KHULU’ DAN RUJU’

Standar

KHULU’ DAN RUJU’

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Fiqh Munakahah

Dosen Pengampu: Drs. H. Amin Farih ,M.A

 


Disusun Oleh:

Nafi’ul Huda               (103111129)

Rochmatun Naili        (103111131)

Syaiful Anwar             (103111132)

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 

KHULU’ DAN RUJU’

  1. I.     PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini sering terlihat di televisi, seorang isteri mengajukan gugat cerai terhadap suaminya. Berita tersebut semakin hangat, karena si penggugat yang sering diekspos di media televisi adalah figure atau artis-artis terkenal. Gugatan cerai tersebut ada yang berhasil, yaitu jatuhnya talak, atau karena keahlian hakim dan pengacara, gugat cerai urung dilanjutkan, sehingga rumah tangga mereka terselamatkan. Padahal mereka mengikatkan diri dalam lembaga perkawinan adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah s.w.t.

Pada dasarnya perceraian itu adalah hal yang di bolehkan tetapi hal tersebut adalah hal yang dibenci olah Allah SWT. Maka dari itu , sebisa mungkin manusia menghindari perceraian tersebut. Tetapi apbaila sudan terlanjur bercerai, maka haruslah kita berpikirkembali tentang apa yang sudah diputuskan karena suami mempunyai hak, yaitu hak merujuk kepada istri yang sudah terlanjur di ceraikan. Istilah “Rujuk” bayak sekali kita dengar atau kita ketahui, baik melalui televisi maupun secara langsung atau juga pengalaman orang tentang istilah tersebut. Dalam kesempatan kali ini kami akan sedikit menjelaskan tentang gambaran khulu’ dan ruju’.

  1. II.  RUMUSAN MASALAH
    1. Apa Pengertian Khulu’ dan Ruju’?
    2. Apa Hukum Khulu’ dan Ruju’?
    3. Apa Rukun Khulu’ dan Ruju’?
    4. Bagaimana Tujuan dan Hikmah Khulu’ dan Ruju’?
    5. Apa Saja Permasalahan dalam Khulu’ dan Ruju’?
    6. III.   PEMBAHASAN
      1. A.  Pengertian Khulu’ dan Ruju’

1.     Pengertian Khulu’

Pengertian Khulu’ menurut bahasa, kata khulu’ dibaca dhomah huruf kha yang bertiitik dan sukun lam dari kata khila’ dengan dibaca fathah artinya naza’ (mencabut), karena masing-masing dari suami istri mencabut pakaian yang lain seperti firman Allah dalam Al-Quran: “mereka itu adalah pakaian, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.”(QS. Al-Baqoroh: 187).[1]

Untuk maksud yang sama dengan kata khulu’ itu ulama menggunakan kata, yaitu: fidyah, shulh, mubaraah. Walaupun dalam makna yang sama, namun dibedakan dari segi jumlah ganti rugi atau iwadh yang digunakan. Dan bila ganti rugi untuk putusnya hubungan perkawinan itu adalah seluruh mahar yang diberikan waktu nikah disebut khulu’. Bila ganti rugi adalah separuh dari mahar, disebut shulh, bila ganti rugi itu lebih banyak dari mahar yang diterima disebut fidyah dan bila istri bebas dari ganti rugi disebut mubaraah.[2]

2.     Pengertian Ruju’

Sedangkan pengertian Ruju’ menurut bahasa Arab, kata ruju’ berasal dari kata raja’a-yarji’u-rujk’an yang berarti kembali, dan mengembalikan. Dalam istilah hukum Islam, para fuqoha’ mengenal istilah “ruju”dan istilah “raj’ah” yang keduanya semakna. Menurut Asy-Syafi’i:

الر جعة اعادة احكام الزواج فى اثناء العدة بعدالطلاق    Ruju’ ialah mengembalikan status hukum perkawinan sebagai suami istri ditengah-tengan iddah setelah terjadinya talak (raj’i).

