TIPOLOGI PESERTA DIDIK

Standar

TIPOLOGI PESERTA DIDIK

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Hadits Tarbawy II

Dosen Pengampu: Achmad Zuhrudin, M.S.I

Disusun Oleh:

Zeni Ngindahul Masruroh            (103111106)

Zubaidah                                      (103111107)

Ani Mutmainnah                          (103111108)

Amri Khan                                    (103111109)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

 

TIPOLOGI PESERTA DIDIK

 

  1. I.          PENDAHULUAN

Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimanapun wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu.

Untuk mengemban tugasnya sebagai hamba Allah dan sekaligus khalifahNya manusia telah dilengkapi Allah dengan potensi yang selaras dan serasi. Potensi tersebut hanya akan berfungsi secara maksimal apabila dikembangkan melalui proses bimbingan secara bertahap, terarah, terprogram dan berkesinambungan.

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimana Pengertian  Tipologi Peserta Didik?
  3. Bagaimana Hadits  Tentang Tipologi Peserta Didik dan Implikasinya Terhadap Pendidikan?
  1. III.          PEMBAHASAN
  2. A.  Pengertian Tipologi Peserta Didik

Tipologi adalah ilmu watak tentang bagian manusia dalam golongan menurut corak watak masing-masing.[1] Sedangkan peserta didik dalam pendidikan islam adalah individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Definisi tersebut memberi arti bahwa peserta didik merupakan individu yang belum dewasa, yang karenanya memerlukan orang lain untuk menjadikan dirinya dewasa.[2]

Dari pengertian tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa tipologi peserta didik adalah ilmu watak terhadap individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

Berdasarkan definisi tentang peserta didik yang disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki sejumlah karakteristik diantaranya:

  1. Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehinggga ia merupakan insan yang unik.
  2. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar, baik yang ditunjukkan kepada diri sendiri maupun yang diarahkan pada penyesuaian dengan lingkungannya.
  3. Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan indicidual dan perlakuan manusiawi. Maka proses pemberian bantuan dan bimbingan perlu mengacu pada tingkat perkembangannya.
  4. Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri . dalam perkembangannya peserta didik memiliki kemampuan untuk berkembangke arah kedewasaaan.[3]
  1. B.  Hadits Tentang Tipologi Peserta Didik dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَا نَ يُحَدِّثُ قَا لَ النَّبِيُّ ص.م : مَامِنْ مَوْلُوْدٍإِلّآيُوْلَدُعَلَى الْفِطْرَةِ, فَأَبُوْاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ, كَمَاتُنْتَجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ, هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُوْهُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (فِطْرَةَ الله الَّتِيْ فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَا) الأية.[4]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu.

Dalam hadits tersebut terdapat kata fitrah yang dalam konsep pendidikan Islam disebut potensi yang berarti kekuatan asli yang terpendam didalam diri manusia yang dibawanya sejak lahir, yang akan menjadi pendorong dan penentu bagi kepribadiannya, serta yang dijadikan alat untuk pengabdian dan ma’rifatullah. Adapun potensi (fitrah) yang ada dalam diri manusia sebagai peserta didik sebenarnya cukup banyak. Seluruh potensi (fitrah) yang ada pada diri peserta didik tersebut harus dikembangkan secara komprehensif agar dalam perkembangannya, diharapkan dia akan menjadi manusia dalam pengertian manusia seutuhnya.[5]

Kata fitrah secara etimologis mengandung arti kejadian, karena fitrah berasal dari kata kerja fatoro yang berarti menjadikan. Secara terminologis Fitrah mengandung implikasi pendidikan yang berkonotasi kepada faham nativisme, empirisme dan konvergensi.[6]

  1. Nativisme

Nativisme berasal dari kata nativis yang berarti pembawaan. Dimana anak sejak lahir telah membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu. Sifat-sifat dan dasar-dasar yang dibawa sejak lahir itu dinamakan sifat-sifat pembawaan.

Sifat pembawaan itu sangat penting bagi perkembangan individu. Pendidikan dan pengaruh lingkungan hidup hampir-hampir tidak ada terhadap perkembangan anak. Akibatnya para ahli pengikut aliran nativisme mempunyai pandangan yang pesimisme terhadap pengaruh pendidikan. Ahli yang mengikuti pendapat ini di antaranya Schopenhouer dan Lombrose.[7]

Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik”. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak didik sendiri. [8]

  1. Empirisme

Menurut teori ini manusia tidak memiliki pembawaan. Seluruh perkembangan hidupnya sejak lahir sampai dewasa semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar atau faktor lingkunga hidup dan pendidikan. Salah seorang pelopor teori empirisme ialah John Locke, seorang ahli filsafat orang Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Ia mengatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih yang belum mendapat coretan sedikitpun. Akan dijadikan apa kertas itu terserah kepada yang menulisnya. Teori ini disebut teori “Tabularasa”.[9]

  1. Konvergensi

Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik  faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Wlliam stren berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan.[10]

Dalam kerangka layanan pendidikanini bermakna bahwa perkembangan peserta didik akan teroptimasi, jika guru dan tenaga kependidikan mampu memerankan fungsi pada tempat dan ruang yang sesuai. Namun demikian, kapasitas guru dan tenaga kependidikan tetap ada batas-batasannya, sesuai dengan potensu dasar anak. Salah satu potensi itu adalah multi kecerdasan atau salah satu kecerdasan dominan yang dimilikinya. Tentu saja guru dan orang tua bisa berkehendak seperti apa yang dimauinya, akan tetapi anak atau peserta didik mempunyai potensi, harapan, persepsi tersendiri mengenai kehidupannya, kini da kedepan.[11]

  1. IV.          KESIMPULAN

 

Tipologi peserta didik adalah ilmu watak terhadap individu sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

Sabda Nabi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَا نَ يُحَدِّثُ قَا لَ النَّبِيُّ ص.م : مَامِنْ مَوْلُوْدٍإِلّآيُوْلَدُعَلَى الْفِطْرَةِ, فَأَبُوْاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ, كَمَاتُنْتَجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ, هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُوْهُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (فِطْرَةَ الله الَّتِيْ فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَا) الأية.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu.

Hadits tersebut senada dengan aliran pendidikan yaitu nativisme, empirisme dan konvergensi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Bukhari, Imam Abi Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Maghirah, Shoheh Bukhari, Libanon: Bairut, 1992

Danim, Sudarwan, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfa Beta, 2010

Derpartemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001

Mujib, Abdul, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008

Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2010

Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2009

Tirtarahardja,Umar dan La Sulo, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005


[1] Derpartemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), edisi 3, hlm. 1199

[2] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008), cte.2, hlm. 103

[3]  Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), cet.2, hlm. 40

[4]  Imam Abi Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Maghirah al Bukhari, Shoheh Bukhari, (Libanon: Bairut, 1992), Juz.1, hlm 413

[5] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 137

[6] Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2009), hlm. 137-138

[7] Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2010), 33

[8] Umar tirtarahardja dan La Sulo, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), hlm. 196

[9] Mustaqim dan Abdul Wahib, 2010, hlm. 33-34

[10] Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 2005, hlm. 198

[11]  Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Alfa Beta, 2010), hlm. 27-28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s