami harapkan, supaya pembenahan dari isi dan subtansi makalah ini bisa lebih baik, dan mudah-mudahan didalam pembuatan makalah ini bisa bermanfaat, amin.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, S. Ziyad, Pilihan Hadist Politik Ekonomi dan Sosial, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1991

Asqolani, Ibnu Hajar, fatkhul Bari’, Surabaya: Al-Hidayah, th, Jilid 10.

Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlak,  Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2007, Cet. IX

RI, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahanya,  Semarang: Toha Putra, 1989

Shabir, Muslich, Peringatan Bagi Orang-orang yang Lupa, Terjemahan Kitab Tanbihul Ghafilin, Penerjemah: Al-Faqih Nashr Muhammad bin Ibrahim As-Samarqandi,  Semarang: Toha Putra, 1993.

Suharso, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Semarang: CV. Widya Karya, 2009, Cet. XIII.

 


[1] Suharso, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Semarang: CV. Widya Karya, 2009), Cet. XIII, hlm. 126

[2] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2007), Cet. IX, hlm. 157

[3] Adalah gangguan jiwa dan hati.

[4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya,  (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 427-428

                        [5] Yunahar Ilyas, Op.Cit, hlm. 151

[6] Ibnu Hajar Asqolani, fatkhul Bari’ ( Surabaya: Al-Hidayah, -), Jilid ke 10,  hlm. 403

[7] S. Ziyad Abbas, Pilihan Hadist Politik Ekonomi dan Sosial, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1991),  hlm. 1

[8] Departemen Agama RI,Op.Cit, hlm. 123

[9] Muslich Shabir, Peringatan Bagi Orang-orang yang Lupa, Terjemahan Kitab Tanbihul Ghafilin, Penerjemah: Al-Faqih Nashr Muhammad bin Ibrahim As-Samarqandi, ( Semarang: Toha Putra, 1993), hlm. 182-183.

[10] Yunahar Ilyas, Op.Cit, hlm. 158

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s