Dapat dirumuskan bahwa ruju’ ialah mengembalikan status hukum perkawinan secara penuh setelah terjadi talak raj’i yang dilakukan oleh bekas suami terhadap bekas istrinya dalam masa iddah, dengan ucapan tertentu.[3]

  1. B.  Hukum Khulu’ dan Ruju’
    1. Hukum dan dasar hukum Khulu’

Khulu’ itu perceraian dengan kehendak istri. Hukumnya menurut jumhur ulama adalah boleh atau mubah. Dasar dari kebolehannya terdapat dalam Al quran dan terdapat pula dalam Hadits Nabi, telah berlaku secara umum baik sebelum datangnya Nabi atau sesudahnya.[4] Adapun dasarnya dari Al quran adalah firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 229:

÷bÎ*sù… ÷LäêøÿÅz žwr& $uK‹É)ム yŠr߉ãn «!$# Ÿxsù yy$oYã_ $yJÍköŽn=tã $uK‹Ïù ôNy‰tGøù$# ÏmÎ/ ….3

Artinya: “…jika kamu kuatir bahwa keduanya (suami istri) tidak menjalankan hukum-hukum allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang  diberikan istri untuk menebus dirinaya ….”

 

Khulu’ diperbolehkan jika memenuhi syarat-syarat yang telah di tentukan. Rasulullah pernah bersabda kepada istri Tsabit bin Qais ketika ia datang kepada beliau untuk menuturkan perihal suaminya; “ Wahai Rasulullah, aku tidak mencela suamiku baik dalam hal akhlak dan agamanya, tetapi aku tidak menyukai kekufuran setelah (memeluk) Islam. maka rasul bersada; Apakah engkau bersedia mengembalikan  kebun yang menjadi maharnya? Jamilah  (Istri Tsabit) menjawab;” ya, aku bersedia.  lalu beliau berkata kepada Tsabit, terimalah kebun itu dan ceraikanlah istrimu.”(H.R. Bukhari).[5]

Sebagian ulama’ diantaranya Abu Bakar bin Abdullah al-Muzanniy tidak memperbolehkan khulu’ tersebut bahkan bila dilakukan, maka yang berlangsung adalah talak bukan khulu’. Alasan yang dikemukakan oleh beliau adalah bahwa khulu’ yang pada hakekatnya si suami mengambil kembali mahar yang telah diberikan kepada sang istrinya dalam bentuk Iwadh,  hukum yang berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 229 telah di cabut atau di-nasakh oleh ayat 20 surat An-Nisa’.

÷bÎ)ur ãN›?Šu‘r& tA#y‰ö7ÏGó™$# 8l÷ry— šc%x6¨B 8l÷ry— óOçF÷s?#uäur £`ßg1y‰÷nÎ) #Y‘$sÜZÏ% Ÿxsù (#rä‹è{ù’s? çm÷ZÏB $º«ø‹x© 4 ¼çmtRrä‹äzù’s?r& $YY»tGôgç/ $VJøOÎ)ur $YYÎ6•B ÇËÉÈ

Artinya:” jika kamu menginginkan  pengganti istri sedangkan kamu telah memberikan kepadanya sesuatu, janganlah kamu mengambilnya. Apakah kamu akan mengambil dalam bentuk kebohongan dan dosa yang jelas?

 

Ibnu Sirih dan Abi Qalabah mengatakan bahwa tidak boleh Khulu’ kecuali bila jelas di perut istri terdapat janin dalam arti di sudah melakukan suatu perbuatan keji,[6]sebagaimana disebutkan Allah dalam surat An-Nisa’ayat 19:

Ÿwur… £`èdqè=àÒ÷ès? (#qç7ydõ‹tGÏ9 ÇÙ÷èt7Î/ !$tB £`èdqßJçF÷s?#uä HwÎ) br& tûüÏ?ù’tƒ 7pt±Ås»xÿÎ/ 7poYÉit6•B 4 ….

Artinya ; “ janganlah kamu enggan  terhadapnya supanya kamu mendapatkannya kembali apa yang telah kamu berikan, kecuali ia telah jelas berbuatsesuatu perbuatan yang keji”.

