PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN SEKOLAH-SEKOLAH ISLAM

Standar

PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN

 SEKOLAH-SEKOLAH ISLAM

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam

Dosen Pengampu : Bpk. Ruswan, M. Ag

Disusun Oleh:

Umi Hanik                             (103111105)

Zeny Ngindahul Masruroh  (103111106)

Zubaidah                                (103111107)

Ani Mutmainnah                   (103111108)

Amri Khan                             (103111109)

Durrotun Nashihah              (103111110)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN SEKOLAH-SEKOLAH ISLAM

  1. I.     PENDAHULUAN

Perkembangan jaman yang semakin pesat menuntut umat Islam untuk tidak hanya mempelajari Islam saja. Akan tetapi, mengimbanginya dengan pengetahuan-pengetahuan dunia demi kemajuan Islam sendiri melalui sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh Islam. Agar umat Islam tidak terlena dengan romantisme sejarah masa lalu dan minimal mampu mengimbangi Barat dalam segala aspek.

Sekolah-sekolah Islam tak ubahnya seperti sekolah-sekolah pada umumnya, yaitu mengonsep pendidikannya untuk terjadi perubahan dalam diri peserta didik. Entah dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak mau menjadi mau, atau pun yang tidak mampu menjadi mampu. Bedanya sekolah-sekolah mIslam mengorientasikan peserta didiknya untuk berakhlakul karimah, beriman, bertakwa, dan mengamalkan nilai-nilai yang termaktub dalam al-Qur’an maupun hadits.

Tujuan sekolah didirikannya sekolah Islam adalah untuk menjadikan peserta didik yang paripurna dan atau insan kamil yang mana peserta didik tersebut mampu menjadi peserta didik yang menghambakan dirinya kepada Allah dan menjadi khalifah fil ardh yang mampu mengelola dan mengoptimalkan segala potensi yang ada di bumi tanpa mengeksploitasinya.

 

  1. II.     RUMUSAN MASALAH

A. Bagaimana Latar Belakang Berdirinya Sekolah-sekolah Islam?

  1. Bagaimana Sejarah Pendirian dan Perkembangan Sekolah-sekolah Islam di Indonesia?
  2. Apa Urgensi Pendidikan Agama Islam di Sekolah?
  1. III.     PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Berdirinya Sekolah-sekolah Islam

Bentuk lain dari lembaga pendidikan Islam di Indonesia, selain pondok pesantren dan madrasah adalah sekolah dan atau perguruan Islam. Apabila dibandingkan dengan sistem pendidikan Islam di pondok pesantren dan madrasah yang lebih menitik beratkan kepada pelajaran agama Islam, maka sekolah dan perguruan Islam  cenderung menggunakan sistem pendidikan sekolah umum yang memberikan pelajaran umum dalam porsi lebih besar dibanding dengan pelajaran agama (Islam).

Dilihat dari sejarah perkembangannya sebagaimana banyak dikemukakan oleh para ahli, bahwa di masa penjajahan Belanda tujuan pendidikan kolonil adalah sekedar mendapatkan tenaga-tenaga administrasi yang murah untuk kepentingan penjajah. Sebab tenaga-tenaga dari negara belanda dinilai terlalu mahal.

Pemerintah Belanda sangat membatasi penyelenggaraan sekolah bagi penduduk pribumi, sehingga jumlah sekolah sangat terbatas. Dalam pada itu pemerintah Belanda memberi izin dan kelulusan kepada gereja khatolik dan protestan untuk mendirikan sekolah seperti yang berlaku di negeri Belanda.

Keadaan ini mendorong para pembangkit semangat kebangsaan untuk mendirikan sekolah swasta, seperti sekolah Adi Darma di Yogya, sekolah Muhammadiyah dan Taman Siswa di Yogya, sekolah Adabiyah di Padang, Sekolah Thawalib dan Perguruan Diniyah Putri di Padang Panjang Sumatera Barat dan sekolah-sekolah lainnya di samping pondok pesantren yang telah banyak berdiri sebagai reaksi terhadap sikap penjajah Belanda.