 

Dalam kitab Bajuri ‘Ala Ibnu Qasim dijelaskan hukum dari khulu’ sendiri dibolehkan, yaitu sebagai berikut:

احكام الخلع أى كجوازه المذكورفى قوله والخلع جائزوملك المرأة به نفسها وعدم الرجعة بعده الانكاح جديد الى آخر ماسيأتى والاصل فيه قبل الاجماع. قوله تعالى فان طبن لكم عن شئ منه نفسا. الآية[7]

Hukum dari khulu’ itu sendiri dibolehkan dan ini (khulu’) datangnya dari sang istri dengan kehendaknya sendiri. Karena khulu’ adalah kepemilikan atau hak dari sang istri dan tidak ada ruju’ sesudahnya kecuali dengan pernikahan yang baru. Adapun dalil dari alqur’an (فان طبن لكم عن شئ منه نفسا. الآية)

وان كره كما هوالأصل فيه كمامر أوحرم كان وقع الأحنبى فى حال الحيض.[8]

Meskipun seorang suami tidak mau (benci) seperti halnya keterangan yang sudah ada dari dalil asal yaitu al-Qur’an bahwa khulu’ ini haram jika dijatuhkan atas dasar orang lain, dan istri dalam keadaan haidh.

يقع به طلقة بائنة. ولو بدون عوض أونية فىرأي الحنيفه والمالكية, والشافعية فى الراجح, وأحمد في رواية عنه لقوله تعالى: فلاجناح عليهما فيما افتدت به (البقره:۲\۲۲۹ ). وانما يكون فداء إذاخرجت المرأة من سلطان الرجل, ولو لم يكن بائنا لملك الرجل الرجعة, وكانت تحت حكمه وقبضته, ولآن القصد إزالة الضرر عن المرأة, فلو جازت الرجعة لعاد الضرر.[9]

Terjadinya khulu’ maka terjadilah talak ba’in, walaupun tanpa adanya iwadh ataupun niat menurut pendapat Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah menurut pendapat yang diunggulkan dan menurut riwayat dari Ahmad dengan dalil (فلاجناح عليهما فيما افتدت به (البقره:۲\۲۲۹)

Bahwa khulu’ itu menggunakan tebusan yang dikeluarkan oleh pihak perempuan untuk melepaskan dari kekuasaan seorang lelaki (suami). Dan tujuan dari pada khulu’ ialah untuk menghindari / menghilangkan bahaya dari sang suami.

  1. Hukum dan dasar hukum Ruju’

Dalam satu sisi ruju’ itu adalah membangun kembali kehidupan perkawinan yang terhenti atau memasuk kembali kehidupan rumah tangga. Kalau membangun kehidupan pertama kali disebut perkawinan, maka melanjutkan disebut ruju’. Hukum rujuk  dengan demikian sama dengan hukum perkawian, dalam kedudukan asal hukum ruju’ itu ulama’ berbeda pendapat. Jumhur ulama’ mengatakan bahwa rujuk itu adalah sunat[10]. Dalil yang digunakan oleh ulama’ itu adalah Q.S. Al-Baqarah ayat 229 :

ß,»n=©Ü9$#… Èb$s?§sD ( 88$|¡øBÎ*sù >$rá÷èoÿÏ3 ÷rr& 7xƒÎŽô£s? 9`»|¡ômÎ*Î/ 3 ….

Artinya: “Thalak itu ada dua kali sesudah itu tahanlah dengan baik atau lepaskanlah dengan baik.”

 

 

 

Demikian pula dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 228:

à£`åkçJs9qãèç/ur… ‘,ymr& £`ÏdÏjŠtÎ/ ’Îû y7Ï9ºsŒ ÷bÎ) (#ÿrߊ#u‘r& $[s»n=ô¹Î) ….

Artinya:  “ suami lebih berhak untuk kembali kepadanya dalam hal itu jika mereka baerkehendak untuk damai”

           

C. Rukun Khulu’ dan Ruju’

  1. Rukun  Khulu’

Di dalam Khulu’ itu terdapat beberapa unsur yang merupakan rukun yang menjadi karakteristik dari khulu’ itu dan didalam setiap rukun terdapat beberapa syarat yang hampir keseluruhannya menjadi perbincangan para ulama’ adapun yang menjadi rukun dari Khulu’ adalah:

  1. Suami yang menceraikan istrinya dengan tebusan
  2. Istri yang meminta cerai dari suaminya denga unag tebusan;
  3. Uang tebusan atau iwadh;
  4. Shighat;
  5. Alasan terjadinya khulu’.[11]
  6. Rukun Ruju’
    1. Suami atau yang mewakilinya;
    2. Istri itu sudah pernah di kumpulinya;
    3. Mengucapkan kata ruju’ (shighat);
    4. Kesaksian dalam ruju’.[12]

D. Tujuan dan Hikmah dari Khulu’ dan Ruju’

  1. Tujuan dan Hikmah Khulu’

Tujuan dari kebolehan khulu’ ialah untuk menghindarkan si istri dari kesulitan dan kemudharatan yang dirasakannya bila perkawinan dilanjutkan tanpa merugikan pihak si suami karna ia sudah mendapat iwadl dari istrinya atas pemintaan cerai dari istrinya itu.[13]

Menganai hikmah khulu’ Al- Jurjawi menuturkan: Khulu’ sendiri sebenarnya di benci oleh syariat yang mulia seperti halnya talak. Semua akal dan perasaan sehat menolak khulu’, hanya saja Allah Yang Maha Bijaksana memperbolehkannya untuk menolak bahaya ketika tidak mampu menegakkan hukum-hukum Allah.

Adapun hikmah yang terkandung di dalamnya sebagaimana telah di sebutkan adalah untuk menolak bahaya yaitu apabila perpecahan antara suami istri telah memuncak dan di kawatirkan keduanya tidak dapat menjaga syarat-syarat kdalam kehidupan suami istri, maka khulu’ dengan cara-cara yang telah di tetapkan oleh Allah, merupakan penolak terjadinya permusuhan dan untuk menegakkan hukum-hukum Allah.[14]

  1. Tujuan dan hikmah Ruju’

Diaturnya rujuk dalam hukum syara’ karna padanya terdapat beberapa  hikmah yang akan pmendatangkan kemaslahatan kepada manusia atau menghilangkan kesulitan dari manusia. Banyak orang mencerai istrinya tidak dengan pertimbangan yang matang sehingga setelah terjadi perceraian timbul penyesalan disatu atau kedua belah pihak. Dalam keadaan menyesal itu sering timbul keinginan untuk kembali dalam hidup perkawinan,  namun akan memulai hidup perkawinan yang baru menghadapi beberapa kendala dan kesulitan. Adanya rujuk ini menghilangkan kendala dan kesulitan tersebut.

Seorang istri yang berada dalam iddah thalaq raj’i disatu sisi diharuskan tinggal dirumah yang disediakan oleh sang suaminya, sedangkan suami dalam keadaan tertentu diam dirumah itu juga; disisi lain ia tidak boleh bergaul dengan istrinya itu.  Maka terjadilah kecanggungan psikologi dalam masa iddah itu.  Untuk keluar dari masalah ini Allah memberi pilihan yang mudah untuk diikuti yaitu kembali kepada kehidupan perkawinan sebagaimana semula. Kalau tidak mungkin ya, meninggalkan istri sampai habis masa iddah-nya  sehingga perkawinan betul-betul menjadi putus atau bain. [15]

  1. E.       Permasalahan Khulu’ dan Ruju’

1.     Permasalahan dalam Khulu’

Ada berbagai permasalahan yang terjadi dari adanya Khulu’, seperti:

  1. Waktu terjadinya Khulu’

Berbeda dengan talak yang melarang pelaksanaannya diwaktu istri dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci yang sudah dicampuri yang dinamai talak bid’iy, khulu’ dapat dilaksanakan kapan saja tanpa terikat waktu tertentu. Alasannya ialah tidak bolehnya menjatuhkan talak pada waktu haid atau suci yang sudah dicampuri adalah karena mendatangkan kemudharatan bagi istri dengan memanjangnya masa iddah yang harus dilaluinya.

  1. Ruju’ sesudah Khulu’

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa tidak boleh melakukan ruju’ setelah khulu’, karena meskipun khulu’ itu berbentuk talak, namun termasuk talak ba’in, yang tidak memberikan kemungkinan untuk rujuk.

Sebagian ulama’ diantaranya Abu Tsaur berpendapat bahwa bila dalam ucapan atau sighat khulu’ itu digunakan lafadz talak, boleh dilakukan ruju’ sesudah itu, karena ruju’ merupakan hak bagi yang menjatuhkan talak, oleh karena itu tidak akan gugur ruju’ itu hanya karena memberikan iwadh. Sebagian ulama’ yang lain diantaranya al- Zuhriy dan Said bin al-Musayyab berpendapat bahwa suami mempunyai hak pilih antara menerima iwadh dan menolaknya. Kalau suami menerima iwadh dia tidak memiliki hak untuk ruju’, sedangkan bila ia menolak iwadh yang diberikan istrinya, maka ia berhak untuk ruju’.