Sekolah dan perguruan Islam meskipun tidak pernah mendapat pehatian dari penjajah Belanda, namun mampu hidup dan berkembang. Umat Islam terus berupaya meningkatkan lembaga-lembaga pendidikannya sampai ke desa.[1]

Sekolah telah didirikan oleh Belanda sejak abad XVII. Sekolah-sekolah Belanda ini telah menyebar ke seluruh Indonesia. Di sekolah-sekolah Belanda tidak diajarkan mata pelajaran agama, sesuai dengan kebijakan pemerintah Belanda yang netral agama. Pendidikan agama di zaman kolonial baru diberikaan di sekolah setelah berdirinya sekolah-sekolah yang diasuh oleh organisasi Islam.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah sejak tahun 1946 telah melaksanakan kerjasama antara Departemen Agama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan guna terlaksananya pendidikan agama di sekolah. Ditinjau dari segi pelaksanaannya setelah Indonesia merdeka dapat dibagi tiga fase. Fase pertama sejak tahun1946-1966 sebagai fase peletakan dasa dari pendidikan agama di sekolah. Fase ini dapat dikatakan berupa fase pencarian bentuk dan masa pembinaan awal.

Fase kedua adalah fase setelah diadakannya Sidang Umum MPRS/1966, TAP MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Pasal 1 menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Di samping itu, pasal 4 menyatakan tentang isi pendidikan yang semakin memperkuat pendidikan agama, yakni poin (a) yang berbunyi “Mempertinggi mental, budi pekerti, dan memperkuat keyakinan beragama”.

Fase ketiga yaitu sejak diberlakukannya  Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 2 tahun 1989) di mana pendidikan agama sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan pada setiap jenis jalur dan jenjang pendidikan. Penjelasan ini tertuang pada Bab II Pasal 39 Ayat 2 tentang Isi Kurikulum. Isi kurikulum setiap jenis jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat: pendidikan pancasila, pendidikan agama, dan pendidikan kewarganegaraan. Kebijakan pendidikan yang seperti ini juga diwujudkan dalam UU No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.[2]

  1. Sejarah Pendirian dan Perkembangan Sekolah-sekolah Islam
    1. Sebelum Kemerdekaan

Sekolah-sekolah pertama kali berdiri di Indonesia pada zaman VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Tahun 1607, VOC mendirikan sekolah yang pertama di Ambon. Pada tahun 1632 telah ada sejumlah 16 buah sekolah di Ambon. Tahun 1645 meningkat menjadi 33 buah. Tujuan pertama pendidikan sekolah ini adalah untuk melenyapkan agama katholik dengan menyebarkan Protestan Calfinisme. Di Jakarta sekolah pertama didirikan tahun 1617, tahun 1636 jumlahnya menjadi 3 buah. Tujuan sekolah ini didirikan untuk mencetak tenaga kerja yang kompeten pada VOC. Perkembangan pendidikan mulai merosot pada pertengahan abad ke-18. Sewaktu tanah jajahan dikembalikan kepada Belanda tahun 1819, pendidikan dalam keadaan yang menyedihkan, ditandai dengan tidak adanya satu sekolahpun di luar jawa.

Dalam rangka memperbaiki pengajaran rendah bagi bumi putra, maka pada tahun 1907 diambil dua tindakan penting:

  1. Memberi corak dan sifat kebelanda-belandaan pada sekolah-sekolah kelas I (sekolah yang dikhususkan bagi anak kaum bangsawan). Sekolah-sekolah kelas I dimasukkan bahasa Belanda sebagai mata pelajaran, dan mulai diberikan sejak kelas III sampai kelas V. Di kelas VI bahasa Belanda dijadika bahasa pengantar dan pada tahun 1914 sekolah kelas I dijadikan HIS (Hollands Inlandse School).
  2. Mendirikan sekolah-sekolah desa. Atas perintah gubernur jenderal Van Heutsz, pada tahun 1907 didirikan sekolah-sekolah desa (Djumhur, 1979: 135-136).
  3. Zaman Kemerdekaan

Dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa salah satu dari tujuan negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk tercapainya cita-cita tersebut maka pemerintah dan rakyat Indonesia berusaha membangun dan mengembangkan pendidikan semaksimal mungkin. Tujuan pendidikan dicantumkan pada Bab II Pasal 3 berbunyi:

“Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”

Dalam perkembangan selanjutnya dasar, tujuan serta isi pendidikan dasar dilihat pada ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966, yang berbunyi sebagai berikut:

  1. Dasar pendidikan nasional adalah falsafah negara pancasila
  2. Tujuan pendidikan nasional ialah membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dan isi UUD 1945
  3. Isi pendidikan Nasional

Untuk mencapai dasar tujuan diatas, maka isi pendidikan adalah sebagai berikut:

1)   Mempertinggi mental moral budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama

2)   Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan

3)   Membina dan memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat.

Sejak diundangkannya UU No. 2 Tahun 1989 Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditindak lanjuti dengan lahirnya Peraturan Pemerintah yang berkenaan dengan pendidikan yang meliputi:

a)    PP No.27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah

b)   PP No.28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar

c)    PP No.29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah

d)   PP No.30 Tahun 1990 yang kemudian diganti dengan PP 60 Tahun 1990, tentang Pendidikan Tinggi

e)    PP No.72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa

f)    PP No.73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah

g)   PP No.38 Tahun 1992 tentang Kependidikan

h)   PP No.39 Tahun 1992 tentang Peran serta Masyarakat dalam Pendidikan

Selanjutnya untuk lebih menjawab perkembangan zaman lahirlah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang baru, yaitu UU No. 20 tahun 2003. Undang-undang tersebut memiliki beberapa paradigma baru yang membedakannya dengan Undang-undang Pendidikan yang sebelumnya. Paradigma baru tersebut adalah desentralisasi, demokrasi, peran serta masyarakat, kesetaraan dan keseimbangan, jalur formal, non formal dan informal.[3]

Pada abad yang sama munculah usaha-usaha pembaruan pendidikan Islam di Indonesia. Dimotivasi baik oleh kondisi intern umat Islam maupun ekstern. Dari uraian yang dikemukakan terdahulu dapat dimaklumi bahwa pembaruan itu terkonsentrasi pada dua hal, yaitu sistemnya, dan materi pelajaran.[4]

Semakin pesatnya perkembangan jaman menuntut manusia untuk mengikuti arus globalnya. Termasuk didalamnya adalah pendidikan yang harus berjalan seiring dengan perkembangan zaman dengan tanpa mengesampingkan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu sendiri.

Dinamika arus global ternyata membawa pengaruh buruk terhadap dunia pendidikan salah satunya yaitu terjadinya dekadensi moral. Dari problematika tersebut, maka sekolah-sekolah umum diberikan pendidikan agama agar problem tersebut dapat diminimalisir dan menyeimbangkan aspek IQ, EQ, ataupun SQ.

Ruang lingkup pendidikan agama yang dikelola oleh departemen agama tidak hanya pada terbatas pada sekolah-sekolah agama saja -pesantren dan madrasah- tetapi juga menyangkut sekolah-sekolah umum. Upaya-upaya untuk melaksanankan pendidikan agama di sekolah umum, telah dimulai sejak adanya rapat Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP), diantara usul badan tersebut kepada kementrian pendidikan, pengajaran dan kebudayaan, adalah termasuk masalah pengajaran agama, madrasah, dan pesantren. Hasil kerja panitia penyelidik pengajaran yang menyangkut agama adalah sebagai berikut:

  1. Pelajaran agama dalam semua sekolah, diberikan pada jam pelajaran sekolah.
  2. Para guru dibayar oleh pemerintah.
  3. Pada sekolah rakyat, pendidikan ini diberikan mulai kelas IV.
  4. Pendidikan itu dilaksanakan seminggu sekali pada jam tertentu.
  5. Para guru diangkat leh departemen agama
  6. Para guru agama diharuskan juga cakap dalam pendidikan umum.
  7. Diadakan latihan bagi para guru agama.
  8. Kualitas pesantren dan madrasah harus diperbaiki.
  9. Pemerintah menyediakan buku untuk pendidikan agama.
  10. Pengajaran Bahasa Arab tidak dibutuhkan.[5]
  1. Urgensi Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Pendidikan agama dirasa perlu dan bahkan krusial untuk dimasukkan dalam pendidikan umum dikarenakan ada beberapa problem yang dihadapi pendidikan umum yang hanya bisa terselesaikan dengan dimasukkannya pendidikan agama. Diantaranya :

  1. Peserta didik pendidikan agama, di sekolah berasal dari latar belakang kehidupan beragama yang beragam. Hal ini tentu banyak dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan beragama di lingkungan keluarga masing-masing. Ada di antaranya berasal dari lingkungan keluarga yang taat beragama, tetapi ada juga sebaliknya. Hal ini sangat berdampak terhadap keberhasilan pendidikan agama di sekolah. Bagi peserta didik yang berasal dari lingkungan kurang taat beragama, perlu penanganan serius sebab apabila tidak dicarikan solusinya maka peserta didik ini bukan saja tidak serius mengikuti pendidikan agama tetapi juga akan menganggap enteng pendidikan agama. Sikap seperti ini amat berbahaya, sebab bisa saja sikapnya yang seperti itu akan terkontaminasi bagi peserta didik lainnya.
  2. Pendidik

Pendidik adalah salah satu faktor pendidikan yang amat penting. Sarana dan fasilitas yang memadai harus dimiliki oleh pendidik, yang mana harus menguasai dan menyeimbangkan empat kompetensi Guru yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial.

  1. Kurikulum

Kurikulum, silabus, GPPP dan seterusnya adalah merupakan isi atau materi pelajaran yang akan diberikan pada peserta didik. Agar materi itu tercapai dalam rangka terbentuk tiga ranah sekaligus yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik, perlu diprogamkan secara simultan intrakulikuler, ekstrakurikuler dan kokurikuler.

  1. Sarana dan fasilitas

Sarana dan fasilitas merupakan alat bantu pendidikan guna mempercepat tercapainya tujuan pendidikan. Pendidikan agama juga membutuhkan sarana dan fasilitas dalam menyampaikan materinya.

  1. Metode

Metode adalah upaya atau cara si pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Bagaimana caranya pendidik menggunakan variasi metode agar materi dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.

  1. Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan selama ini adalah mengukur kognitif si peserta didik dan nilai evaluasi itulah yang dimasukkan ke dalam rapor mereka. Dan seharusnya evaluasi harus melingkupi tiga ranah sekaligus yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.[6]

  1. IV.     KESIMPULAN
    1. Latar Belakang Berdirinya Sekolah-sekolah Islam
    2. Sejarah Pendirian dan Perkembangan Sekolah-sekolah Islam
    3. Urgensi Pendidikan Agama Islam di Sekolah

 

  1. V.     PENUTUP

Demkianlah makalah yang kami susun dan kami menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunan makalah ini. Sehingga kami mohon kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca yang dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi pemakalah dan unutk perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Semoga dapat memberikan manfaat untuk pembaca dan pemakalah khususnya. Amin………

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Daulay, Haidar Putra, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009

_________________ , Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di indonesia, Jakarta: Kencana, 2007

Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI,1986

 


[1] Zuhairini dkk, sejarah pendidikan islam di indonesia, (Jakarta: Departemen Agama RI,1986), hlm. 95

[2] Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009), hlm. 20-21

[3] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 84-85

[4] Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, hlm. 34

[5] Haydar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Op. Cit., hlm. 86-87

[6] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia hlm. 91-93

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s