Dalam hal bila dalam ucapan khulu’ disyaratkan ia akan menggunakan hak ruju’, ulama juga beda pendapat tentang kebolehan ruju’. Menurut Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Malik mengatakan bahwa khulu’ sah, sedangkan syarat dikemukakan tidak wajib dipenuhi karena rusaknya. Khulu’ tidak rusak karena syarat yang rusak. Menurut nas Imam Syafi’i, dengan persyaratan adanya ruju’ itu batal khulu’. Tetapi sah talak yang diucapakan. Alasannya ialah bahwa persyaratan iwadh dengan ruju’ adalah bertentangan, oleh karenanya batal keduanya. Bila batal khulu’, yang terjadi adalah talak.

  1. Pelaksanaan Khulu’

Dalam hal pelaksanaan khulu’ harus dihadapan hakimatau tidak, terjadi beda pendapat dikalangan ulama.

Jumhur ulama diantaranya Imam Malik, Imam Syafi’i, al-Zuhriy, Ishak dan ulama Hanafiyah serta satu riwayat dari Imam ahmad mengatakan bahwa khulu’ itu dapat dilakukan sendiri antara suami dan istri dan tidak harus di depan hakim. Alasan mereka sebagaimana juga yang dikemukakan dalam talak, sedangkan talak itu merupakan hak suami yang untuk pelaksanaan haknya tidak perlu diketahui oleh pihak lain termasuk hakim.

Pendapat kedua, dari al-Hasan dan Ibnu Sirin mengatakan bahwa, khulu’ tidak boleh dilaksanakan kecuali didepan hakim. Alasan yang dikemukakan mereka sebagaimana dalam hadis Nabi tentang Tsabit bin Qeis itu penetapan dan terjadinya khulu’ karena permintaan dari Nabi, sedangkan Nabi dalam hal ini berkedudukan sebagai hakim atau penguasa.

Khulu’ sebagai salah satu bentuk putusnya perkawinan tidak diatur sama sekali dalam UU perkawinan. Namun KHI ada mengaturnya dalam dua tempat, yaitu pasal 1 ayat 1 dan pasal 124 yang bunyinya:

Pasal 1: Khulu’ adalah perceraian yang terdiri atas permintaan istri dengan memberikan tebusan dan atau iwadh kepada dan atas persetujuan suaminya.

Pasal 124: khulu’ harus berdasarkan atas alasan perceraian sesuai ketentuan pasal 116.[16]

2.     Permasalahan dalam Ruju’

Perselisihan antara suami istri dalam rujuk dapat terjadi dalam berakhirnya masa iddah, seperti suami mengatakan dia telah merujuk istrinya dan istri menjawab bahwa iddahnya telah habis waktu suaminya mengucapkan ruju’. Atau berselisih tentang terjadinya ruju’ itu sendiri, baik dengan ucapan atau perbuatan, umpamanya ucapan suami: “saya telah merujukimu kemarin”, istri membantah telah terjadi ruju’.

Bila suami mendakwahkan bahwa dia telah melakukan ruju’, sedangkan istri berkata bahwa iddahnya sudah habis sewaktu suami mengucapkan ruju’ itu, maka yang dibenarkan adalah ucapan istri selama yang demikian memungkinkan. Dasr pendapat ini adalah firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) ayat 228:

4 Ÿwur ‘@Ïts† £`çlm; br& z`ôJçFõ3tƒ $tB t,n=y{ ª!$# þ’Îû £`ÎgÏB%tnö‘r& bÎ) £`ä. £`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 £`åkçJs9qãèç/ur ‘,ymr& £`ÏdÏjŠtÎ/ ’Îû y7Ï9ºsŒ ÷bÎ) (#ÿrߊ#u‘r& $[s»n=ô¹Î)

Artinya: “Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu,  jika mereka (para suami) menghendaki ishlah atau damai.”

 

Dalam ayat tersebut Allah melarang istri menyembunyikan iddahnya. Kalau seandainya perkataan istri tidak dibenarkan, maka tidak halangnya untuk menyembunyikan iddahnya itu.[17]

Bila perselisihan terjadi dalam pelaksanaan ucapan ruju’, seperti suami mengatakan bahwa dia telah merujuk istrinya kemarin dan istri membantahnya, maka yang dibenarkan adalah ucapan suami. Alasannya ialah bahwa suami mempunyai hak untuk ruju’ dan dengan sendirinya juga punya hak untuk mengikrarkan ruju’ kapan dia mau. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama, diantaranya al-Syafi’i, Imam Ahmad, dan Hanafiyah. Namun bila suami berkata sehabis berakhir masa iddah istri: “saya telah merujukmu dalam iddahmu”, sedangkan istri membantahnya, maka yang dibenarkan adalah istri menurut kesepakatan ulama. Alasannya ialah bahwa suami mendakwakan terjadinyaruuju’ itu pada waktu yang dia tidak milikinya. Menurut asalnya tidak terjadi ruju’, kecuali bila ada bukti yang kuat.

Adanya perselisihan dalam ruju’ ini terutama berkenaan dengan siapa yang dibenarkan diantara pendakwa dan yang menolaknya, maka perselisihan tentang ruju’ ini diselesaikan oleh pengadilan. Dari pasal 164 dan 165, yang berbunyi:

Pasal 164: seorang wanita dalam iddah talak raj’i berhak mengajukan keberatan atas kehendak ruju’ dan bekas suaminya dihadapan pegawai Pencatat Nikah disaksikan dua orang saksi.

Pasal 165: ruju’ yang dilakukan tanpa persetujuan bekas istri dapat dinyatakan tidak sah dengan putusan pengadilan agama.

Diantara pasal-pasal yang mengatur ruju’ dari pasal 164 dan Pasal 165 memang tidak sejalan dengan aturan fiqh, karena ruju’ dalam pandangan fiqh tidak memerlukan persetuujuan dari phak istri dengan alasan, bahwa yang demikian adalah hak mutlak seorang suami yang dapat digunakan tanpa sepengetahuan orang lain, termasuk istri yang akan dirujukinya itu.[18]

  1. IV.   ANALISA

Pada dasarnya perceraian itu adalah hal yang di bolehkan tetapi hal tersebut adalah hal yang dibenci olah Allah SWT. Maka dari itu , sebisa mungkin manusia menghindari perceraian tersebut. Tetapi apbaila sudan terlanjur bercerai, maka haruslah kita berpikirkembali tentang apa yang sudah diputuskan karena suami mempunyai hak, yaitu hak merujuk kepada istri yang sudah terlanjur di ceraikan. Istilah “Rujuk” bayak sekali kita dengar atau kita ketahui, baik melalui televisi maupun secara langsung atau juga pengalaman orang tentang istilah tersebut.

Allah telah menciptakan lelaki dan perempuan agar dapat berhubungan satu sama lain, saling mencintai, menghasilkan keturunan, dan hidup berdampingan secara damai dan sejahtera sesuai dengan perintah Allah  dan petunjuk Rosulullah. Al-Quran surah Ar-Rum ayat 21, Allah berfirman:

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur

 Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ

Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar dapat hidup damai bersamanya, dan dijadikan rasa kasih sayang  di antaramu.  Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.”

Membujang dalam Islam tidak dianggap perilaku yang baik, atau cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah seperti yang dilakukan dalam agama lain. Maka untuk memperoleh kehormatan dan mencapai kesempurnaan iman seseorang, salah satu caranya adalah dengan menikah sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi SAW.

النكا ح من سنتى فمن رغب عن سنتى فليس مني

Menikah adalah sunahku, maka orang yang membenci sunahku, bukan dari golonganku.”

 

Dengan melihat tujuan dari pada suatu pernikahan maka syariah memberikan tata cara dalam menjaga suatu pernikahan agar dalam menjalankan hubungan rumah tangga dapat terhindar dari suatu perpisahan yang menjadikan hubungan suami istri berpisah. Dengan adanya aturan-aturan yang ditetapkan syara’, seperti halnya masalah ruju’. Disini Allah memberi kesempatan bagi orang mukmin jika telah mentalak istrinya dianjurkan untuk merujuknya kembali sebelum habis masa iddahnya, dan pada waktu iddah tersebut seorang suami hendaklah memikirkan hal positif dan negatifnya jika ingin melakukan ruju’ atau tidak. Begitu juga masalah khulu’ seorang istri diperbolehkan meminta kepada suaminya untuk mentalaknya dengan adanya syarat-syarat yang dibolehkan seorang istri menggugat kepada suami. Gugat cerai dari pihak istri dengan menebus dirinya dari suaminya disebut khuluk. Khuluk bertujuan untuk menyelesaikan masalah antara suami istri dan mencari solusi ke depan lebih baik bagi kehidupan mereka dan keluarga. Khulu’ boleh diajukan seorang istri  kepada suami jika memang  dalam rumah tangganya seorang istri selalu disakiti ataupun yang lain, seandainya rumah tangga itu diteruskan maka akan berdampak negatif bagi istri, atau salah satu pihak.

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa khulu’ adalah talak. Pendapat ini dikemukakan pula oleh Malik. Abu hanifah menyamakan khulu’ dengan talak dan fasakh secara bersamaan. Sedang Syafi’I berpendapat bahwa khulu’ adalah fasakh. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ahmad dan Dawud, dan sahabat yang berpendapat demikian adalah Ibn Abbas r.a.

Diriwayatkan dari Syafi’I bahwa khulu’ itu kata-kata sindiran. Jadi, jika dengan kata-kata sindiran tersebut menghendaki talak, maka talak pun terjadi, dan jika tidak maka fasakh. Tetapidalam pendapat barunya (al-qaul al-jadid ) ia menyatakan bahwa khulu’ itu talak.Kegunaan pemisahan tersebut untuk mengetahui apakah khulu’ dihitung dalam bilangan talak atau tidak?. Jumhur fuqaha yang menganggap khulu’ itu talak, menjadikannya sebagai bain

Demikian itu karena apabila suami dapat merujuk istrinya pada masa iddah, maka penebusannya itu tidak berarti lagi. abu Tsaur berpendapat bahwa apabila khulu’ tidak menggunakan kata-kata talak, maka suami tidak dapat merujuk istrinya. Sedang apabila khulu’tersebut menggunakan kata-kata talak, maka suami dapat merujuk istrinya.

Fuqaha yang menganggap khulu’ sebagai talak mengemukakan alasan, bahwa fasakh itu tidak lain merupakan perkara yang menjadikan suami sebagai pihak yang kuat dalam pemutusan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Idris. Fiqh Syafi’i, Jakarta: Wijaya Jakarta. 1969

Al-Bajuri,Syaikh Ibrahim. Al-Bajuri ‘Ali Ibnu Qasim al-Ghizi. juz 2

Khon, Abdul Madjid. Fiqh Munakahat. Jakarta: Amzah. 2009

Syarifudin, Abdul Rahman. Fikh Munakahat. Jakarta: Kencana. 2008

Syarifudin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana.  2009

Uwaidah, Syaikh Kamil  Muhammad, Al-Jami’i Fii Fiqhi An-Nisa’, Bairut: Darul     Kutub. 1996

Zuhaili,Wahbah. Al-Fiqhu Al-Islamiyyu wa Adillatuhu. juz 7. Damsyiq: Daarul Fikri. 2008

 


[1] Abdul Madjid Khon, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 297

[2] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm.231

[3] Abdul Rahman Ghozali, Fikh Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 285-286

[4] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm.232

[5] Syaikh Kamil  Muhammad ‘Uwaidah , Al-Jami’i Fii Fiqhi An-Nisa’,(Bairut: Darul Kutub,1996),hlm. 443

[6] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm.232-233

[7] Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Al-Bajuri ‘Ali Ibnu Qasim al-Ghizi, jus 2, hlm.135

[8] Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Al-Bajuri ‘Ali Ibnu Qasim al-Ghizi, jus 2, hlm.137

[9] Wahbah Zuhaili, Al-Fiqhu Al-Islamiyyu wa Adillatuhu, juz 7, (Damsyiq: Daarul Fikri, 2008), hlm. 482

              [10] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm.339

[11] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm. 234-235

[12]   Idris Ahmad, Fiqh Syafi’i,( Jakarta; Wijaya Jakarta, 1969), hlm. 255

[13]  Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm 234

[14]  Abdul Rahman Ghozali, Fikh Munakahat, hlm. 226-227

[15] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm 240

[16] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, hlm. 238-241

[17] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,  hlm. 344-345

[18] Amir Syarifudin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,  hlm. 246-247

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s